Sudah Ada 52 Kasus Corona di Babel

  • Whatsapp
Gubernur Babel, Erzaldi Rosman, bersama Kapolda Babel, Brigjen pol Anang Syarif Hidayat, meninjau sistem pencegahan Covid 19 di pelabuhan Pangkalbalam. (Nurul Kurniasih)

PANGKALPINANG – Ditengah upaya Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melakukan pencegahan terhadap penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) di daerahnya, ternyata sudah 52 kasus ditemukan.

Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Babel, Mikron Antariksa menyebutkan, hingga malam tadi Kamis (19/3/2020) pukul 21.00 Wib, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Provinsi Babel sebanyak 42 orang, dan 10 orang Pasien Dalam Pemantauan (PDP), sehingga total ada 52 kasus.

Read More

“Dari 52 orang ini, 13 masih dalam proses pemeriksaan, dan 3 hasilnya negatif,” katanya kepada wartawan.
Jumlah ini, menurutnya paling banyak di Kota Pangkalpinang, dimana yang dipantau ODP sebanyak 20 orang, dan 3 PDP. Meski 1 diantaranya sudah keluar dengan hasil negatif, namun 2 lainnya masih dalam proses pemeriksaan, sehingga total di Pangkalpinang terdata 23 orang.

Kasus terbanyak kedua, berada di Kabupaten Belitung. Terdata oleh tim gugus sebanyak 12 ODP, 5 PDP, dengan 10 orang yang masih dalam proses pemeriksaan hasil lab. Dari total 17 kasus itu, sementara belum ada hasil positif atau negatif dari pasien yang sampel swab-nya sedang dalam pemeriksaan.

Untuk di Kabupaten Bangka Selatan, terdata sebanyak 2 ODP dan 1 PDP, dengan jumlah 3 orang, dan 1 hasilnya negatif. Sedangkan di Bangka Barat, terpantau 1 ODP, demikian juga di Bangka Tengah 1 ODP.

“Sementara di Kabupaten Bangka, terdapat 5 ODP, 1 PDP, dan hasilnya negatif, total ada 6. Untuk di Belitung Timur, 1 ODP dengan hasil negatif,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Dinkes Pemprov Kepulauan Babel, Mulyono menegaskan, pasien suspect Corona, bukan berarti sudah terinfeksi virus corona. Pasien ini, belum dinyatakan negatif atau positif, karena masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap spesimen yang dikirim ke Balitbang Kemenkes RI.

Untuk menghindari kekeliruan pada masyarakat, istilah suspect ini, akhirnya tidak digunakan, melainkan menggunakan kata Pasien Dalam Pengawasan (PDP). “Kalau PDP itu pasiennya kita awasi perkembangannya,” kata Mulyono, beberapa waktu lalu.

Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) adalah orang yang dipantau perkembangan kesehatannya, setelah melakukan perjalanan ke daerah yang terjanggit Covid-19 maupun bersentuhan dengan pasien (PDP).

“Jika mengalami demam akan diminta menghubungi fasilitas kesehatan, dan puskesmas memegang data itu. Mereka ini mengantongi health alert card atau kartu kuning kesehatan, mereka tidak sakit, dan tidak harus di rumah sakit, dipantau saja bisa via telpon, karena ada kontak dengan wilayah yang terpapar, itu saja. Kalau selama 14 hari mereka ada demam, baru diminta ke faskes kesehatan, dan pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.

Mulyono menegaskan, orang dengan pemantauan ini berbeda dengan orang dalam pengawasan. Dan ia meminta, masyarakat tidak perlu panik. (nov/1)

Related posts