New Normal, Masker up Normal

  • Whatsapp
Berlian Sitorus
Statistisi BPS Babel

Normal baru sudah dicanangkan, pariwisata di buka dengan menerapkan protokol kesehatan. Satu syaratnya memakai masker. Namun sayangnya, sampai kini keberadaan masker belum jelas. Bahkan Apotek plat merah kehabisan stok, masker ditawarkan seharga Rp250 ribu per box. Harga masker sekarang memang cukup menjengkelkan. Saat kita diwajibkan memakai masker, harga melonjak. Bahkan, ada kalanya “masker kesehatan” menghilang dari apotek. Namun anehnya, menjamur pula di forum jual-beli masker berbagai merk dengan harga beraneka ragam.

Padahal tahun 2019 lalu, harga masker hanya seribu rupiah per lembar. Kalau beli per box, cukup merogoh kocek Rp30 ribu. Jelas, harga masker sekarang ini bisa dikategorikan sebagai “mark up harga”. Penyedia produk menaikkan harga tanpa mengeluarkan biaya apa pun.

Seharusnya, harga yang dibebankan ke pembeli sama dengan biaya yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan produk sampai ke tangan konsumen. Logika sederhana, biaya produksi tahun ini, masih sama dengan tahun lalu. Kalau mengacu harga normal, katakanlah seribu rupiah per lembar, maka harga jual lima ribu per lembar mengandung mark up empat ribu rupiah ( = ratusan persen). Apakah menaikkan harga empat ribu rupiah termasuk wajar?

Kita hitung saja, kalau per lembar terjadi mark up sebesar Rp4000. Dalam sejuta box setara dengan Rp200 milyar. Itulah sebabnya, dalam teori ekonomi mikro, mark up harga disebut sebagai cikal bakal korupsi. Secara hukum, korupsi termasuk tindak pidana. Bahkan dikategorikan “extraordinary crime”. Ya, kejahatan luar biasa, sehingga dibentuk lembaga khusus bernama KPK untuk memberantasnya.

Baca Lainnya

Namun, sudah tiga bulan lebih masalah harga masker ini. Belum ada tanda-tanda akan berakhir. Padahal, normal baru sudah dicanangkan. Kita akan beraktivitas di luar rumah dan wajib pakai masker. Normalnya, kebutuhan masker meningkat. Minggu lalu misalnya, pantai Pasir Padi penuh sesak. Orang berdatangan sampai malam. Semestinya, banyaknya pesanan berkaitan dengan efisiensi ongkos produksi. Produsen masker bisa memaksimalkan produksi dengan biaya yang sama. Kabarnya, produsen masker bedah di Bogor bisa menghasilkan 250 ribu lembar per hari. Di tengah kondisi pandemi ini, produksi dinaikkan menjadi satu juta lembar per hari.

Nah, teorinya, saat permintaan meningkat perusahaan bisa melakukan “increasing return”. Produsen bisa menaikkan hasil produksi masker 4 kali lipat dengan biaya yang mungkin naik hanya dua atau tiga kali lipat. Kalau bisa dilakukan, seharusnya harga jual masker turun. Bukan malah naik.

Sekarang masih banyak menjual masker kain dan karet di jalanan. Harganya puluhan ribu per biji. Warga terpaksa membelinya, karena aturan protokol kesehatan. Harga mahal tentu tak jadi soal kalau kualitas terjamin. Sayangnya, sehat tidaknya masker jalanan itu belum ada ujinya.

Sebagai warga, tentu kita berharap kehadiran Pemerintah untuk melakukan stabilisasi harga. Pertama, perlu memasukkan masker ke dalam paket komoditas yang harganya dipantau rutin. Langkah selanjutnya, tinggal mengikuti “pengendalian inflasi”. Semoga normal baru, harga masker pun kembali normal.(***).

Related posts