Perbanyaklah Bertasbih Kepada Rabbmu

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Seluruh ciptaan-Nya bertasbih sebagaimana firman-Nya, “Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) Shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (TQS. Annur [24]: 41)

 

Mahbub Zarkasyi

Mulai dari bangun tidur kita yang hidup di perkampungan hijau suara tasbih kokok ayam dan siulan burung-burung nyaring terdengar. Begitu juga memasuki keheningan malam kita pun akan mendengar jeritan jangkrik di dalam lubangnya yang entah dimana. Silih bergantinya siang dan malam, disana beredar pada malamnya dan matahari pada siangnya menunjukkan betapa seluruh alam bertasbih kepada Rabb sang pencipta alam semesta dengannya cara masing-masing.
Fenomena yang terjadi di atas bumi dan di antara langit dan bumi sungguh terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan walau terkesan sangat sederhana. Namun, manusia yang telah dianugrahi akal banyak melalaikannya dengan hanya sibuk menuruti nafsu mata dan perut masing-masing. Sebagaimana ayat di atas, sungguh semua makhluk Allah istiqamah shalat dan bertasbih kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Harusnya kita sebagai manusia yang digelari makhluk paling sempurna malu kepada ayam, burung, jangkir dan ciptaan Allah lainnya. Ayam dan burung bangun sebelum kita bangun. Yaringnya kokok ayam dan merdunya siulan burung harusnya membuat kita sadar akan kewajiban shalat Shubuh dengan keutamaan besar dikerjakan berjamaan di masjid. Namun ternyata suara tersebut malah membuat banyak di antara manusia yang menarik selimut untuk tidur kembali. Walaupun tetangganya sudah memasang speaker masjid dengan melantunkan suara adzan yang indah tak membuat langkahnya ringan untuk beranjak dari tempat tidur menuju masjid. Heningnya malam, menambah nyaring suara jangkrik masuk ke telinga yang terdalam tak mampu membangunkan banyak kaum muslim untuk shalat malam. Atau bahkan sebelum tidur suaranya sudah terdengar, bukannya menunaikan Shalat Isya’ malah tidur dengan berbagai macam gaya tanpa mengikuti tuntutan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Semua ciptaan Allah Shalat dan bertasbih menuruti perintah sang pencipta. Mereka begitu mengamalkan sebagaimana mereka diperintahkan. Matahari terbit diwaktu ia diperintahkan untuk terbit, ia menghilang seolah ditelan bumi ketika sesuai dengan jadwal ia untuk tenggelam tanpa pernah enggan. Burung-burung dengan mengepakkan sayapnya bertasbih sambil mencari rezeki dalam kondisi perut kosong dan kembali dengan perut kenyang dan makanan penuh dimulutnya untuk memberi nafkah kepada anak-anaknya. Untuk membuka pemikiran kita, Allah Subhanahu Wata’ala dalam banyak firman-Nya telah mengingatkan kita akan begitu taatnya ciptaan Allah yang lainnya kepada-Nya. mari simak arti dari firman Allah Subhanahu Wata’ala berikut ini,
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi, kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia Maha Penyantun dan Maha Pengampun.” (TQS. Al-Israa’ [17]: 44)
Melalui Rasul yang mulia, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kita telah diajarkan bagaimana tata cara menyembah Allah, Shalat dan bertasbih memuji-Nya. namun banyak di antara kita yang enggan, yang hanya menyibukkan untuk bagaimana mengenyangkan perut dan menuruti nafsu mata akan gemerlap dunia. Begitu rupa manusia mengkufuri nikmat Allah. Padalah Allah berulang kali menegur manusia yang terus mendustakan nikmat Allah sebagaimana di surat Arrahman:
“Fabiayyiaalaa Irabbikumaa tukadzdzibaan?”. Yang artinya, “Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang engkau dustakan?”
Patutlah kita sebagai manusia malu, sangat-sangat malu dimana telah dinobatkan sebagai makhluk terbaik dengan segala kesempurnaan dibandingkan dengan ciptaan Allah lainnya. Manusia terlalu banyak lalai, terlalu sering kufur nikmat, tidak menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah, kering lidah dari tasbih dan dzikir kepada-Nya. Mulut sibuk membuka pintu neraka dengan banyak Ghibah dan dusta, padahal kesempatan emas hidup di kehidupan jahiliyah modern ini untuk mendakwahkan banyak manusia lainnya. Kaum muslim ternyata banyak yang larut dan tertipu dengan kesenangan dunia seperti wanita yang memikat hati, harta yang bergelimangan dan tahta/kedudukan tinggi yang sangat dihawatirkan dikuasai oleh manusia lainnya. Pantaslah kita malu kepada Dzat yang telah memberikan berjuta-juta nikmat kepada kita yang bila seluruh pohon menjadi pulpen dan seluruh lautan dijadikan tinta maka tak cukup untuk mencatat nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Ibadah kepada Allah pada hakikatnya pembuka nikmat hati yang memenuhi dada bila kita mengamalkannya. Karena Allah lah sesungguhnya yang memberikan rasa, yaitu rasa nikmat dan kesenangan, bukan harta, tahta apalagi wanita. Bertasbih mengingat Allah akan melahirkan pikiran yang cemerlang dengan melandasi pada Syariah-Nya. Jiwa yang selalu menunjukkan sikap tunduk, pasrah, dan tawakal kepada Allah sang pemilik Syurga dan Neraka. Keutamaan mengingat Allah telah dijanjikan sebagaimana hadist dari Abu Hurairah yang diriwayatkan imam at-Tirmidzi,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak ada padaku, maka beritahulah kepadaku dengan sesuatu yang aku bisa berpegang teguh dengannya.” Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi dari Hadits Abu Hurairah).
Ibadah sesungguhnya merupakan aktivitas mudah dan ringan namun kita lah yang membuatnya menjadi seolah sulit dan berat. Betapa banyak ahli ibadah yang tak tampak kesukaran dalam menunaikannya padahal mereka juga hidup dengan kehidupan dunia sebagaimana manusia lainnya. Betapa banyak ahli ibadah yang selalu basah lisannya dalam menyebut dan memuji Allah, hartapun berlimpah ruah melampaui kaum muslim yang sibuk hanya untuk mengejar harta dunia. Karena Allah lah yang mengatur rezeki untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya. Tasbih dan Dzikir bisa dilakukan dimana saja, apakah di atas kendaraan, di atas kursi empuk ruangan kantor, ketika beratnya memikul beban dunia, atau ibu-ibu yang mengurusi rumah tangga anak-anak dan suaminya. Tiada yang bisa menghalangi ucapan yang ringan di lafadzkan. Mari kita biasakan lidah di dalam mulut kita untuk fasih menyebut dan mensucikan nama-Nya. Karena Allah telah memerintahkan para malaikat untuk mencatat setiap langkah dan helaan nafas kita. Ketika kita menyibukkan dengan ibadah dan mengingat-Nya, maka kebaikan dan janji Syurga untuk kita. Namun, ketika manusia sibuk dengan dunia fana ini, maka tiada bekal catatan kebaikan untuknya di akhirat nanti. Setiap propaganda dan makar jahat untuk menutup kemuliaan Islam yang dirahasikan sebagaimana saat ini, sedang dibangun penguasa dan kaki-tangannya pasti dicatat dengan sangat detail walaupun hal itu mereka sembunyikan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya,
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.“ (TQS. Adz-Dzukhruf [43]: 80).
Manusia yang terlalu sibuk dengan propaganda jahatnya, walaupun mereka memiliki banyak ilmu dan kepahaman terhadap agama Allah, maka lidah mereka akan kelu dalam menyebut nama-Nya dan hati mereka akan kering diliputi ketakutan akan terbongkarnya aib-aib dan propaganda/makar mereka.

