Peran Ibu dalam Pendidikan Karakter

  • Whatsapp
foto: ilustrasi/pixabay.com

Oleh: Sukmawijaya, M.Pd

Guru SMA Negeri 1 Toboali, Bangka Selatan

Read More

 Setiap anak yang baru dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih, tidak ada noda dan dosa. Rasulullah SAW bersabda setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.(HR. Bukhari, Abu Daud, Ahmad).

Eksistensinya diibaratkan kanvas yang putih, belum ada warna dan tulisan apapun yang digoreskan pada kanvas tersebut. Indah dan tidaknya sebuah lukisan dan tulisan pada kanvas putih ini tergantung siapa pelukis dan penulisnya. Apabila dikerjakan oleh tangan-tangan terampil, memahami tekhnik dalam melukis dan dilakukan dengan sangat hati-hati serta menikmati setiap proses yang dilalui, maka akan menghasilkan sebuah lukisan yang sangat indah. Demikian juga sebaliknya, jika dikerjakan oleh tangan-tanganan yang tidak terampil, tidak memahami ilmu tentang lukisan, maka lukisan yang akan dihasilkan menjadi tidak menarik, sehingga menyebabkan tidak bernilai.

Ilustrasi di atas menggambarkan fitrahnya  setiap bayi yang dilahirkan oleh Rabb yang maha suci. Indah dan tidaknya karakter seorang anak tergantung orang tua yang telah melahirkan anak tersebut. Oleh karena itu untuk menghasilkan anak-anak dengan kepribadian yang sangat indah membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah.

 Peran Seorang Ibu

Sebuah ungkapan yang sangat popular di dalam dunia pendidikan Islam, bahwa “al-Ummu Madrasah al-Ula” ibu adalah madrasah pertama. Di dalam kalimat tersebut mengandung pesan moral kepada semua orang yang terlibat dengan dunia  pendidikan, bahwa yang menjadi madrasah pertama bagi seorang anak adalah seorang ibu. Karena orang  yang paling dekat dengan seorang anak secara fisik maupun psiologis adalah ibu. Interaksi yang intens selama bertahun-tahun mulai terjadi semenjak di kandungan hingga dilahirkan bahkan dibesarkan.

Hubungan spesial antara seorang ibu dengan anak dilengkapi dengan sifat-sifat natural yang melekat pada dirinya, yaitu cinta dan kasih sayang. Sifat tersebut melahirkan perhatian dan  kelembutan. Dengan sifat-sifat alami tersebut, maka setiap anak akan mengatakan, bahwa tempat yang paling nyaman adalah dekapan dan pelukan seorang ibu. Besarnya kasih sayang seorang ibu, karena sifat Rahim. Setiap perempuan dianugerahi Rahim, sehingga perempuan dapat mengandung dan melahirkan. Rahim itu sendiri merupakan salah satu nama Allah dari Asma’ul Husna “ar-Rahim” yang berarti sayang. Oleh karena itu sifat kasih dan sayang merupakan anugerah yang diberikan oleh Rabb yang maha Rahman dan Maha Rahim kepada setiap ibu di dunia ini.

Sebagai madrasah pertama, peran penting seorang ibu ketika janin masih berada dalam kandungan adalah memberikan nutrisi yang halalan toyyiba. Makna Halal yang berarti zatnya,sifatnya, serta cara mendapatkannya tidak bertentangan dengan ketentuan syari’at Islam. Selanjutnya adalah selalu melakukan hal-hal yang positif. Tidak ada kalimat yang keluar dari lisan melainkan kalimat-kalimat yang baik, dan hanya mendengarkan yang baik dan manfaat.

Peran selanjutnya ketika bayi sudah dilahirkan adalah mengajaknya selalu berbicara, dan selalu ceria. Walaupun ia belum mampu berbicara, namun memorinya memiliki kemampuan untuk merekam dengan baik segala sesuatu yang dia lihat dan dia dengar. Mengenalkan segala hal yang ada di sekitarnya, seperti cara memanggil ayah, ibu, nenek, kakek dan juga cara menyebutkan benda-benda yang ada di seitarnya. Seorang ibu selalu bersabar dan tidak pernah bosan walaupun dilakukan berulang-ulang setiap hari. Oleh karena itu seorang ibu berperan sangat besar terhadap pembentukan karakter seorang anak.

