PPDB Zonasi dan PR Bangsa Ini

  • Whatsapp
Najma Karimah
Muslimah Bangka Belitung

Rampungnya perhelatan penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2020 di berbagai daerah di tanah air, tetap menyisakan banyak pekerjaan rumah (PR) bagi bangsa ini. Bukan hanya soal mekanisme PPDB, melainkan lebih jauh dari itu, meliputi kebijakan dan sistem pendidikan itu sendiri. Bukan hanya soal perkara teknis, melainkan sampai pada soal landasan filosofis.

Sejak ditetapkan pada 2017 lalu, sistem PPDB zonasi memang telah menuai banyak kritik, karena memunculkan banyak masalah. Tahun ini, masalah makin menjadi rumit karena sejumlah daerah menambahkan aturan terkait PPDB jalur zonasi. Aturan tambahan ini, disinyalir sebagai efek dari ketiadaan ujian nasional yang biasanya menjadi standar penyaringan siswa yang diterima di suatu sekolah. Sebab lain, adalah faktor membludaknya siswa pendaftar di sekolah-sekolah tertentu khususnya sekolah ‘favorit’. Karena dua kondisi ini, pemerintah daerah akhirnya membuat kebijakan pertimbangan usia guna memudahkan panitia memangkas siswa yang diterima di setiap sekolah.

Read More

Hal inilah yang dikeluhkan banyak orang tua. Jarak rumah yang dekat dengan sekolah tak menjamin anak mereka diterima, karena usia yang lebih muda dibanding pendaftar lainnya. Panitia menetapkan urutan siswa diterima berdasarkan usia yang paling tua. Jika kuota telah terpenuhi, maka siswa yang berusia lebih muda secara otomatis akan dipangkas alias tidak diterima. Padahal, sudah menjadi rahasia umum para pendaftar sebelumnya harus bersaing dengan pendaftar lain yang terkadang memalsukan kartu keluarga dan alamat tempat tinggal demi diterima di sekolah yang diinginkan. Ini, utamanya terjadi pada sekolah-sekolah favorit. Kian dalamlah luka yang ditorehkan pada hati para orang tua dan siswa yang gagal diterima di sekolah negeri impian. Mereka mesti menanggung kecewa berkepanjangan karena tak bisa bersekolah di sekolah negeri meski sangat dekat dengan tempat tinggal mereka.

Suasana pandemi yang mengharuskan proses PPDB dilakukan secara online makin membuat horor proses PPDB tahun ini. Tak sedikit orang tua yang merasa kerepotan karena tak memahami tata cara pendaftaran secara daring (dalam jaringan). Bahkan ada pula orang tua yang kesulitan mendaftar karena tak memiliki sarana dan prasarana. Belum lagi perasaan cemas menunggu pengumuman hasil seleksi yang di sejumlah daerah sempat diundur beberapa hari. Setelah lama menunggu diliputi kecemasan, tahu-tahu anak mereka ditolak. Terbayanglah kita betapa pedih dan kecewa yang harus ditanggung para orang tua. Banyak kita simak pemberitaan di media massa yang mengisahkan tangis dan derai air mata sekaligus kecewa hingga amarah para orang tua siswa setelah mengetahui anak mereka tidak diterima usai melihat pengumuman. Mulai dari yang tak bisa tidur berhari-hari, menangis di depan papan pengumuman sekolah, sampai demo dan aksi kejar-mengejar kendaraan pejabat dinas pendidikan. Sungguh situasi yang miris dan mengenaskan.

Related posts