Nasib PT BAA Ditentukan Hari ini

  • Whatsapp
Wakil Bupati Bangka, Syahbudin

SUNGAILIAT – Pemerintah Kabupaten Bangka hingga kemarin masih menunggu hasil kajian tim independen dari Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, Jawa Barat sebelum memutuskan langkah yang akan diambil terkait permasalahan pengelolaan limbah pabrik PT Bangka Asindo Agri (PT BAA).

Wakil Bupati Bangka, Syahbudin mengatakan, saat ini tim independen tersebut sudah turun ke lokasi untuk melihat secara langsung pengelolaan limbah pabrik tapioka yang selama ini dikeluhkan bau busuknya oleh masyarakat Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Mereka sudah turun, jadi kita tunggu hasilnya seperti apa nanti. Kita akan sampaikan sesuai dengan fakta-fakta di lapangan dan upaya yang dilakukan PT BAA jadi komprehensif,” ungkapnya kepada Rakyat Pos, Senin (9/3/2020).

Ia menegaskan, bahwa hasil kajian tersebut akan diumumkan hari ini, Selasa (10/3/2020) dengan mengundang seluruh elemen, baik dari pemerintah, independen hingga masyarakat.

Baca Lainnya

“Besok (hari ini-red) akan diumumkan. Hari ini (kemarin-red) kan (tim independen) masih kerja. Kita akan panggil dari tim lokal, tim independen, DLH serta masyarakat dan PT BAA,” tambahnya.

Syahbudin menyebutkan, Pemkab Bangka akan menentukan sikap dari hasil tim independen sesuai dengan temuan tim yang turun di lapangan.

“Jadi kita lihat nanti keputusannya seperti apa. Apakah nanti memang harus diberhentikan sementara atau apa, kita lihat saja nanti. Yang pasti kita sesuai dengan hasil riil dari lapangan,” tegasnya.

Sementara itu manajemen PT BAA mengaku siap menerima hasil apa pun pantauan dari tim independen terkait pengelolaan limbah pabrik ubi tapiokanya.

Humas PT BAA, Sulaiman mengklaim saat ini air dari limbah hasil produksi tepung tapiokanya sudah diatas standar.

“Kemarin selasa sudah ada kunjungan dari Dinas Lingkungan Hidup, secara parameter pH limbah kita sudah tujuh walaupun masih ada yang dibawah itu, tapi sedikit,” ungkapnya saat dikonfirmasi.

Ia tak menampik kalau masih ada bau busuk yang diakibatkan oleh limbah pabrik tersebut, namun itu diakui hanya bersifat sementara saja.

“Memang masih ada bau, tapi hanya sementara dan tidak lama. Pernah ada laporan bau, pas kita ke lokasi ternyata baunya sudah hilang,” tambahnya.

Meskipun begitu, pihaknya kata Sulaiman tetap berproduksi walau hanya dibatasi 100 ton per hari, agar limbah yang dihasilkan dapat teratasi secara maksimal sesuai rekomendasi dari pihak pemerintah.

“Kita tetap produksi karena kasian sama masyarakat yang sudah datang ke sini untuk menjual ubinya, hanya saja kita batasi sehari 100 ton saja,” terang dia.

Sulaiman juga mengklaim pihaknya sudah bisa menangani masalah bau tersebut dengan cukup baik. Menurutnya, bau yang dihasilkan oleh limbah pabrik PT BAA sudah standar industri.

“Parameternyakan pH, standarnya 6 lebih sedangkan kita sudah 7. Intinya apa yang disarankan oleh tim teknis dari DLH kita jalankan semaksimal mungkin, bahkan kita juga tambah digester (kolam penanganan limbah-red) baru,” ungkapnya.

Selain itu pihaknya mengaku saat ini hanya perusahaan mereka yang sudah menerapkan biogas yang dihasilkan dari limbah produksi pabrik tapioka. (mla/1)

Related posts