Warga Kenanga Desak PT BAA Ikuti Perjanjian

  • Whatsapp

Protes Bau Busuk- Spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Kelurahan Terbusuk se-Babel” dipasang warga dipinggir warga di jalan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Desember lalu. Spanduk dibuat sebagai bentuk protes aktivitas PT BAA yang menimbulkan bau busuk di lingkungan warga setempat. (foto: Riski Yuliandri)

SUNGAILIAT – Warga Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendesak manajemen pabrik tapioka PT Bangka Asindo Agri (PT BAA) untuk mengikuti aturan dan perjanjian yang telah dibuat. Salah satunya menghentikan segala aktivitas sampai ada keputusan dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Hal tersebut dituangkan warga dengan memasang spanduk besar di depan Masjid Kelurahan kenanga dan RT 8 yang berisikan foto surat perjanjian antara pihak perusahaan dengan warga yang ditandatangani juga oleh pimpinan daerah. Spanduk itu dipasang, lantaran saat ini pihak PT BAA masih berproduksi dengan membeli ubi atau singkong secara diam-diam dan bau busuk yang menjadi keluhan warga sejak awal, masih belum teratasi.

Yuniotman Sefendi, warga Kenanga mengaku kecewa dengan PT BAA sudah melanggar perjanjian yang dibuat 8 Desember 2019 lalu dan 17 Maret 2020.

“Dalam perjanjian itu mereka bersedia menghentikan kegiatan produksi sementara, tapi nyatanya saat ini masih beroperasi juga. Memang kucing-kucingan kadang siang, sore tapi lebih banyak malam,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (2/4/2020).

Baca Lainnya

Bahkan saat pemaparan dari Universitas Pasundan (Unpas) beberapa waktu lalu, perusahaan juga mengatakan masih ada bau dan kesalahan dalam pengelolaan limbahnya. “Secara umum hasil penelitian dari Unpas memang masih ada bau, karena saya juga hadir saat pemaparan dan kemarin juga sekitar jam tujuh pagi malah lebih pekat,” jelas Yuniotman.

Ia meminta agar pihak perusahaan untuk bisa saling menghargai dengan menjaga amanah dalam perjanjian yang dibuat dan ditandatangani tersebut. “Kita minta sama-sama saling menghargai. Masyarakat menghargai pemerintah dan pabrik yang sudah terlanjur berdiri, tapi pabrik juga harus menghargai kesepakatan sebelumnya,” harapnya.

Yuniotman meminta aparat penegak hukum dan pemda untuk menindaklanjuti PT BAA yang sudah melanggar perjanjian bersama. Karena dalam perjanjian tersebut juga dihadiri dan ditandatangani oleh Bupati Bangka, DPRD, Danramil Sungailiat, hingga Polres Bangka.

“Perjanjian ini dinyatakan langsung oleh Fidrianto selaku pemilik atau pimpinan PT BAA, ditandatangani diatas materai enam ribu dan diketahui dan disetujui oleh Bupati Bangka, Danramil, Wakil Ketua DPRD, Kapolres serta Kasi Datun Kejari Bangka,” tegasnya.

Yuniot sapaannya, mengaku masyarakat tidak mempermasalahkan berapa banyak jumlah produksi perusahaan tersebut, asalkan tuntutan warga terkait bau limbah dapat stop selamanya. “Silahkan mau produksi sebanyak-banyaknya atau bangun pabrik 100 lantai juga tapi baunya tidak ada,” tutupnya.

Sementara itu, Pimpinan PT BAA, Fidrianto atau yang biasa disapa Abu sampai saat ini belum memberikan keterangan terkait tuntutan warga Kenanga tersebut, meskipun sudah diupayakan untuk dikonfirmasi oleh wartawan harian ini. (mla/1)

Related posts