Strategi Pendidikan Menuju Era Normal Baru

  • Whatsapp
Meity Riskia, S.Pd.
Guru SMA Negeri 4 Kota Pangkalpinang, Babel

Kapan kembali sekolah? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat. Tahun ajaran baru bagi pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada bulan Juli 2020.

Terkait jumlah peserta didik, hingga 15 Juni 2020, terdapat 94% peserta didik yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dalam 429 kabupaten/kota, sehingga mereka harus tetap belajar dari rumah. Adapun peserta didik yang saat ini, berada di zona hijau hanya berkisar 6%. Proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten/kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis. Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.

Bahkan Tiongkok (China) dan Korea Selatan, yang telah memutuskan untuk kembali pada tatanan hidup baru (new normal), dimana fasilitas publik dan sekolah kembali dibuka, namun tetap mengikuti protokol kesehatan yang sangat baik, misalnya sebelum masuk kelas siswa menggunakan masker terbaru, pakaian (kemeja, celana, sepatu dan tas disemprot), suhu badan diperiksa, siswa duduk satu meja satu orang dengan jarak lebih dari satu meter, karena loncatan wabah yang terjadi di negara tersebut sangat signifikan, dalam hitungan tiga hari, sekolah tutup, dan diputuskan kembali belajar dari rumah.

Memperhatikan pandemi Covid-19 yang masih belum melandai, khususnya di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta kepada pemerintah agar tetap belajar dari rumah atau sekolah tetap ditutup. Lebih dari 91% populasi siswa di dunia ini, dipengaruhi oleh penutupan sekolah dampak pandemi covid-19 (UNESCO). Survei KPAI mengungkapkan bahwa 139 (17,5%) dari 800 orang anak di Indonesia terpapar corona, 80% orang tua siswa menghendaki tetap belajar dari rumah.

Baca Lainnya

Presiden RI Joko Widodo pun menyatakan, untuk tidak tergesa-gesa (grasa-grusu), melainkan penuh kehati-hatian menerapkan new normal di sektor pendidikan yang sangat berbeda dari sektor-sektor kehidupan lainnya. Sehubungan kondisi tersebut, penulis mencoba mengemukakan tiga strategi pendidikan menuju era normal baru, yakni sebagai berikut: Pertama, menjalankan komitmen melalui penguatan aktif untuk memberikan pemahaman dan mentaati semua protokol kesehatan, antara lain menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat serta hidup produktif dimanapun kita berada.

Kedua, melakukan empat hal: (1) memberikan pemahaman tentang protokol kesehatan melalui kegiatan sosialisasi, edukasi, dan simulasi secara efektif untuk memastikan protokol kesehatan tersebut dijalankan dengan baik. Untuk itu, pengawasan harus dijalankan secara baik dan sanksi harus diberikan kepada siapa saja yang melanggar peraturan yang berlaku; (2) jika pemerintah tetap menutup sekolah atau belajar dari rumah, sementara sistem pendidikan nasional tetap dapat memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan berkualitas, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan, dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua, maka solusinya adalah melalui Belajar Dari Rumah (BDR) melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Belajar Dari Rumah dilaksanakan memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik tanpa terbebani penuntasan kurikulum dan berfokus pada pendidikan kecakapan hidup, bervariasi antar daerah, satuan pendidikan dan peserta didik sesuai minat dan kondisi masing-masing, hasil belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna tanpa diharuskan memberi skor atau nilai kuantitatif serta mengedepankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antara guru dan orang tua; (3) perlawanan terhadap wabah Covid-19 memerlukan kesadaran kolektif semua pihak (stakeholder) pendidikan, yakni keluarga, sekolah atau pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, tiga komponen masyarakat tersebut harus berkolaborasi mempersiapkan pendidikan menuju normal baru.

Menurut penulis, skenario dan persiapan untuk kembali sudah dapat disiapkan mulai dari sekarang secara bertahap, meliputi sosialisasi, edukasi dan desiminasi. Banyak infrastruktur sekolah yang harus disesuaikan seperti jarak meja, pengadaan tempat cuci tangan dilengkapi sabun dan air mengalir, mengatur jam belajar, dan review kurikulum, tentu saja dilakukan secara bertahap berdasarkan kondisi daerah masing-masing dengan mempertimbangkan aspek epidemiologi, sistem kesehatan dan surveilans yang tidak sama di setiap daerah; (4) demi mengefektifkan belajar dari rumah perlu diberikan pembimbingan atau pendampingan kepada orang tua mengenai home schooling.

 

Ketiga, juga harus melakukan empat hal sebagai berikut:  (1) meskipun ada pihak yang mengatakan bahwa sekolah-sekolah yang berada di zona hijau dapat saja membuka sekolah, namun harus diperhitungkan secermat-cermatnya dan tetap selalu berdisiplin menjalankan protokol kesehatan, antara lain menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan tetap menjaga pola hidup sehat dan bersih (bersih lingkungan dan berolah raga atau senam pagi sebelum masuk kelas) secara lebih efektif sehingga efektivitas pelaksanaan protokol kesehatan di lingkungan pendidikan dapat dipastikan, karena menjaga keselamatan dan kesehatan siswa dari wabah Covid-19 adalah yang pertama dan utama; (2) menyediakan sarana pembelajaran yang menunjang efektivitas blended learning. Namun tidak cukup, kurang efektifnya belajar siswa, tidak semata-mata karena kurangnya infrastruktur dan jaringan, melainkan disebabkan oleh kurang kompetensi guru, terutama dalam pembelajaran daring, dan lebih parah lagi adalah budaya belajar peserta didik yang sangat lemah, faktanya kontrol belajar siswa ada pada orang lain; (3) selalu mengusahakan inovasi pembelajaran yang inovatif; dan (4) meningkatkan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pembelajaran efektif.

Di semua fase, semestinya kepala sekolah, guru dan orang tua harus saling menguatkan untuk berkolaborasi mewujudkan pendidikan yang lebih baik di era normal baru sesuai tugas dan fungsi masing-masing.(***)

Related posts