Sikap Kita Saat Pandemi Menurut Filsafat Stoa

  • Whatsapp
Mohammad Rahmadhani
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum UIN Bandung

Tidak banyak yang mengenal filsafat Stoa. Benar Penulis katakan, sebab filsafat ini tidak diajarkan pada matakuliah di kalangan mahasiswa semester pertama, mungkin hanya beberapa jurusan saja seperti jurusan psikologi yang merujukkan referensinya pada filsafat ini, itupun hanya sebatas rujukan materi bukan mata kuliah wajib. Bukan berarti pemahaman filsafat ini banyak dipertentang orang, sekali lagi bukan itu alasannya. Tapi, terbatasnya kesadaran literasi Indonesia. Padahal kandungan pemahaman didalamnya cukup mencerahkan akal pikiran kita bagaimana cara berpikir sebelum bertindak.

Setelah membaca secercah maknanya, ada semacam pendewasaan berpikir dalam akal kita yakni terkait bagaimana seharusnya kita berpikir, bertindak dan menyikapi sesuatu, yang kemudian penulis kaitkan dengan sikap kita beradaptasi dengan situasi pandemi seperti ini. Sekali lagi, filsafat ini sangat memuliakan solusi ketimbang menyesali kesalahan berlebihan. Mungkin juga sebetulnya, literasi semacam ini lebih pantas disampaikan oleh psikiater, tetapi tak apa selama untuk kebaikan dan khazanah keilmuwan, siapapun diperbolehkan, penulis rasa.

Perlu digaris bawahi, filsafat ini sangat berdasarkan pada akal manusia, tapi tidak bisa dipisahkan dengan alam. Akal dan alam merupakan dua dimensi yang saling mempengaruhi dan akal harus mengharmonikan alam. Contohnya kita dilarang membuang sampah, efeknya 100 tahun ke depan bumi akan sulit menumbuhkan jejenis pohon, terlebih sampah non – organik.

Garis besarnya adalah hidup saat – saat pandemi, kita selaku manusia berakal sehat selalu dituntut untuk berpikir rasional, karena kita perlu ketenangan. Menurut filsafat stoa, ketenangan itu berbeda dengan kenikmatan. Kalau kenikmatan identik dengan kesenangan uang, seks, makanan, minuman posisi jabatan tertinggi dan kekuasaan. Tetapi, ketenangan bagi Stoa adalah inherens dengan kebahagian (peace of mind). Filsafat stoa menekankan bahwa suatu kebahagian diupayakan lewat latihan sehari – hari.

Baca Lainnya

Diperkuat teori korporalitas, segala sesuatu, atau kecanggihan pelurusan bahasa, tidak akan berguna bila tidak dilatihkan. Aksesis (exercise) tujuannya adalah untuk membebaskan jiwa dari penyakit jiwa yaitu emosi negatif sebuah error of reasoing. Penekanannya ialah kalimat “latihan sehari – sehari”. Kalimat ini, menjadi kritikan bagi kita. Memang, belum ada negara yang berpangalaman mengelola virus seperti ini, sekaligus cara menghadapinya, sehingga menyebabkan kematian.

Tapi, menurut penulis di dalam diri manusia terdapat impuls atau hasrat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Hasrat itu sendiri dorongan untuk meraih tertentu di dalamnya mengandung aktivitas representasi terhadap objek yang dihasrati, dan representasi itu mau tidak mau sudah memuat persetujuan rasio terhadap value judgement.

Kita perlu melatihkan mental kita ketika dalam berhadapan dengan situasi apapun termasuk situasi pandemi seperti ini. Mungkin saja pandemi ini berbuah pengalaman, secara tidak langsung memberikan pelajaran bahwa untuk betul – betul siap kita latihan dan latihan, berulang – berulang juga tentunya. Orang bijak bilang “repeatation is mother of skill” artinya pengulangan adalah ibunya keahlian.

Pelajaran berharganya ialah melatihkan diri untuk tetap bertahan dalam situasi sulit sekalipun.

Pasrah pada Keadaan?

Dengan dikotomi kendali seperti di atas, apakah stoisisme mengajarkan kita untuk pasrah pada keadaan? Sama sekali tidak. Di semua situasi, bahkan saat kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi.

Analogi yang menarik dalam literatur stoisme yang menjelaskan tentang kemerdekaan di dalam situasi yang tidak bisa kita kendalikan. Bayangkan seekor anjing yang terkait lehernya ke sebuah gerobak. Saat gerobak bergerak, anjing ini punya pilihan: Pertama, dia bisa ngotot pergi berlawanan arah dengan si gerobak, yang hasilnya adalah lelah, karena dia tidak mungkin bisa menang melawan gerobak itu, dan lehernya akan tercekik sampai tersengal – sengal. Pilihan kedua, dia bisa memilih untuk berjalan mengikuti arah dan kecepatan si gerobak tanpa tercekik. Bahkan dia masih bisa menikmati pemandangan dan bergenit ria dengan anjing lainnya. (Henry Manampiring, Filosofi Teras 50 : 2019)

Ketika anjing melawan di luar kendalinya, anjing ini hanya akan menderita tercekik, namun ketika fokus mengendalikan pada hal yang bisa dikendalikan yakni mengikuti gerobak maka anjing itu tetap merasa bahagia.

Analogi di atas menyamakan dengan kondisi kita saat ini. Kalaupun anjing terlalu kejam disamakan dengan manusia, pembaca bisa menggantikannya dengan kucing. Tapi, intinya bukan pada penamaan itu, tetap fokus kendali kita ketika dalam situasi sulit.
80 Persen, negara akan kalah melawan Coronavirus disease 2019 (Covid-19), tapi negara bisa fokus mengendalikannya sampai vaksin ditemukan. Fokus kendalinya ialah pada mematuhi protokol kesehatan, hidup sehat dan bersih dengan berlatih terus menerus.(***).

Related posts