Namun saat ini tidak sedikit peran utama seorang ibu digantikan oleh pembantu atau baby-syster untuk mendampingi buah hati yang menjadi kesayangannya setiap hari, karena tuntutan ekonomi. Ia lebih sibuk dengan profesi dan karirnya di kantor dan di perusahaan. Pergi pagi pulang malam, pergi kerja buah hatinya masih tidur dan pulangnya malam juga sudah tidur. Itulah kenyataan yang terjadi terutama di kota-kota besar. Sehingga sang buah hati lebih mengenal baby- syster atau pembantunya dibandingkan dengan ibunya. Ibunya seharian bekerja, anak tersebut biasa saja, pembantunya pergi sesaat sedihnya luar biasa. Orang tua selalu berfikir bahwa segalanya bisa diselesaikan dengan uang, padahal uang bukanlah segala-galanya.

Padahal kasih sayang, perhatian, sentuhan dan belaian seorang ibu tidak tergantikan oleh materi. Maka tidak mengherankan apabila saat ini banyak sekali remaja yang terjebak dengan pergaulan bebas, narkoba, kecanduan alkohol dan sebagainya. Jika semua hal tersebut terjadi, barulah kemudian orang tua baru menyadari semua kesalahan yang telah mereka lakukan. Namun semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Oleh karena itu peran seorang ibu sangat penting dalam membentuk karakter anak agar menjadi pribadi yang baik.

Karakter yang pertama dan sangat fundamental dalam kehidupan seorang muslim dan harus terpatri di dalam jiwa dan raganya adalah Tauhid. Karena tauhid yang benar akan menyelamatannya di dunia dan di akhirat. Rasulullah menyampaikan kepada Mu’adz bin Jabbal, “barang siapa yang mengucapkan kalimat laailaha illallah, maka dia akan masuk Surga”. Jadi, saat pertama kali ketika seorang bayi dilahirkan, suara pertama yang didengarkan olehnya adalah suara azan dan iqomah. Harapannya adalah anak tersebut beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Selanjutnya, karakter kedua yang harus diajarkan kepada seorang anak pendidikan informal di rumah adalah mengajarkan adab. Mengenai hal ini, figur sentral dan contoh ideal yang harus dijadikan tauladan oleh seorang ibu kepada seorang anak adalah Rasulullah, saw. Karena tidak ada akhlak yang terbaik melainkan akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah ,saw. Beliau ma’sum terhindar dari maksiat dan dosa. Kemulian akhlaknya bukan hanya diakui dikalangan sahabatnya, namun musuhnya pun mengakui bahwa nabi Muhammad,saw adalah manusia terbaik. Michel heart seorang penulis terkenal, beliau beragama Kristen pernah menulis seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia, dan beliau meletakkan nabi Muhammad saw adalah manusia terbaik dan orang yang paling berpengaruh di dunia.

Adab-adab yang harus diajarkan kepada seorang anak, seperti adab dalam berbicara kepada orang yang lebih tua, teman sebaya dan kepada usia yang lebih muda. Diajarkan cara makan dan minum dengan duduk, tidak makan dan minum sambil berdiri serta membiasakan berdo’a sebelum makan. Diajarkan cara masuk toilet dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan, dan sebelum melangkah berdo’a terlebih dahulu, selanjutnya diajarkan buang air sambil jongkok, dan cara istinja’ yang benar. Diajarkan cara tidur dan berpakaian yang sesuai dengan syari’at Islam. Segala kebiasaan-kebiasaan tersebut, apabila dilakukan terus menerus, kemudian akan berubah menjadi karakter.

