Tetap Kreatif di Masa Sulit

  • Whatsapp
Afrida Yeni Silalahi, S.Pd
Pendidik di SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat, Babel

Bagi Indonesia, Pandemi Covid-19 merupakan masa paling sulit dan getir yang dihadapi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan data terkini, terdapat 2.091 pasien meninggal dan 1.014 pasien positif terinfeksi virus Covid-19. Masa yang begitu sulit bagi seluruh warga Indonesia dimana tak hanya pasien yang harus di karantina demi perawatan dan kesembuhan, tapi seluruh lapisan masyarakat harus mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap berada di rumah. Melakukan aktivitas sehari-hari di rumah saja, mulai dari orang tua yang bekerja di rumah, anak-anak yang belajar di rumah, bahkan beribadah pun sedapat mungkin dilakukan di rumah saja. Memasuki pertengahan bulan ke-empat masa pandemi ini, antara bahagia dan takut, pemerintah telah berangsur melakukan pelonggaran untuk kembali melakukan aktivitas di luar rumah. Istilah yang akrab disebut  New Normal, terdengar menarik untuk dilakukan, namun sebenarnya cukup memberi perasaan berdebar-debar karena melihat resiko yang cukup tinggi untuk dilakukan sekarang-sekarang ini.

Penulis yang masih tetap melakukan aktivitas sebagai pendidik di salah satu sekolah vokasi di Bangka Barat merasa sedikit takut, karena harus bekerja sedikitnya tiga kali dalam satu minggu. Jarak rumah ke sekolah yang cukup jauh mengharuskan penulis menggunakan kendaraan umum. Protokol pencegahan Covid-19 seperti penggunaan masker, mengatur jarak duduk dan selalu menyediakan hand sanitizer di dalam saku merupakan hal-hal yang tentu saja wajib penulis lakukan selama beraktivitas di luar rumah. Sekalipun terdapat dua atau tiga kali dalam seminggu berada di sekolah, tetap, durasi aktivitas di rumah mendominasi dalam seminggu. Tingginya volume bekerja di rumah membawa penulis harus memaksa diri untuk tidak menjadi malas dalam bekerja dan menghasilkan sesuatu yang baru.

Situasi yang sulit ini, tentu bukan sesuatu yang tidak ada artinya. Bukan bencana yang terjadi begitu saja tanpa ada hikmah dibaliknya. Respon setiap orang dalam menghadapi masa-masa sulit ini, sangatlah penting untuk diperhatikan. Peka terhadap keadaan sesama, peduli pada keselamatan orang lain, tidak acuh tak acuh terhadap setiap imbauan pemerintah, membantu yang lemah karena harus kehilangan mata pencaharian, menjaga kebersihan, semakin dekat dan lekat kepada Sang Pencipta, bahkan menghargai setiap pengorbanan tenaga kesehatan yang ada di garda depan harusnya menjadi sederet respon positif yang harus direnungkan serta lakukan.

Menjadi kreatif, mungkin itu satu-satunya ungkapan yang pas untuk dilakukan oleh setiap orang pada masa krisis ini. Benar, sekarang adalah saat dimana beras dan kebutuhan dapur begitu mahal untuk dipenuhi. Namun, situasi yang sulit ini, hendaknya tidak menjadi tali yang mencekik kreativitas setiap orang selama bekerja di rumah. Kreatif dalam Bahasa Inggris disebut to create mengandung arti menciptakan sesuatu yang baru. Dengan kata lain, kreatif berarti mampu menciptakan hal-hal baru. Penggabungan antara pengetahuan dan kepandaian akan menghasilkan kreativitas yang bermakna.

Baca Lainnya

Sebagai pendidik, yang notabene mengajar para remaja usia 15-17 tahun tentunya menghadapi banyak rintangan dalam mengajar sekaligus mendidik mereka tanpa tatap muka secara langsung. Berbagai cara harus dilakukan untuk menggali potensi diri sebagai pendidik. Mengikuti banyak pelatihan online tentang bagaimana mengajar dan mendidik di masa sulit ini, menjadi aktivitas bermakna bagi penulis. Pelatihan-pelatihan tersebut menjadi sumber inspirasi bagi penulis, sehingga menghasilkan hal-hal baru yang bahkan sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh penulis. Sebagai contoh, mengajar dengan menggunakan software screen recording merupakan hal yang tak biasa disentuh oleh penulis, namun pada akhirnya, penulis pun menjabaninya sebagai salah satu alat dan media pembelajaran jarak jauh.

Kreativitas kedua yang dialami penulis dalam masa sulit ini, ialah belajar bagaimana menuangkan isi pikiran ataupun ide-ide terkait pembelajaran dalam sebuah tulisan. Ya, belajar menulis artikel menjadi sesuatu yang baru yang penulis lakukan belakangan ini. Ketiga, ide ini, yang paling banyak didapatkan oleh seluruh emak-emak milenial. Memasak, menjadi hobi dan kesukaan baru bagi ibu-ibu di masa Covid-19 ini. Tak hanya ibu rumah tangga, tetapi juga ibu-ibu yang berkarir di dunia kerja. Mulai dari lempah kuning khas Bangka hingga klappertaart menjadi incaran menu masak coba-coba ala emak-emak. Tentunya hobi baru ini, bila dikerjakan dengan serius, maka akan menghasilkan kreativitas. Keempat, yaitu penghasilan usaha rumahan. Wah, kalau sudah bicara usaha, siapa yang tidak tergiur dengan rupiah yang dihasilkan, apalagi rupiah itu berasal dari bakat terpendam yang baru berhasil di eksplor pada tahun 2020. Hehehe.. Kelima, dengan timbulnya keinginan untuk memiliki usaha rumahan, maka sudah pasti terlintas dalam pikiran untuk mempromosikan produk melalui teknologi yang begitu canggih yang tersedia saat ini. Anak-anak yang melek teknologi bahkan akan menjadi partner terbaik bagi orang tua dalam hal ini. menarik bukan?

Setiap orang harus menyadari bahwa justru di tengah segala keterbatasan pasti timbul ide. Bahkan dalam diam pun, seharusnya seseorang baiknya sedang mencari ide-ide cemerlang. Akhir kata, mari tidak menyerah dengan keadaan yang di depan mata. Jika yang kita lihat adalah hal-hal sulit, maka berdirilah tegap dan lakukan sesuatu. Kabar baiknya adalah ide timbul justru dalam masa sulit. Kreativitas tersedia di tengah segala keterbatasan. Mari tetap kreatif di masa sulit ini. Temukan potensi diri masing-masing menuju New Normal ini. “Situasi boleh sulit namun respon untuk menjadi kreatif tidak boleh berhenti”. (***).

 

Related posts