Menumbuhkan Budaya Baru dalam Aktivitas Rutin

  • Whatsapp
Yuni Ayu Izma
Mahasiswa STISIPOL PAHLAWAN 12 Sungailiat, Bangka, Babel

Penularan Covid-19 yang sudah berjalan lebih dari dua bulan ini, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan di negeri ini. “Teror” virus mematikan ini pun menakuti hampir semua kalangan masyarakat, yang mudah terpengaruh terhadap berbagai penyebaran isu berita. Padahal, berita tersebut belum tentu benar, dan kadangkala membawa petaka terhadap keadaan kehidupannya. Penyakit yang mempunyai ciri khas seperti batuk, flu dan demam berlebihan ini, terlalu rentan tertular antar masyarakat sekitar. Melalui sentuhan, dan berdekatan dengan pasien yang terinfeksi positif Covid-19 juga bisa tertular dengan manusia yang lain.

Berpijak pada peristiwa pandemi Covid-19 itu, kini, pola kehidupan manusia di berbagai  belahan dunia, mengalami perubahan drastis, dengan menjadikan pedoman pola hidup bersih dan sehat (PHBS) agar bisa terhindar dari berbagai penyakit. Pola hidup sehat adalah suatu aktivitas seseorang dalam menjaga tubuhnya agar tetap sehat baik dari segi jasmani maupun rohani pada dirinya yang dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, dan istirahat yang cukup dalam memenuhi kehidupan kesehariannya.

Sebelum beredarnya wabah Covid-19, masyarakat selalu mengabaikan mengikuti prosedur gaya hidup sehat. Dulunya selalu makan tanpa mencuci tangan, sekarang dengan sigapnya selalu mencuci tangan dengan sabun, diikuti air yang mengalir dan menggunakan hand-sanitizer. Dulunya  selalu berinteraksi secara bebas tanpa batas antar sesama manusia, kini mengikuti kebijakan pemerintah dengan menerapkan physical distancing dan melakukan social distancing di tempat keramaian pada saat berinteraksi, kemudian menggunakan masker dan hand-sanitizer pada saat bepergian.

Dengan kondisi yang tidak kondusif ini, telah banyak merubah tatanan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, seperti lumpuhnya sektor perekonomian. Berbagai aktivitas kehidupan mulai berubah yang sebelumnya dilakukan secara langsung, namun sekarang banyak aktivitas mengharuskan dilakukan secara online (daring).

Baca Lainnya

Presiden Joko Widodo seperti yang dikutif salah satu media online nasional, 2020, sempat menyebut masyarakat harus kembali produktif. Memasuki  kehidupan normal baru, tatanan peraturan baru harus bisa menerima dengan lapang dada. Adanya sebuah kesadaran yang kuat, kedisplinan yang kuat dan menumbuhkan sikap kedisplinan, itu perlu dilakukan seperti memakai masker saat di luar rumah, rajin cuci tangan, menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh, serta menjaga jarak. Adanya Proses beradaptasi menuju pola hidup baru itu tidak mudah dilakukan.

Psikologi Klinis Ida Ayu Saraswati Indraharsani mengatakan, mengikuti penerapan “New Normal” dapat mempengaruhi kesehatan mental. Pasalnya, banyak tantangan hidup yang harus dihadapi oleh masyarakat untuk menjalankan kehidupan tersebut. Kehidupan “New Normal” berdasarkan dari Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.07/MENKES/328/2020 adalah kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang dalam beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada situasi Covid-19.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya untuk menanggulangi penyebaran virus corona dengan salah satunya adalah meliburkan tempat kerja dan anak sekolahan. Namun, dunia kerja tidak selamanya ada pembatasan, kebutuhan ekonomi harus tetap berjalan dengan semestinya dan pemberlakuan PSBB masih tetap berlangsung dan dipatuhi, maka dibutuhkan mitigasi dan kesiapan tempat kerja semaksimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi terhadap pola hidup yang bersih dan sehat di “New Normal”. Perubahan pola hidup baru diharap bisa meminimalisir berbagai risiko dan dampak penyebaran pandemi Covid-19 di tempat kerja, khususnya perkantoran dan industri yang berpotensi penularan Covid-19, karena berkumpulnya banyak orang dalam satu lokasi mudah menularkan Covid-19.

Kondisi ini, bisa menjadi sejarah kehidupan, secara tidak langsung mendapatkan pembelajaran berharga. Masyarakat menjadi lebih terdidik menjalani keadaan, menjadi lebih disiplin dan familier, sehingga tidak mengabaikan remeh dengan kebersihan. Perilaku hidup sehat dan bersih menjadi modal utama agar memiliki diri yang sehat, dan tidak mudah terserang virus.

Adanya kebijakan Kehidupan “New Normal” bagi masyarakat, akan menumbuhkan budaya baru dalam menjalankan aktivitas rutin sesuai dengan profesi dan peran masing-masing,  maka roda perekomian akan terus berkembang dan akan tumbuh ke arah perbaikan dalam menutupi anggaran sebelumnya, yang dikeluarkan secara tidak terduga. Secara logika dalam memaksimalkan diri berpola hidup sehat, pertumbuhan segala usaha berdampak baik, terutama pada kesejahteraan karyawan atau pegawai. Kesejahteraan karyawan untuk mewujudkan kesehatan dan kenyamanan dengan mengonsumsi makanan bergizi dibutuhkan biaya yang banyak, dan biaya ini dapat dipenuhi apabila pendapatan mereka (pegawai-red) meningkat.

Sebenarnya, Kehidupan “New Normal” menyisipkan berbagai norma baru untuk tetap beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari seperti biasanya tanpa mengesampingkan kesehatan, boleh tetap beraktivitas dan berpedoman pada protokol kesehatan. Jika menderita sakit segera periksakan diri ke rumah sakit terdekat, dan bisa bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Namun jika dampaknya kecil, dan tidak bersifat tertular, boleh masuk kerja dan tetap dalam pengawasan untuk mengurangi risiko penyebaran virus corona, serta perkembangannya selalu dalam pantauan oleh pihak yang berkompeten.(***).

Related posts