Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Pembentukan Karakter Anak

Penulis: Santi Virgianti, M.Pd.I
Guru di SMK Negeri 1 Kelapa Bangka Barat, Babel

Keluarga merupakan pusat pendidikan pertama, tempat anak berinteraksi dan memperoleh kehidupan emosional.  Anggota keluarga, terutama orang tua adalah orang-orang yang pertama dimana anak mengadakan interaksi. Sebab pada perkembangan hidup, manusia secara esensial terpengaruh apa yang ia lihat. Kemudian, mengikuti dan meniru sebelum bisa menggunakan daya akalnya. Dari meniru ini motif-motif kebaikan atau yang lebih dikenal dengan naluri  anak  tumbuh berkembang. Selanjutnya, dari meniru dan mengikuti komunitas orang-orang tua yang ada di sekitarnya inilah, seorang anak memperoleh standar-standar bersama, nilai-nilai dan kecendrungan-kecendrungan. Standar, nilai dan kecendrungan, yang menjadi patokan anak untuk bertingkah laku hingga akan terbentuk sebuah karakter.  Oleh karena itulah, pendidikan karakter harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Tentu saja, keluarga yang menjadi lingkungan pertama pendidikan karakter.

Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, karakter adalah kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen dan watak. Sedangkan Imam Al Ghazali menganggap karakter lebih dekat kepada akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap atau melakukan perbuatan yang telah menyatu  dalam diri manusia, sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Berdasarkan pengertian menurut Imam Ghazali tersebut, lantas muncul pertanyaan, kapan pendidikan karakter tersebut bisa kita lakukan ? Rasulullah membagi tahapan pendidikan anak menjadi tiga. Pertama, usia 0-7 tahun, perlakukan anak seperti raja. Kedua, usia 7-14 tahun perlakukan anak seperti tahanan. Ketiga, usia 14-21 tahun perlakukan seperti kawan.  

Dari ketiga tahapan tersebut, tahapan pertama dan kedua, yakni 0-14 tahun yang menjadi waktu terbaik untuk menanamkan pendidikan karakter. Tahapan pertama, usia 0-7 tahun saatnya untuk mengenalkan apa saja karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Usia tersebut adalah masih tanggung jawab orang tua. Disinilah peranan orang tua dalam menanamkan pendidikan karakter.

Landasan untuk mengenalkan karakter tersebut adalah Alquran dan Hadits. Dimulai dari pendidikan tauhid, yakni pengenalan terhadap sang pencipta. Setelah mengenal tauhid atau keimanan kepada Allah, dilanjutkan kepada pengenalan kepada Rasulullah SAW. Pengenalan terhadap Nabi Muhammad SAW sangat penting, sebab beliaulah sosok teladan pendidikan karakter. Beliau diutus ke muka bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia.

Dalam pandangan Islam, tahapan pembentukan karakter dimulai sejak sedini mungkin, yaitu dengan tahap-tahap pendidikan karakter yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Tahap-tahap pembentukan karakter beserta pendidikan karakter pada anak dalam pandangan Islam adalah sebagai berikut:  Pertama, Tauhid (0-2 tahun). Nabi memerintahkan untuk mengajarkan kalimat la ilaha illallah kepada setiap anak yang baru bisa mengucapkan kata-kata sebanyak tujuh kali, sehingga kalimat tauhid ini menjadi ucapan mereka yang pertama kali dikenalkannya. Kedua, Adab (5-6 tahun). Pada fase ini siswa diajarkan nilai-nilai karakter tentang adab, jujur, mengenal mana yang benar atau salah, mengenal yang baik atau buruk, mengenal mana yang diperintah atau yang dilarang.

Ketiga, tanggung jawab (7-8 tahun). Perintah agar anak usia tujuh tahun dimulai menjalankan salat menunjukan bahwa anak mulai di didik untuk bertanggung jawab. Anak mulai diminta untuk membina dirinya sendiri, memenuhi kebutuhan, kewajiban diri sendiri. Keempat, peduli (9-10 tahun). Pada fase ini, anak diajarkan tentang nilai karakter yang meliputi menghargai orang lain, menghormati orang lain, bekerja sama, tolong menolong dan saling membantu. Kelima, Kemandirian (11-12 tahun). Mandiri ditandai dengan kesiapan dalam menerima risiko sebagai konsekuensi tidak menaati aturan. Anak telah mampu menerapkan hal-hal yang menjadi perintah atau yang menjadi larangan.

Keenam, bermasyarakat (13 tahun ke atas). Pada usia ini, anak telah siap bergaul di masyarakat dengan berbekal pengalaman yang dilalui sebelumnya, anak akan mampu melakukan adaptasi dengan masyarakat.

Itulah tahapan pendidikan karakter anak, dimulai dari bimbingan orang tua di usia 0-7 tahun. Ketika  memasuki usia 7 tahun, anak mulai masuk lingkungan sekolah. Orang tua mulai berbagi tugas dengan guru di sekolah dalam mendidik karakter anak. (***).

Diatas Footer
Light Dark