Transformasi dan Tantangan PR di Era “The New Normal”

  • Whatsapp
Surianto, S.Sos
Anggota Iprahumas Indonesia

Pada masa pandemi Covid-19, masyarakat terbiasa hidup bersih. Perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih baik dalam menjaga kebersihan diri seperti rajin mencuci tangan dan mandi setelah bepergian, mengurangi kontak fisik serta aktivitas banyak dilakukan secara online dari rumah.

Perubahan perilaku ini, terjadi sejak Covid-19 dinyatakan pandemi oleh World Health Organization (WHO). Di Indonesia, pemerintah juga menerapkan Work From Home (WFH) bagi pekerja dan masyarakat.

Pandemi Covid-19 mengharuskan masyarakat berdaptasi. Banyak kebiasaan baru yang muncul dan kita jalani, pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang normal, atau disebut dengan new normal.

New normal merupakan suatu keadaan atau situasi akan kembali normal. Situasi baru ini yang akan terjadi kedepannya. Karena ini merupakan sesuatu yang harus dijalani dan dilakukan oleh setiap orang. Artinya, ini sebagai suatu kondisi yang harus dijalankan oleh publik menghadapi situasi pandemi Covid-19 dengan sebuah prilaku atau tata cara kehidupan yang mesti dilakukan sampai pandemi Covid-19 ini ditemukan obat atau pencegahan secara medisnya.

Baca Lainnya

Terciptanya new normal selama dan pasca pandemi Covid-19 saat ini, sebagai bentuk perubahan perilaku lama ke perilaku baru masyarakat. Hal ini, berarti suatu hari akan kembali ke situasi normal, atau dalam artian kembali ke sekolah, bekerja, berjualan dan aktivitas lainnya, namun tetap harus menjaga protokol kesehatan. Begitu juga dengan seseorang yang berprofesi sebagai PR (Public Relation) atau humas.

Sebagai mana kita ketahui, bahwa selama masa pandemi Covid-19, banyak aktivitas dilakukan di rumah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kantar baru-baru ini, bahwa terjadi 70% peningkatan di web browser dan peningkatan 61% penggunaan media sosial sejak pandemi Covid-19. Aktivitas publik secara online meningkat selama pandemi Covid-19, baik itu untuk sekadar browsing, menjalin komunikasi, silaturahim dan bermain di media sosial. Artinya, publik lebih aktif pada digital daripada sebelumnya. Ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi PR.

Melihat data tersebut, PR atau humas dituntut untuk bertransformasi dan merubah pola kerja. PR dituntut untuk bisa berdaptasi dengan dengan kehidupan baru atau New Normal ini, dan mampu memahami perilaku komunikasi masyarakat baru. Sehingga PR lebih banyak bekerja secara online dibandingkan dengan sebelumnya.

Di tengah pandemi, peran PR sangatlah krusial dan kritikal. Mereka harus membangun public trust dan reputasi instansinya. PR harus mampu membangun trust bersama dengan menjalankan komunikasi yang baik dan terus membangun empati. Hal ini dilakukan agar citra instansi terus terjaga dengan baik.

Melihat kondisi seperti ini, PR harus membiasakan diri untuk tetap bisa produktif dan menyesuaikan diri. PR tidak boleh hanya terjebak dalam aktivitas mengunggah, menarik follower dan menjadi pencinta like. Namun ada hal yang lebih penting dan bisa dilakukan. PR harus semakin aktif dalam menjalankan komunikasinya, membuat narasi yang konstruktif, positif serta inspiratif. Hal ini dilakukan agar publik mendapatkan manfaat dari konten tersebut dan dapat menjadi tenang dalam menjalankan kehidupan new normal.

Di tengah melubernya informasi, PR juga memiliki peran penting untuk mengatasi hoaks dan fakenews. PR harus mampu memilah dan memilih informasi yang tepat dan tentunya didukung dengan data. PR harus terlibat semakin aktif dalam mengedukasi masyarakat agar informasi layak konsumsi lah yang patut untuk disebarluaskan. Selain itu, salah satu hal yang harus dilakukan PR yakni memberikan informasi kepada publik terkait kinerja instansinya.
Selain berperan membangun komunikasi ke luar, ada fungsi komunikasi ke dalam. Mereka harus memberikan masukan serta mengudukasi pihak internal agar bisa menjadi agen PR di lapangan dalam mengkomunikasikan program instansinya.

Tantangan lain bagi PR, yakni PR harus mampu bersinergi dan mampu berkolaborasi dengan rekan-rekan komunikasi lainnya dalam menghadapi New Normal ini. PR sebagai sesuatu yang merepresentasi suatu instansi harus selektif dan memahami peta media. PR harus memetakan platform yang digunakan masyarakat, sehingga informasi yang akan disampaikan bisa tepat sasaran. PR harus memaksimalkan pemanfaatan jaringan komunikasi yang akan digunakan serta mulai aktif melalukan kampaye di dunia digital atau online.

PR juga harus beradaptasi dengan sistem kerja yang lebih fleksibel, selalu menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitas seperti jaga jarak, pemakaian masker dan cuci tangan untuk mencegah penularan virus selama bekerja. Selain itu, PR juga harus menyiapkan sarana dan prasarana yang mememuhi standar protokol kesehatan agar memberikan kenyaman kepada peserta yang hadir saat melakukan event dan konferensi pers.

Di new normal atau normal baru, PR juga harus mengkonversi segala bentuk komunikasi menjadi going digital, live streaming semakin common dalam menyampaikan informasi, rapat lewat video conference serta akan lebih banyak virtual event yang dilakukan. Ayo kita Komunikasikan Informasi yang positif dan inspiratif.(***).

Related posts