Potensi Mining Tourism di Bangka Belitung yang Sayang untuk Diabaikan

  • Whatsapp

 

Read More

Oleh: Muhammad Irfan (Wartawan Rakyat Pos) 

Berbicara Bangka Belitung (Babel) tak akan lengkap jika mengesampingkan soal timah. Sejak dahulu, hingga saat ini, penambangan biji timah masih jadi primadona dan urat nadi perekonomian masyarakat. Walau saat ini pemerintah daerah sedang gencar-gencarnya mempromosikan wisata (pantai utamanya-red), sumber daya timah sebagai anugerah Tuhan Yang  Maha Kuasa harus tetap dimanfaatkan, apalagi Babel sudah dikenal dunia dengan timah sebagai komoditi andalan dan telah menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil timah terbesar nomor dua di dunia.

Tak bisa dipungkiri, aktivitas tambang, baik itu skala kecil, sedang ataupun besar berdampak pada lingkungan. Akan tetapi, semuanya sudah diatur dalam regulasi atau ada aturan mainnya. Salah satunya adalah kewajiban reklamasi pasca eksplorasi. Tak sedikit bekas lubang galian tambang, terutama tambang timah di darat yang meninggalkan lubang besar menganga (kolong camuy) ,ada pula  yang berwujud perbukitan pasir. Namun, jika lahan-lahan eks tambang yang ini  dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, bisa berdampak ekonomis bagi masyarakat. Di lahan eks tambang ini, pesan pariwisata, perubahan sosial dan rekayasa budaya harus dilakukan agar wisata Babel tidak melulu soal pantai.

Saat ini, sebagian lahan eks tambang bahkan  sudah ada yang menjadi destinasi wisata yang indah. Danau Kaolin di Toboali, Bangka Selatan, contohnya.  Airnya yang biru dan jernih membuat para turis berdatangan ke Babel. Walau hanya sekedar berfoto ria. Ada juga  Bangka Botanical Garden (BBG) yang saat ini menjadi sasaran kunjungan wisatawan. Di Belitung Timur, tepatnya di Desa Selinsing, BUMDes bersama warga setempat bahkan mengelola  lahan eks tambang menjadi lahan pertanian. Kedepan tak menutup kemungkinan kawasan tersebut bisa menjadi wisata agro di Belitung.

Adaptasi Wisata Jogja

Pada 17-19 April 2018, dengan tajuk “Jogja On The Trip” sejumlah wartawan media cetak dan elektronik, Kelompok Sadar  Wisata (Pokdarwis), BUMDes  termasuk unsur dinas pariwisata diajak “touring” oleh PT Timah. Rombongan diajak untuk  mengunjungi sejumlah tempat wisata di Jawa Tengah tepatnya di Kota Yogyakarta. Mulai dari Taman Pintar, Goa Pindul,  Taman Breksi, hingga Candi Borobudur.

Banyak input positif yang didapat penulis dari kunjungan tersebut. Disana, objek wisata kebanyakan tetap memanfaatkan keindahan alam dan dikombinasikan dengan kearifan lokal warga setempat. Peran pemerintah dan perusahaan BUMN berandil cukup besar dalam pengembangan objek wisata. Akan tetapi, “aktor kunci”nya adalah tetap masyarakat. Masyarakat memanfaatkan ide-idenya atau “merekayasa” objek wisata dengan dukungan para stakeholders tersebut.

Di Taman Breksi misalnya. Lokasi ini adalah eks pertambangan batu dan merupakan tempat wisata yang unik, karena mengedepankan  tebing sebagai obyeknya. Tebing yang tampak bagai mahakarya seni raksasa ini diresmikan oleh  Gubernur D.I Yogyakarta pada 30 Mei 2015. Wilayah ini disulap masyarakat sekitar menjadi sebuah destinasi wisata kekinian yang digandrungi oleh masyarakat dan cocok bagi pengunjung yang ber jiwa petualangan dan pecinta foto. Fasilitas penyewaan motor dan sepeda pun disiapkan pengelola. Dari puncak, pengunjung bisa melihat keindahan Candi Prambanan dan Candi Barong, termasuk keindahan Kota Jogja.

