Seteru Dua Saudara Berebut Tanah, Camat Saran Diselesaikan secara Kekeluargaan

  • Whatsapp
Inilah tanah yang diperebut dua bersaudara.(Foto: Bastiar).

TANJUNGPANDAN – perseteruan dua keluarga bersaudara memperebutkan sebidang tanah warisan di kawasan wisata Tanjung Kelayang, Belitung, Bangka Belitung kian memanas.

Tidak lama setelah keluarga Kwet Bun memasang plank pemberitahuan “Sertifikat hak milik nomor : 00771, an. Tanri Susanto, sesuai putusan Mahkamah Agung No. 741 PK/ODT/2014 tangggal 13 Pebruari 2017. Beberapa hari kemudian giliran keluarga Mat Arif yang memasang plank di tempat yang sama.

“Perhatikan… Lahan/tanah ini, masih dalam persengketaan dengan pihak ahli waris/mewaris a/n. Mat Arif, Notaris, SK. Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia RI, tanggal 23 Oktober 2002. SK. Kepala Badan Pertanahan Nasional RI, tanggal 18 Desember 2006, nomor : 217- XVIII – 2006”.

Dua bersaudara itu, masing-masing mengklaim sebagai ahli waris tanah, meski tanah yang diklaim milik ahli waris Kwet Bun telah bersertifikat atas nama anaknya Tanri Susanto, tidak menyurutkan perjuangan kekuarga Mat Arif untuk mengambil tanah yang diklaim miliknya.

Baca Lainnya

Mirisnya, di Kantor Camat Sijuk tidak ditemukan arsip SKT no. 02/SKT/kC/XII/2008 yang dimiliki Kwet Bun. Hal yang sama juga terjadi di Kantor Desa Keciput. SKT itu diterbitkan pada masa kades Sukardi.

Namun, belakangan, kepemilikan tanah seluas 9.675 M2 di jalan raya Tanjung Kelayang, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk itu berubah dari Kewt Bun kepada anaknya, Tanri Susanto.

Diketahui, dua keluarga yang masih bersaudara tersebut, masing-masing mengaku sebagai ahli waris. Kasus ini, sudah bergulir di pengadilan hingga Mahkamah Agung. Hasilnya, MA menolak gugatan yang diajukan pihak keluarga Mat Arif.

Perseteruan dua keluarga ini, menjadi benang kusut setelah ada oknum tertentu yang ikut bermain. Dengan dalih dapat membantu pengurusan dokumen dan mencabut SKT yang dikeluarkan oleh kepala desa.

Mat Arif mangatakan, akan terus berjuang untuk mendapatkan keadilan. “Kami akan terus melakukan perlawanan,” kata Mat Arif, Senin (06/07/2020).

Sementara itu, Camat Sijuk, Febriansyah menyarankan agar kedua pihak yang bersengketa itu, diselesaikan secara kekeluargaan, meski sudah ada keputusan yang berkekuatan hukum. “Inikan masih saudara, selesaikan secara kekeluargaan,” saran Febriansyah.

Febriansyah menambahkan, keluarga Mat Arif pernah mengirimkan surat ke Kecamatan agar dapat mempertemukan pihak yang bersengketa. Tapi pada waktu pertemuan pihak Kwet Bun tidak hadir.

“Kami hanya dengar pendapat saja, tapi tidak bisa merubah keputusan yang sudah di proses hukum,” pungkas Febriansyah. (yan/3).

Related posts