Sehat di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp

(Oleh :Abu Shafwan)

Alhamdulillah, saat ini kita sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan 1438 H. Seluruh kaum muslimin menganggap bahwa bulan suci ini adalah bulannya ibadah. Kuantitas dan kualitas ibadah biasanya akan bertambah. Tetapi selain bulan ibadah, Ramadhan juga seharusnya bulan segala kegiatan dan kerja keras. Tak ada alasan buat umat Islam untuk berleha-leha di siang hari karena berpuasa. Memang tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, tetapi kalau tidur saja ibadah, lebih baik kita melakukan ibadah itu sendiri. Tidak jarang dengan kita tidur justru kita tambah lemas, karena ternyata tidur juga butuh energi, yaitu energi basal. Sementara itu kesibukan kerja di siang hari malah membuat hari terasa pendek. Kita perlu menengok ke dalam sejarah, melihat bagaimana kesibukan Rasulullah saw. pada bulan-bulan ini.
Dalam melaksanakan ibadah Rasulullah saw. lebih mengkhususkan diri pada bulan puasa, sehingga seolah ia tak lagi mengenal dunia, dengan memperbanyak ibadah, diantaranya melakukan salat, membaca al-qur’an, zikir, bersedekah, dan pada malam kesepuluh terakhir beri’tikaf di masjid, dan menganjurkan kita memperbanyak ibadah.
Sungguh pun begitu tidak berarti Nabi lalu bersantai-santai dan melalaikan tugas-tugas duniawi. Karena beliau di samping seorang Rasul, juga sebagai seorang kepala negara, yang harus melayani berbagai kebutuhan rakyatnya. Justru peristiwa-peristiwa besar banyak terjadi pada bulan Ramadhan. Dalam buku-buku sejarah, tafsir, dan hadits, dapat kita baca betapa sibuknya Rasulullah saw.
Bagi Rasulullah saw. bulan puasa adalah bulan jihad, bulan perjuangan. Sejak tahun pertama Hijriyah dalam bulan puasa beberapa ekspedisi militer dikerahkan untuk menghadapi musuh, kaum musyrik Mekah yang selalu datang mengganggu dengan serangan kecil-kecilan pada mulanya, dan kemudian sampai di puncaknya pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah dengan pecahnya perang Badar. Tetapi justru inilah kemenangan Islam yang pertama menghadapi kaum musyrik Quraisy. Sebagaimana firman Allah SWT : ”Allah telah menolong kamu di Badr ketika kamu dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, dengan demikian kamu bersyukur” (Q. S. 3: 123).
Setelah itu, pada tahun-tahun berikutnya, terjadi pula perang Uhud dan perang Parit (Khandaq), sedikit sebelum dan sesudah bulan puasa, sampai akhirnya pada Ramadhan tahun ke-8, Mekah sebagai markas besar musyrik Quraisy dapat dibebaskan, berhala-berhala dihancurkan dan tauhid ditegakkan. Dan pada Ramadhan tahun berikutnya Rasul kembali dari ekspedisi Tabuk dengan membawa kemenangan pula.
Itulah kemenangan-kemenangan Ramadhan yang terbesar, disusul dengan kedatangan utusan Banu Saqif dari Taif — sebagai benteng terakhir kaum pagan yang paling keras — ke Medinah, menyatakan pengakuan dan kesetiaan penduduk Thaif kepada Rasulullah. Itulah jatuhnya benteng terakhir kaum penyembah berhala di jazirah Arab.
Berdasarkan shirah tersebut, tidak selayaknya kita bermalas-malasan dalam menghadapi Ramadhan,seperti banyak tidur dan malas bekerja, dengan berdalih lemas dan tidak bertenaga. Memang dengan berpuasa, pola makan dan minum kita mengalami perubahan. Akan tetapi yang berubah hanya waktu makannya saja, karena secara kuantitas dan kualitas sebetulnya sama saja. Kalau sebelumnya kita makan dengan pola 3 kali makan, di bulan Ramadhan pun sebenarnya pola tersebut bisa kita lakukan. Yaitu saat berbuka, setelah tarawih dan waktu sahur.
Berikut ini beberapa tips agar kita tetap segardan sehat selama menjalani ‘laga final’ 10 hari terakhir di bulan Ramadhan ini:

Related posts