Tebing Breksi Jogja

Bergeser ke arah Magelang, di lokasi ini terdapat objek wisata  yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia, yakni Candi  Borobudur. Selain keindahan Candi Borobudur, ada hal lain yang juga tak kalah menarik, yakni keberadaan Balkondes (Balai Ekonomi Desa Borobudur).  Ada sekitar 20 desa di sekitar wilayah Candi Borobudur  yang menawarkan berbagai fasilitas mulai dari kuliner,  cinderamata, penyewaan pondok dan lainnya. Pengunjung akan merasakan pengalaman baru hidup dalam Desa Borobudur dengan nuanasa kearifan lokal yang kental . Desa-desa wisata ini berada di bawah naungan BUMN sebagai  pendamping dan sponsor. Sekali lagi, masyarakat sebagai “aktor utama” dalam pengelolaan Balkondes ini.

Balkondes Wanurejo

Selanjutnya, ada Goa Pindul. Di goa yang terletak di Dusun Gelaran2, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo,Kabupaten  Gunungkidul, Yogyakarta ini ada wisata air bagi para wisatawan. Ada sebuah lorong yang mana dalam lorong itu terdapat aliran sungai bawah tanah. Pengunjung bisa menjelajahi lorong sejauh  350 meter dengan kedalaman air mulai dari  0,5 meter sampai dengan 12 meter lebih. Dipandu oleh “guide”lokal, pengunjung akan didampingi menyusuri keindahan goa. Akan ada cerita “mistis” yang akan diceritakan oleh guide yang memandu mulai dari batu stalagtit terbesar, hingga keberadaan batu yang apabila disentuh, akan meningkatkan “keperkasaan” kaum pria. Puas berkeliling Goa Pindul, pengunjung kemudian bisa beristirahat di saung khas pedesaan, diiringi musik khas Jawa. Ada juga minuman wedang uwuh dan makanan khas desa setempat yang bisa disantap.

Kemudian, ada Taman Pintar, yang dikelola oleh Pemkot Yogya. Dengan sejumlah fasilitas dan objek yang ditawarkan, keberadaaan Taman Pintar mampu menarik animo para wisatawan. Tak tanggung-tanggung, per tahun kunjungan wisatawan lebih dari 1 juta orang. Angka yang sangat fantastis.

Dari sejumlah lokasi yang dikunjungi, wajar jika Yogyakarta disebut sebagai Kota Pariwisata. Bahkan, dikutip dari royalindowisata.com, Yogyakarta disebut berada di urutan kedua setelah Pulau Bali untuk jumlah kunjungan wisatawan.  Namun untuk aneka ragam tempat tujuan wisata di Indonesia Yogyakarta jadi rajanya dan berada di urutan pertama.

Kembali ke Babel. Dengan melihat potensi yang ada, termasuk adat dan budaya, sumber atau  potensi wisata bisa dikemas dan dikombinasikan secantik mungkin, terutama di lahan eks tambang. Lahan eks tambang yang ada bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Adaptasi cara pengelolaan  sejumlah objek wisata yang ada di Yogyakarta bisa diaplikasikan, ditiru dan dimodifikasi kemudian diterapkan di lahan-lahan eks tambang yang ada di Babel.

Yang teramat penting adalah peran dari masyarakat dikombinasikan dengan dukungan dari stakeholders mulai dari PT Timah dan pemerintah daerah. Pertambangan dan pariwisata, berjalan beriringan? Kenapa tidak. Menjadi penting, untuk mengemas sebuah wisata seru yang juga edukatif, agar kita sadar pentingnya sumber daya alam dan perencanaan pariwisata untuk masa depan Bangka Belitung khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Untuk mewujudkan itu semua, bisa saja, asal ada  komitmen dari pemangku kebijakan dan yang penting “kawa” (mau). Memang butuh waktu dan ide-ide  yang brilian untuk mewujudkan semua itu. Tidak menutup kemungkinan nantinya  jika pengelolaan mining tourism berjalan maksimal, Babel akan ramai dikunjungi wisatawan nasional bahkan mancanegara . Babel tidak hanya akan dikenal dengan sebutan Negeri Laskar Pelanginya atau terkenal dengan wisata pantainya saja, tetapi juga bisa menjadi kawasan “Wisata Mining Tourism Kelas Dunia”.  Semoga… (##)

 

JustForex

Related posts