Menunggu Kontribusi Nyata Generasi Muda dalam Penanganan COVID-

  • Whatsapp
Jarir Idris
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Surakarta

Dunia digentarkan dengan adanya wabah yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Namun, Perlu kita telisik lebih dalam apakah wabah yang menyerang umat manusia yang lebih kita kenal sekarang denfan sebutan COVID-19 hanya terjadi sekarang? Lalu bagaimana sikap yang harus kita ambil? Dan bagaimana hal yang seharusnya kita lakukan, agar pandemi segera berakhir?

Sejatinya, COVID-19 merupakan virus saluran pernafasan yang tergolong berbahaya dari SARS dan MERS yang telah ada sebelumnya. Karena jika dilihat dari angka jumlah kematian yang signifikan, mengubah tatanan dunia dan sikap sosial masyarakat secara keseluruhan. Yang sebelumnya bergerak bebas, kini demi keselamatan nyawa, harus mengikuti protokol kesehatan dari WHO dan Physical Distancing (jaga jarak aman) dalam aktivitas keseharian.

Tampaknya semua sudah ada dalam sejarah peradaban manusia yang berlangsung sejak dahulu kala. Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan wabah kaum Sodom yang ada di Yordania, kemudian wabah Athena yang telah terjadi lama sebelum masehi, wabah Sipiran yang dikenal dalam agama kristen, dan juga masih banyak wabah yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Tidak hanya virus corona saja, melainkan nenek moyang kita dahulu juga pernah mengalami hal yang sama dengan yang kita alami saat ini. Mungkin saja, tantangan mereka juga berat sama halnya seperti kita saat ini. Karena sejatinya Tuhan tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan para hamba-Nya.

Justeru dengan adanya wabah ini, kita diberikan tantangan dalam lingkaran kehidupan, yang senantiasa berputar untuk memberikan win-win solution. Bukan hanya pasrah dengan keadaan, melainkan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melewati tantangan hidup ini. Kita adalah bangsa yang besar, yang bisa melewati cobaan yang tuhan berikan atas kehendak-Nya. Terlebih khususnya adalah kaum muda. Karena mereka adalah generasi yang dituntut untuk berpikir, berbuat dan bertindak yang terbaik demi bangsa dan negara. Kajian dan pembelajaran nyata dengan cara pandang yang objektif sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, yang pada akhirnya nanti diharapkan menawarkan solusi terbaik kepada semua lapisan masyarakat.

Baca Lainnya

Dunia saat ini, berbebeda kondisi. Bahkan dalam pendidikan maupun pemerintahan sekalipun yang dulunya bisa dilakukan secara offline, sekarang berubah menjadi online. Dahulu kebutuhan teknologi hanya kebutuhan tersier, kini berubah menjadi kebutuhan primer. Ketika kemarin kaum rebahan disebut sebagai pemalas, kini hanya dengan #dirumahsaja menjadi pejuang keselamatan umat manusia.

Roda ekonomi yang mengadat, meresahkan masyarakat. Terlebih para wirausahawan yang bergantung pada aktivitas normal, kini harus memutar otak agar bisa mencukupi kebutuhan. Tentunya ini menjadi dilematika besar kepemimpinan dalam mengambil kebijakan. Salah sedikit saja, maka nyawa rakyat yang menjadi taruhan.

Dalam kondisi sedemikan rupa, generasi muda tidak boleh hanya berteori belaka tanpa aksi nyata. Harus dengan hasil yang nyata, tanpa menjelma menjadi pengemis yang terhormat dengan menyebarkan nomor rekening saja. Namun, dituntut untuk bisa bekerja sama, bahu membahu dengan stake holder yang berperan di garda depan yang menangani COVID-19 ini. Tentu berat, karena kita hidup di zaman yang serba menuntut aksi instan tanpa peduli dengan pengorbanan. Zaman dimana eksistensi lebih diperlukan untuk membangun rasa kemanusiaan daripada hanya diam tanpa memberi kemanfaatan. Tidak sedikit yang menyerah dengan keadaan, sampai mengandalkan bantuan. Dan memang hal tersebut tidak salah, jika benar-benar mereka tidak bisa berkutik di era pandemi ini.

Hanya saja kita sebagai generasi muda, tidak lantas berpangku tangan dan berangan-angan belaka bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Negara menunggu kontribusi kita (generasi muda) nyata kepada rakyatnya dalam membantu menangani wabah COVID-19 ini. Patutnya, kita harus berpikir cerdas dan bekerja keras untuk membantu lingkungan sekitar kita.

Media sudah dalam genggaman, sehingga informasi dari jauh pun mudah didapatkan. Tampaknya, masyarakat kita tidak hanya membutuhkan uluran tangan dalam hal ekonomi saja, melainkan juga dukungan psikis yang perlu dibangun dengan pikiran-pikiran yang positif. Banyak media yang menjual ketakutan dan kehebohan belaka, karena dalam ilmu media bad news is a good news berita yang buruk adalah berita yang baik.

Kita perlu memberikan dedikasi positif tanpa memberi rasa takut, hanya untuk kepopuleran belaka. Rasa kemanusiaan yang tinggi dalam diri pribadi perlu dieksplorasi untuk menunjukkan kepedulian kepada masyarakat luas. Memberikan apa yang kita punya tanpa mengharapkan imbalan, atau yang kita kenal dengan istilah pamrih.

Pemikir dibangku akademisi juga harus ikut andil dalam menghadapi pandemi yang merebak ke semua lini. Para pemangku agama diharapkan memberikan angin sejuk pada hawa panas karena COVID-19. Media harus memberikan arahan positif tanpa ada unsur keuntungan individualis. Pemerintah juga wajib ikut serta mengambil kebijakan yang serius dalam menghadapi pandemi, demikian pula rakyat harus bersatu dalam tindakan, untuk menyelamatkan antara satu dengan yang lainnya.

Hal itu semua mustahil terwujud, tanpa adanya kerja sama yang baik pada semua lapisan masyarakat. Kita harus bekerja sama untuk keselamatan, menurunkan ego sejenak demi kebaikan dan melakukan aksi nyata untuk mematuhi protokol kesehatan demi nyawa jutaan orang. Mau berkorban, berjiwa kemanusiaan dan melindungi lingkungan sekitar demi terciptanya kehidupan normal kembali. Dan jika semua hal tersebut sudah dilakukan, kita juga harus bersabar dan berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pandemi segera berakhir. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat-Nya. Aaamiin.(***).

Related posts