Pemasok Timah Kadar Rendah Itu Ternyata Kolektor AG

  • Whatsapp

Diduga Terjadi Persekongkolan Jahat

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG – Dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang tengah diusut tim penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung (Pidsus Kejati Babel), dalam kasus pembelian ratusan ton pasir timah kadar rendah di PT Timah, Tbk ternyata benar-benar melibatkan seorang kolektor pasir timah berinisial AG.

Kolektor besar yang berdomisili di Kabupaten Bangka Barat ini, menjadikan sopirnya sebagai boneka untuk menjabat direktur perusahaan, lalu menjual timah kadar rendah ke gudang PT Timah Wilayah Produksi (WP) I Tanjung Gunung, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.

Baca Lainnya

Diduga kuat, terjadi persekongkolan jahat penjualan pasir timah itu antara AG selaku kolektor, dengan oknum-oknum karyawan PT Timah di gudang WP I Tanjung Gunung. Sebab, dalam aturan di PT Timah, tidak dibenarkan membeli pasir timah dibawah standar kadar yang telah ditetapkan.

“Tapi karena mereka indikasinya bermain, kongkalikong jadi si AG ini selaku kolektor bekerjasama dengan oknum internal. Pasir timah yang kadarnya rendah itu tetap dibeli dan dibayar. Padahal itu dilarang, tidak boleh. Ada kebijakan direksi yang mengatur berapa kadar timah yang harus dibeli,” ungkap salah seorang karyawan PT Timah yang meminta namanya tidak ditulis kepada rakyatpos.com, Kamis (23/4/2020).

Menurut dia, sangat tidak adil jika hanya oknum karyawan PT Timah saja yang disorot bersalah dalam kasus ini. Karena, keterlibatan AG selaku kolektor timah sangat jelas. Sehingga bila hendak ditingkatkan ke tahapan penyidikan, pihak kejaksaan diminta juga untuk menyeret AG.

“Tidak mungkin internal kami sengaja mencari timah kadar rendah untuk dibeli. Namun pasti ada yang menawar juga, lalu dilanjutkan dengan kesepakatan kemudian jadilah jual beli. Harus diseret juga itu kolektor yang masok barang,” tandasnya.

Sayangnya, sumber itu enggan memaparkan lebih jauh terkait kasus yang tengah diselidiki pihak Kejati Babel ini dan aturan direksi yang mana mengatur tentang pembelian pasir timah dimaksud.

“Pihak kejaksaan tengah menyelidiki pasti tau kebijakan direksi yang mana. Direksi juga telah diperiksa,” tukasnya.

Seperti diketahui, kasus pembelian ratusan ton pasir timah kadar rendah tahun 2017 hingga 2019 tengah didalami pihak kejaksaan.

Sudah belasan orang, baik itu karyawan PT Timah maupun pihak eksternal diperiksa tim penyidik Pidsus Kejati Babel.

Bahkan baru-baru ini seorang direktur perusahaan swasta yang memasok pasir timah kadar rendah berikut dengan pemodalnya, juga telah diperiksa penyidik.

Dari keterangan sumber di Kejati Babel, gudang tempat penyimpanan pasir timah milik pengusaha pemasok timah itu pun telah didatangi tim penyidik Asspidsus Kejati Babel untuk digeledah.

“Pengusaha itu kolektor timah asal Kabupaten Bangka Barat. Dia sudah diperiksa dan direkturnya juga diperiksa. Gudangnya juga telah digeledah. Kawan-kawan wartawan pasti tau lah siapa orangnya,” ungkap sumber itu.

Menurut dia, direktur perusahaan berbentuk CV tersebut sebenarnya hanya menjadi boneka saja dalam jual beli pasir timah milik pemodal. Karena sesungguhnya direktur itu berprofesi sebagai seorang sopir. Tetapi oleh pemodal dipinjam namanya untuk menjadi direktur.

Sedangkan yang mengatur, membeli timah atau pun menjual timah ke PT Timah adalah pemodal ini langsung. Sehingga diduga, dalam penjualan timah berkadar rendah ke gudang PT Timah Wilayah Produksi (WP) I Tanjung Gunung, memang terjadi kerjasama antara pemodal tersebut dengan orang dalam PT Timah.

“Direktur yang sopir itu tentu tidak tau, saat diperiksa juga banyak tidak tau dia karena yang mengendalikan perusahaan langsung kolektor pemodal ini bosnya,” tukas sumber lagi.

Hanya saja diakui, sejak kasus bergulir Februari 2020 hingga sekarang, baik direktur CV itu berikut kolektor pemodal yang memasok pasir timah kadar rendah kepada PT Timah, masih berstatus saksi. Demikian juga beberapa karyawan PT Timah yang diperiksa, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Disinyalir ada tiga orang karyawan PT Timah yang berperan besar dalam dugaan korupsi yang merugikan negara puluhan miliar rupiah ini. Bukan ditataran direksi, namun karyawan ditingkat bawah yang biasa berhubungan dengan kolektor pemasok timah.

“Inisial G, A dan D juga telah diperiksa. Mereka dulu bertugas di gudang PT Timah Wilayah Produksi I Tanjung Gunung,” tandas sumber. (re/1)

Related posts