Pembangunan Kantor Desa Air Selumar Mangkrak

  • Whatsapp
PAGAR AMBRUK – Pagar kantor desa Tanjung Binga yang belum lama dibangun ambruk. Diduga pembangunan dikerjakan tidak sesuai spek. (Bastiar Riyanto)

SIJUK – Mangkraknya pengerjaan Kantor Desa Air Selumar Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung, sepertinya mulai dibidik pihak Kejaksaan Negeri Belitung.
Pembangunan kantor desa Air Selumar yang dikerjakan oleh CV. Cahya Abadi menggunakan dana desa senilai Rp800.000.000.- terhenti dan menyisakan pekerjaan pengecatan gedung yang belum selesai.
Diketahui, pekerjaan tersebut selesai November tahun lalu. Mirisnya, dana pembangunan sudah diserahkan semua kepada kontraktor.
“Uang proyek sudah diserahkan full kepada kontraktor sebelum 31 Desember tahun lalu,” kata Sekdes Deki Risandi, Jum’at (10/01/2020) yang memprediksi progres proyek sudah mencapai lebih dari 90% . Yang tersisa, lanjut Deki adalah uang honor TPK dan pajak.
Deki Risandi mengungkapkan, kontrak antara Pemdes dengan kontraktor CV. Cahya Abadi sudah ditandatangani sejak Mei 2019 dengan masa kerja selama 180 hari.
Deki mengaku pemerintah desa sudah mendatangi kejaksaan untuk konsultasi terkait kelanjutan proyek itu. Namun. Deki enggan mengungkapkan hasil konsultasi dengan kejaksaan.
“Kalau hasil konsultasi dengan kejaksaan sebaiknya tanya langsung ke pak Kades,” kata Deki.
Sayangnya, Ketika dilalukan konfirmasi, Minggu, (12/01/2020) kades Air Selumar Iman Rafli menyebut tidak penting untuk konfirmasi lagi terkait hasil konsultasi dengan kejaksaan.
“Itu tidak penting,” tukas Iman Rafli melalui sambungan telpon.
Dari informasi yang diperoleh Rakyat Pos, kades Air Selumar sendiri telah dipanggil pihak kejaksaan terkait dugaan penyelewengan dana proyek kantor desa.
Apalagi disinyalir ada kucuran dana sekitar Rp.100.000.000.- untuk kepentingan pembangunan kantor desa sebelum ditandatangani kontrak.
“Jika sudah berakhir kontrak, dan pekerjaan tidak selesai bayar sesuai prosentase pekerjaan,” tegas kasi Intel kejaksaan Belitung, Anggoro, SH. Kamis, (09/01/2020).
Menurut Anggoro, kehadiran perangkat desa Selumar terdiri kades Selumar Iman Rafli, Sekdes Deki Risandi, TPK, bendahara desa dan Direktur CV. Cahya Abadi Johari pada Kamis lalu untuk konsultasi.
“Mereka datang untuk berkonsultasi dengan kejaksaan, bukan dipanggil,” sebut Anggoro.
Sementara pantauan dilapangan terlihat beberapa ruangan bagian dalam gedung, dinding bagian belakang, plafon bagian belakang, dinding bagian samping belum dilakukan pengecatan, sementara dinding bagian depan sudah dicat tapi belum sempurna, bahkan ada atap yang bocor.

*Proyek Molor
Sedangkan pembangunan rumah dinas Kementerian PUPR Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Besar PJN Palembang, Satker PJN Wilayah Provinsi Babel di Kabupaten Belitung sempat menjadi pembicaraan masyarakat.
Proyek menggunakan anggaran APBN dengan nilai Rp 1,6 milyar tersebut tidak selesai tepat pada waktunya.
Bahkan proyek yang dikerjakan oleh CV Aero Indonusa Kontruksi tersebut diinformasikan dikerjakan dengan asal-asalan.
Menanggapi hal ini, wartawan Rakyat Pos mencoba melakukan konfirmasi hal tersebut.
Dari pantauan dilapangan, memang masih didapati pekerja yang sedang membereskan pipa saluran air.
Selain itu, pekerja juga melakukan penimbunan dibagian belakang gedung tersebut. Bahkan didapati pondasi proyek tersebut susunan batu yang tidak terkena adonan semen.
Saat dilakukan konfirmasi, Reno selaku pengawas dari dinas PUPR pada proyek tersebut mengatakan membantah terkait dengan isu yang beredar.
Menurut Reno proyek rumah dinas tersebut selesai tepat pada waktunya pada tanggal 31/12/2019 lalu.
“Itu sampah-sampah tidak masuk dalam kontrak, barang bangunannya sudah 100 persen. Sebelum serah terima kami minta bersihin dulu,” kata Reno kepada Rakyat Pos, Jum’at (9/01/2020).
Terkait dengan pekerja yang melakukan penimbunan dan pemasangan pipa pengairan dia tidak mengetahuinya.
“Wah kami tidak tahu itu, kami cuma minta bersikan,” ujarnya.
Mengenai pondasi bangunan yang telihat asal-asalan dan terlihat seperti tidak disiram adonan semen dia mengakuinya.
Namun menurutnya, hal itu tidak terlalu menjadi masalah baginya. Sebab, hanya sebagian yang tidak terkena adonan semen.
“Bener ditimbun, tapikan sebenernya kami ada PHO, PHO itukan serah terima pekerjaan. Serah terima pekerjaan itu kan belum, pas serah terima pekerjaan itu ada pemeliharaan,” jelasnya.
“Kalau itu (pondasi bolong-red) memang tidak sesuai, Nanti kita minta tolong diperbaikin, kan bisa masih masa pemeliharaan,” sambungnya.
Ketika disinggung mengenai kualitas proyek dan dampak dari pondasi yang tidak disiram dengan adonan semen menurutnya hak itu tidak menjadi masalah yang serius.
“Kalau sebagian sudah terpasang berarti yang ini saja kan, satu meteran kan, ya seperti saya bilang itu tadi, tetap salah. Tapi masih ada tahap pemeliharaan,” ungkapnya.
Disamping itu, Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Belitung, Anggoro saat dilakukan konfirmasi mengatakan akan mencoba mentelaah hal ini jika didapati data pekerjaan.
“Itu tidak ada TP4D, kita belum tahu metodenya seperti apa. Yang penting intinya tidak mempengaruhi kualitas, itu saja,” ujar Anggoro kepada Rakyat Pos.
“Nanti ya, bukannya gimana, kita kan masih banyak kegiatan. Tapi coba kirimkan dulu datanya kita akan telaah dulu nanti seperti apa. Bertahap ya, karena masih banyak kegiatan,” ungkapnya. (yan/dod/6)

Pos terkait