Baca Lainnya

Khatimah
Wahai seluruh kaum muslimin, bangunlah, sadarlah. Bahwa kita hidup akan mati. Bahwa kehidupan dunia ini fana. Maka perbanyakalah bekal menuju kehidupan sebenarnya, dengan memperbanyak bertasbih beribadah kepada Allah. Bersyukurlah kita masih hidup hingga hari ini, artinya kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat atas propaganda dan makar-makar terhadap agama Allah. Allah pasti menerima taubat manusia yang bersungguh-sungguh memohon ampunan kepada-Nya. walaupun hari ini kalian masih kafir, maka berimanlah. Walaupun kalian telah menistakan agama Allah, walaupun kalian telah merendahkan kedudukan agama Allah. Janji Allah SWT dalam hal penerimaan taubat hamba-hamba-Nya antara lain dalam beberapa firman-Nya berikut ini:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus-asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (TQS az-Zumar [39]: 53);
Bagi kita yang sibuk beribadah, patutlah kita bersyukur dengan semakin meningkatkankan dan menyempurnakan amal ibadah kita. Teruslah bertasbih untuk mengingat Allah dan menjadi penolong dan pembela agama Allah. Jangan pernah takut terhadap makar musuh-musuh Allah. Matipun kita dalam menolong agama Allah, maka itu adalah kemuliaan. Teruslah berjuang, tetaplah di jalan kebenaran. Semoga kita yang hidup di akhir zaman ini. selamat dari fitnah dunia dan mendapat gelar Al-Ghuraba. Aamiin… Aamiin… Yaa Rabbal’aalamiin.(****).
Wallâhu a’lam bi ash-Shawâb. [] MZiS

Related posts