Penguatan Ideologi Pancasila

  • Whatsapp
Ari Sriyanto, M.Pd.
Ketua DPW LDII Prov. Bangka Belitung

Kemerdekaan Indonesia lahir bukan saja melalui proses olah fisik yang heroik. Terapi melalui proses olah batin dan akal sehat yang mendalam tentang kebangsaan Indonesia yang menyatu dengan tradisi luhur bangsa. Kesemuanya tidak hanya digali dari sumber keagungan dan kemurnian terdalam dan mengalir dalam tradisi anak negeri dan mengendap sebagai mutiara kebijakan dan keluhuran, tetapi juga diformulasikan secara genius dan elegan oleh Bung Karno menjadi Pancasila yang digali dari bumi Indonesia sendiri.

Kekekalan rumusan Pancasila menjadi bukti bahwa para Bapak Bangsa mememiliki kebeningan nurani dan mata hati dalam memproyeksikan bangunan politik ideal Indonesia ke depan, yakni Indonesia Raya. Sayangnya, penghormatan terhadap pancasila justru menempatkannya sebatas teks sakral yang kosong, seolah-olah dalam situasi vakum ideologi. Ketika para pendiri bangsa menyusun Pancasila. Filsafat bangsa ini diserap dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, yang diakui kebenarannya secara universal. Ia adalah rekam jejak kebijakan lokal, yang telah hidup sejak abad pertengahan. Tantangannya, generasi muda kini tak mengenal Pancasila akibat reformasi meninggalkan Pancasila di ruang yang gelap. Terabaikan. Lantas, di saat bangsa Indonesia melaju tanpa jati diri dalam politik global, sudah saatnya generasi  muda mengenali sekaligus menjalankannya.

Read More

Untuk itu, 1 Juni yang merupakan hari lahir Pancasila menjadi momentum membangkitkan ingatan kolektif bangsa, bahwa Pancasila merupakan kekuatan bangsa Indonesia untuk meraih kembali cita-citanya yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Bukan persoalan mudah mengembalikan bangsa ini menjalankan kembali Pancasila. Tekanan global, ketidakberanian, kepentingan pribadi dan golongan seperti melupakan elit politik dari tujuan bangsa. Pancasila sebagai pedoman bangsa diabaikan oleh para elit politik, dan para pemuda menganggap Pancasila hanyalah hiasan dinding sekolah.

Tak ada yang berubah dari Pancasila ketika reformasi bergulir, baik dalam konteks ketatanegaraan, kebangsaan, kemasyarakatan, maupun akademik. Sejak pemerintahan BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini Joko Widodo, Pancasila tetap menjadi dasar dan ideologi negara, meskipun sebatas pernyataan konstitusi.

Related posts