Santri dan Kemandirian Ekonomi

  • Whatsapp
Jarir Idris
Alumni Ponpes Tarbiyatul Mubtadiin Toboali, Bangka Belitung

Umumnya, santri adalah sebutan bagi pelajar yang tinggal dilingkungan pondok pesantren. Namun, hakikatnya adalah semua orang masih belajar dan masih terus mau mendengarkan nasehat dari para kyai, maupun para ustad adalah santri. Karena santri adalah seseorang yang ingin terus belajar dan belajar. Pesantren sebagai tempat untuk belajar dan menimba ilmu keagamaan, adalah media yang tepat bagi setiap pencari ilmu. Hidup di lingkungan pondok, dengan mematuhi berbagai aturan yang telah dibuat dan mengabdi pada kyai adalah suatu keharusan demi meraih keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Keberkahan yang digembleng dan di gojlo semasa di pesantren, bukan hanya semata doktriner agama. Namun, itu semua adalah sarana pelatihan lahir dan batin sebagai seorang santri untuk bisa mandiri dan bisa bermanfaat bagi masyarakat kelak. Itu, membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan sampai akhir hayat. Santri yang sudah keluar dari pondok bukanlah selesai dalam belajar, melainkan sebagai ajang praktek dan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Maka dari itu, wajar jika seorang santri ketika keluar pondok akan merasakan hikmah dari pengemblengan dan pengojloan yang di tempa ketika dipondok dulu. Biasanya, santri ketika keluar dari pondok tidak bisa langsung menjadi tokoh masyarakat, karena memang dalam kehidupan bermasyarakat harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang nantinya akan menjaga keberlangsungan kerukunan hidup dimasyarakat. Lantas tidak langsung mengambil kepopuleritasan diri hanya untuk mengejar gengsi, namun lebih dari itu.

Ketika sudah hidup di masyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat, seorang santri harus sadar bahwa kebutuhan bermasyakat ada bermacam-macam jenisnya. Mulai dari religiusitas, komunikasi sosial, budaya sampai pada kebutuhan pokok yakni ekonomi. Ilmu agama yang ditimba ketika di pondok, dipraktekkan secara menyeluruh dan melihat dari kebutuhan yang ada di masyakat secara perlahan. Belajar untuk beradaptasi dengan baik dengan lingkungan sekitar dan tidak kemrungsung (buru-buru) dalam bertindak.

Pembelajaran kemandirian ekonomi dalam pesantren sudah diajarkan sejak ketika santri masuk. Namun, biasanya santri tidak menyadari hal itu. Misalnya adalah ketika pak kyai menyuruh santri untuk mengurus tambak atau kebun, itu adalah cara santri belajar mandiri dengan mengenal macam-macam ikan dan pola hidupnya, juga dengan berkebun agar nantinya diharapkan santri bisa menghasilkan hasil kebun untuk kebutuhan sehari-hari. Begitupun dengan pembelajaran ketika santri disuruh ke pasar, diharapkan semua santri nantinya bisa mengenal pergerakan perniagaan yang ada di pasar dan bisa untuk menguasainya. Bukan berarti perintah dari kyai dengan bahasa kasar memperbudak, tidak. Namun, agar santri bisa mandiri ketika sudah keluar dari pondok, bukan hanya tentang religusitasnya saja, namun juga ekonomi yang kuat.

Baca Lainnya

Bukan hanya itu saja, dalam tradisi pondok dikenal dengan istilah “lurah” yakni kepala seluruh kamar yang ada di pondok. Ini mempunyai pembelajaran birokrasi dimana kehidupan di pondok adalah miniatur dari kehidupan sesungguhnya di masyarakat. Maka dari itu, ketika ada suatu masalah antar santri, lantas tidak langsung mengadu ke orang tua, namun membicarakannya kepada lurah terlebih dahulu. Belum lagi ketika ada kegiatan kerja bakti (rok’an) yang menjadi tradisi melekat pada semua pondok. Yakni untuk melatih kerja sama santri dalam kehidupan, karena sejatinya hidup tidak bisa sendiri, tetapi berdampingan dengan yang lainnya.

Begitu banyak tradisi kehidupan yang diwariskan oleh pada ‘alim dan ulama’ kepada pondok pesantren sebagai ladang pembelajaran ilmu tentang kehidupan. Tidak hanya melulu soal agama saja, melainkan menyeluruh pada aspek kehidupan bermasyarakat, lebih luasnya lagi adalah kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahu a’lam.(***).

Related posts