Selanjutnya yang sangat penting adalah kejujuran. Sikap jujur sangat penting diajarkan sejak usia dini, karena akan menjadi karakter hingga dewasa. Saat ini menemukan orang cerdas sangat mudah, namun menemukan orang yang jujur sangat sulit. Negara menjadi rusak bukan karena sedikit orang cerdas, namun Negara menjadi rusak karena sedikit orang jujur. Rasulullah,saw merupakan pribadi yang jujur, oleh karena itu sebelum di angkat menjadi nabi dan rasul, beliau beliau mendapat gelar al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya.

Kemudian pada anak usia dini juga perlu dilatih tanggung jawab. Namun beban dan tanggung jawab diberikan sesuai dengan tingkat usia dan jenis kelamin, agar tidak terbebani dan dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan baik. Misalnya setiap habis bermain, karena bahan mainan tersebut, sehingga membuat ruangan berantakan, maka diajarkan dan dibiasakan untuk segera merapikan kembali. Tujuannya adalah agar anak terbiasa hidup bersih dan rapi. Bukankah hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah,saw, bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.

Nilai karakter selanjutnya adalah kepedulian. Tidak sedikit saat ini anak-anak usia SD, SMP dan SMA lebih sibuk dengan dunianya sendiri, yakni dengan smart phone dengan bermain game online. Mereka tidak peduli dengan lingkungan dan orang-orang sekitarnya, sehingga lebih cenderung bersifat individualisme. Hal ini sangat berbahaya, karena sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial lambat laun akan tergerus, sehingga sifat ta’awun terhadap sesama menjadi berkurang, dan dikhawatirkan menjadi manusia-manusia yang angkuh seakan tidak membutuhkan orang lain. Padahal sehebat apapun manusia, dan setinggi apapun jabatannya manusia tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain.

Oleh karena itu, rasa kepedulian terhadap sesama harus di pupuk, agar ada rasa empati terhadap sesama. Manusia ibarat satu tubuh, apabila satu bagian tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merakan hal yang sama. Jika saudara sedarah, sebangsa dan seagama membutuhkan bantuan, maka ia akan menjadi orang yang pertama mengulurkan tangan, agar saudaranya dapat keluar dari kesulitan.

Untuk menjadi pribadi yang peduli harus diajarkan sejak diri, agar rasa empati melekat pada diri setiap orang anak terhadap makhluk di muka Bumi. Misalnya, seorang anak memiliki makanan lebih, maka orang tua segera mengajarkan agar sebagian dari makanan tersebut dibagikan dengan teman-temannya. Apabila kebiasaan baik ini terus dilakukan, sehingga menjadi kebiasaan, maka ia akan menjadi pribadi yang disukai dan dicintai banyak orang, dan selalu diingat akan kebaikannya. Kedatangannya di nanti-nanti, dan kepergiannya di harapkan kembali.

Karakter selanjutnya adalah disiplin, adil, dan kerja sama. Islam sangat menganjurkan seorang anak dikenalkan dan diajarkan tentang sholat dan dikenalkan dengan Masjid. Rasulullah mengatakan bahwa, ajarilah anakmu sholat pada usia tujuh tahun, dan pukullah ia, apabila ia tidak sholat pada usia sepuluh tahun. Rasulullah memberikan pembelajaran kepada orang tua, bahwa sholat itu sangat penting, karena ada nilai-nilai pendidikan di dalamnya.

Diantaranya adalah mengajarkan tentang disiplin, adil dan kerjasama. Setiap sholat yang akan dilakukan sudah diatur waktunya dan tata caranya. Tidak boleh melakukannya di luar waktu yang telah ditentukan, dan caranya pun harus mengikuti ketentuan syari’at Islam. Di dalam sholat juga mengajarkan tentang kerasama, karena di dalam sholat berjamaah ada kerjasama. Seperti meluruskan dan merapatkan  shap ketika hendak sholat. Di dalam sholat juga megajarkan untuk menjadi pribadi yang adil. Sebagai wujud bahwa seseorang tersebut adil adalah seseorang dapat membagi waktunya, kapan untuk dirinya, untuk orang lain, dan kapan untuk ibadahnya kepada Allah SWT. (***)

Related posts