Prabowo Dukung Gubernur Pulihkan Ekonomi Babel

  • Whatsapp
Safari ANS

Safari: Akibat Sengkerut Timah yang tak Berujung
Pengesahan RKAB 3 Smelter Dinilai Penuhi Kriteria

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG – Persoalan pertimahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali ramai diperbincangkan. Mulai dari kegiatan ekspor timah yang tak menentu sehingga membuat pertumbuhan ekonomi Babel kian anjlok, sampai kepada dugaan monopoli perdagangan timah yang disampaikan banyak pihak.

Belakangan, para anggota Komisi III DPR RI yang tergabung dalam Panitia Kerja (Panja) Pengawasan dan Penegakan Hukum pun tiba-tiba datang ke Babel, kemudian mempersoalkan pengesahan RKAB tiga eksportir timah yang disahkan Pemerintah Provinsi Babel.

Melihat ini, Pengamat Pertimahan yang juga salah satu tokoh pejuang pembentukan Provinsi Babel, Safari ANS dalam keterangan tertulisnya kepada Rakyat Pos, Sabtu malam (11/7/2020) menegaskan, saat ini pertumbuhan ekonomi Babel dalam tahap menyedihkan dan mengkhawatirkan.

Baca Lainnya

Karena itu menurutnya, sudah tepat jika Gubernur Babel selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat mengambil tindakan penyelematan ekonomi masyarakat yang terpuruk akibat pandemi Covid-19 sekarang ini. Terlebih, instruksi Presiden Joko Widodo kepada para menteri dan kepala daerah untuk bertindak cepat menyelematkan ekonomi, dan di Babel saat ini timah masih berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah sekitar 40%.

“Bappeda Babel juga mengakui itu. Dengan begitu, ada gejolak soal timah di Babel langsung mempengaruhi ekonomi Babel secara langsung. Misalnya ketika terjadi razia smelter timah yang dilakukan di Babel, yang berakibat ditutupnya beberapa smelter timah, maka angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal itu jatuh hingga 1%. Akibatnya ekonomi Babel memang terpuruk, daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini mendorong lesunya aktivitas ekonomi masyarakat secara langsung. Situasi ini mestinya memberikan pelajaran bagi pemerintah pusat dan daerah agar berhati-hati bertindak dalam dunia timah. Karena timah sementara ini, masih menjadi urat nadi ekonomi Babel. Apalagi akibatnya bersifat langsung terhadap ekonomi rakyat,” ungkap Safari.

Ia menerangkan, sejak adanya sengkerut dunia timah di Babel, ekonomi daerah tergerus dibawah pertumbuhan ekonomi nasional setiap tahunnya. Tahun 2011, ekonomi Babel masih bisa tumbuh 6,90%. Tahun 2012 turun 5,50%. Tahun 2013 turun lagi menjadi 5,20%, dan terus menurun 4,67% pada tahun 2014, lalu turun diangka 4,08% di tahun 2015.

Related posts