Sikap Terhadap Anak-anak Berkebutuhan Khusus

  • Whatsapp

 

Oleh: Maya Peziyanti

Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat, Bangka

 Autisme merupakan kata yang tak asing lagi di dengar oleh masyarakat, namun masih ada yang tidak mengetahui apa arti dari autis itu sendiri. Autisme atau autis merupakan salah satu gangguan perkembangan pada anak, dimana terjadi permasalahan pada interaksi sosial. Masalah komunikasi dan bermain imajinatif (bermain sendiri) anak yang seperti ini cenderung mencari teman yang bisa memahami kondisinya, dia akan kesal ketika ada teman yang tidak memahami kondisi tersebut, akibatnya si anak memilih untuk bermain sendiri. Kondisi seperti ini, mulai mucul sejak usia di bawah tiga tahun.

Baca Lainnya

Sebagian dari anak autis awalnya sama seperti anak normal biasanya, namun lama kelamaan mengalami kemunduran. Contoh, pada mulanya si anak mampu menyebutkan namanya sendiri, memanggil ayah, ibu meskipun belum jelas, namun seiring bertambah usia anak tersebut tidak bisa menyebutkannya, karena mengalami kemunduran (kehilangan kemampuan bicara, meski mereka mampu berbicara sebelumnya). Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dengan anak normal lainnya, yang bisa meilhat objek secara menyeluruh sedangkan autis mereka hanya memiliki pandangan yang hanya fokus pada satu titik (pandangan lurus kedepan).

Interaksi sosial dan komunikasi yang terjadi pada anak Autis yang penulis ketahui yakni tidak merespon ketika namanya dipanggil meskipun pendengarannya normal, memahami perintah yang diberikan, tetapi sesuai dengan kondisi si anak apakah anaknya mau atau tidak saat itu. Dia akan marah ketika tidak mau di kasih perintah atau (badmood), bahkan ada sebagian anak sampai tantrum, kembali lagi kita harus bisa memahami kondisi anak. Anak seperti ini memiliki sisi yang tidak terduga, meskipun memiliki keterbatasan, namun dapat membuat anak Autis hebat dalam beberapa hal yang mungkin sulit untuk kita lakukan, seperti menggambar, bermusik, dan menghafal rumus matematika. Begitu juga sebaliknya, aktivitas yang kita rasakan begitu mudah ternyata menjadi sangat sulit bagi mereka, seperti berteman. Ada juga yang memiliki sikap empati, ketika melihat temannya yang lagi bertengkar dia berdiri di tengah – tengah keduanya dan saling menarik tangan keduanya untuk berjabat tangan.

Pola perilaku anak Autis, ada sebagian dari mereka yang sensitif terhadap sentuhan, cahaya, debu dan lain-lain. Tidak semua anak Autis memiliki sifat yang sama, ada juga yang rutin menjalani aktivitas tertentu, dan marah jika ada perubahan,  memiliki kelainan pada sikap tubuh. Misalnya melompat – lompat, memutar – mutarkan jari, berjalan dengan berjinjit. Perilaku ini memang terlihat aneh dan tidak biasa, namun itu semua cara mereka untuk tetap tenang dan nyaman. Saat perilaku tersebut muncul, itu menandakan mereka sedang mengalami kesulitan. Hal yang perlu kita lakukan tidak menjadikan masalah itu menjadi lebih besar.

Menurut Childhood Autism Rating scale (CARS), Autism dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu (Mujiyanti, 2011): Pertama, Autis Ringan. Pada kondisi ini anak autisme masih menunjukkan adanya kontak mata walaupun tidak berlangsung lama. Anak autisme dapat memberi respon pada saat dipanggil namanya meskipun sedikit. Bisa menunjukkan ekspresi-ekspresi dalam berkomunikasi dua arah walaupun terjadinya hanya sesekali. Kedua, Autis Sedang. Pada kondisi ini anak autisme masih terlihat sedikit melakukan kontak mata tetapi tidak memberikan respon pada saat dipanggil namanya. Perbuatan agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh dan gangguan motorik yang stereopik cenderung agak sulit untuk dikendalikan tetapi masih dapat untuk dikendalikan .

Keempat, Autis Berat. Pada kondisi ini terlihat tindakan-tindakan yang sangat tidak bisa dikendalikan. Seringkali anak autis memukul – mukulkan kepalanya pada tembok dengan berulang dan terus-menerus tanpa berhenti. Pada saat orang tua berusaha mencegah tetapi anak tidak menunjukkan respon dan tetap melakukannya, bahkan dalam kondisi berada di pelukan orang tuanya, anak autisme tetap memukul – mukulkan kepalanya. Anak baru berhenti setelah merasa kelelahan kemudian langsung tertidur.

Sampai sekarang belum diketahui penyebab dari Autis itu sendiri masih banyak pro dan kontra terhadap masalah ini, ada yang bilang dari faktor genetik, ada juga faktor lingkungan, sebagian ahli berpendapat bahwa autis ini bersifat genetic, dan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk mencari gen apa yang dapat menyebabkan autisme.

Anak Autis bukanlah penyakit dan tidak bisa disembuhkan, tetapi ada penanganan yang bisa dilakukan kepada anak Autis dengan cara terapi khusus yang mendukung perkembangan mereka dan mengajarkan kemandirian yang dilakukan dalam keidupan sehari – hari, seperti makan, minum, mandi, menggunakan pakaian dan lain-lain, agar bisa membina diri sendiri, sehingga tidak terus bergantung kepada orang lain. Terapi khusus yang bisa diberikan yakni terapi perilaku, terapi komunikasi, terapi sosial skill, terapi sensori integrasi, terapi pendidikan khusus.

Untuk mendukung pendidikan mereka sudah ada sekolah – sekolah inklusi (SLBN) dan ada juga sekolah umum, yang memiliki fasilitas untuk anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka bisa belajar dan bermain bersama. Pada umumnya mereka sama seperti anak normal lainnya, hanya saja keterlambatan perkembangan mereka yang membedakannya. Namun banyak yang mengira anak Autis itu mengganggu dan tidak harus ditemani, mereka tidak mengganggu hanya cara bermain mereka yang sedikit berbeda. Untuk kita yang mengetahui kondisi anak berkebutuhan khusus lainnya, sikap kita terhadap anak-anak tersebut (anak berkebutuhan khusus) adalah tidak perlu dijauhi, dan cobalah untuk dekati dan pahami mereka. Karena mereka membutuhkan kita, mereka layak mendapatkan perlakuan khusus yang mampu membantunya ke masa depan yang cerah. (***)

Related posts