Setelah #IndonesiaTerserah Kini Indonesia New Normal

  • Whatsapp
Abrillioga
Mahasiswa Hukum Universitas Bangka Belitung

Fenomena kemunculan Hastag (#) Tentang Indonesia Terserah ? belum lama ini sedang ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Tentunya, ini memunculkan opini publik dan ragam responsif dari seluruh kalangan masyarakat. Bahkan pengamatan media asing pun ternyata lolos juga yang sempat memberikan stimulusnya mengenai apa gerangan yang terjadi di Indonesia?

Jika ditelisik dan dimaknai lebih secara ekpslisit, hakikat dari kemunculan tagar hastag #IndonesiaTerserah tersebut merupakan konsekuensi atas kinerja pemerintah yang dinilai lamban dalam menangani Covid-19. Selain itu, tak bisa menyalahkan sepenuhnya juga terhadap upaya-upaya yang telah diluncurkan pemerintah. Kekuatan sepenuhnya ialah terletak perilaku masyarakat. Kecenderungan akan perilaku manusia dalam mengikuti kebijakan pemerintah, nyatanya menunjukkan sesuatu ketidakseriusan dalam melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah diberlakukan sejak April 2020.

Dengan ditandai logika pemerintah yang memikirkan untuk melakukan isu kelonggaran PSBB, ketidakseriusan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut semakin tercermin dari kehadiran masyarakat yang berbondong-bondong berkumpul di pusat pembelanjaan Mall atau tempat jenis lainnya yang bersifat kumpul massa ketika menjelang perayaan hari Idul Fitri kemarin, dan setelahnya juga yang dimana masyarakat mulai berliburan, berkreasi di tengah lebaran Idul Fitri, salah satunya ialah di Pulau Bangka itu sendiri dan luar Bangka seperti pulau-pulau besar yaitu Pulau Jawa.

Peristiwa tersebut menimbulkan konsekuensi yang kuat, bagaimana bisa untuk menghentikan persebaran virus Covid-19 di Indonesia yang kian meningkat hari demi hari jikalau tidak diiringi dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan kepeduliannya terhadap imbauan pemerintah akan bahaya pandemi Covid-19 ini, yang sejak Maret lalu telah menyerang Indonesia.

Baca Lainnya

Jika dilihat, peristiwa tersebut merupakan atas gambaran culture masyarakat Indonesia yang masih mementingkan ego pribadi dibanding kepentingan bersama di tengah pandemi saat ini. Namun, setelah kemunculan hastag tagar #IndoesiaTerserah tersebut, masih hangat di telinga kita semua tentang berita baru dari kebijakan pemerintah yang ingin memberlakukan Indonesia New Normal Life? Dilansir dari statment pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi), New Normal kembali digaungkan di tengah pandemi virus corona yang kian meluas dan menginfeksi jutaan orang di dunia, termasuk di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengajak masyarakat untuk dapat hidup berdamai dengan Covid-19.

Penulis berspekulasi, nyatanya Indonesia saat ini kewalahan dalam menghadapi dan melawan serangan Covid-19. Bagaimana tidak, dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang mana masyarakat secara faktual belum dapat sepenuhnya mengindahkan kebijakan pemerintah tersebut. Lantas, apakah dengan kemunculan New Normal ini merupakan wujud ekspresi pemerintah yang sudah tak tahan lagi dengan penyebaran Covid-19 yang kian hari kian merajalela dengan diikuti simpatisasi masyarakat yang kurang peduli.

Namun, tak dapat dipungkiri juga, akibat pandemi ini, perekonomian mulai terguncang, khususnya Indonesia itu sendiri, sehingga mobilitas warga terpaksa terlonggarkan kendati virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19 masih terus mengancam. Tak bisa sepenuhnya juga menyalahkan warga, apalagi warga yang bekerja sehari untuk makan sehari. Sebenarnya ekspresi dari masyarakat ini adalah wujud bahwa masyarakat sudah jenuh dan bosan tentang Covid-19 yang tak kunjung usai dan membaik.

Penulis sendiri pun merasa geram, namun apa daya kita sejatinya tetap harus mengikuti protokol-protokol yang telah digaungkan pemerintah demi keselamatan kita semua, sehingga kondisi ini pada akhirnya membawa pada konsep new normal life, yang secara bertahap mulai diimplementasikan oleh pemerintah.

Penulis berharap, apapun itu yang menjadi kebijakan pemerintah, kita tetap harus mengikuti dan patuh terhadap imbauan mereka. Pemerintah juga manusia, yang butuh dihargai atas resepsi legislasi yang telah mereka susun demi kepentingan kita bersama.(***)

Related posts