Menghidupkan Kembali Industri Perfilman Tanah Air

  • Whatsapp
Agus Purnama
Analis Kelembagaan (Pelaksana) Pada Disbudpar Prov. Kep. Babel

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang tak kunjung berakhir di sejumlah negara, termasuk Indonesia telah berdampak buruk hampir di berbagai bidang mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, pariwisata, olahraga, dan juga tentunya, industri kreatif di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak bisa dipungkiri bahwa sektor industri kreatif di seluruh dunia memang terus menggeliat di era milenial sekarang. Di Indonesia sendiri, Industri kreatif sangat berperan penting bagi penopang pertumbuhan ekonomi, baik itu secara digital maupun konvensional.

Menurut Wikipedia (Juni:2020), Industri kreatif dapat diartikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi. Dengan kata lain, industri kreatif lebih dikenal sebagai industri budaya atau juga ekonomi kreatif.

Lebih lanjut, Kementerian Perdagangan Indonesia menyatakan bahwa industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Baca Lainnya

Sub sektor yang merupakan industri berbasis kreativitas di Indonesia berdasarkan pemetaan industri kreatif yang telah dilakukan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, yaitu: Pertama, Periklanan, yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa periklanan; Kedua, Arsitektur yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan jasa desain bangunan/konstruksi; Ketiga, Pasar Barang Seni yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, dan internet; Keempat, Kerajinan yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya; Kelima, Desain yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan.

Keenam, Mode (fashion), yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultasi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen; Ketujuh, Video, Film dan Fotografi yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film; Kedelapan, Permainan Interaktif yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi; Kesembilan, Musik yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara; Kesepuluh, Seni Pertunjukan yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha pengembangan konten, produksi pertunjukan.

Kesebelas, Penerbitan dan Percetakan, yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita dan pencari berita; Kedua belas, Layanan Komputer dan Peranti Lunak yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer/Laptop; Ketiga belas, Televisi dan Radio yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan acara televisi (seperti games, kuis, reality show, infotainment, dan lainnya), penyiaran, dan transmisi konten acara televisi dan radio; Keempat belas, Riset dan Pengembangan yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru; dan yang Kelima belas, Kuliner yaitu kegiatan kreatif ini termasuk baru, kedepan direncanakan untuk dimasukkan ke dalam sektor industri kreatif dengan melakukan sebuah studi terhadap pemetaan produk makanan olahan khas Indonesia yang dapat ditingkatkan daya saingnya di pasar ritel dan pasar internasional.(Wikipedia : 3 Juni 2020).

Mewabahnya infeksi Coronavirus tentu saja telah berdampak buruk pada kelima belas sektor industri kreatif tersebut, salah satunya industri kreatif terkait video, film dan fotografi, yakni industri perfilman di dalam negeri yang dalam beberapa tahun terakhir ini, sedang mengalami lonjakan yang sangat signifikan harus turun drastis karena bencana nasional non alam ini.

Industri dan ekosistem film di tanah air, harus merasakan dampak wabah Covid-19, dari hulu hingga hilir. Mulai dari para pekerja kreatif perfilman hingga proses promosi, dan bahkan terjadinya penutupan gerai bioskop untuk pemutaran film secara luas bagi masyarakat di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI), Edwin Nazir mengatakan, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh produser, ada sekitar 15 proyek film yang jadwal syutingnya harus dihentikan per periode Maret dan April tahun ini, hingga waktu yang belum ditentukan. Ditambahkan dia, jumlah itu belum mencakup proses produksi film-film independen dan yang ada di daerah sehingga angkanya bisa jauh lebih dari ini. Penundaan produksi ini, katanya, berimbas langsung terhadap para pekerja film. Rata-rata pengerjaan proyek film itu sekitar 80 sampai 100 orang kru per proyek. Bisa dibayangkan dampak dari corona ini, dari sisi produksi saja sudah sangat terasa sekali. (Syaiful Millah: 4 April 2020).

Keprihatinan terkait lesunya industri perfilman di tanah air saat ini, juga disampaikan Ketua Persatuan Film Indonesia (PPFI), Deddy Mizwar. Bahkan, Ia meminta dan mendesak supaya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengeluarkan protokol kesehatan di lokasi syuting. Deddy Mizwar tidak ingin industri film dan televisi terkapar di tengah wabah virus corona. Aktor gaek Indonesia tersebut, juga tidak ingin sineas dan kru film ikut terpapar virus corona di tengah ketidakpastian ini.(Irwan Wahyu Kintoko:16 Juni 2020).

Karena hasil karya mereka lewat media film tidak saja sebagai sarana hiburan di masa pandemi COVID-19 saja. Namun, lebih jauh dari itu, film juga bisa sebagai sarana edukasi tentang sosial budaya, sejarah, pariwisata sekaligus berperan penting bagi suatu negara untuk mempromosikan daya tarik yang mereka miliki agar bisa dikenal oleh bangsa lain di dunia.

Kita tentu saja masih ingat, sebuah film berjudul “Laskar Pelangi” karya sutradara Riri Riza yang diproduseri Mira Lesmana pada 2008 yang silam, tanpa disadari telah mempromosikan daerah Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang secara geografis terletak di sebelah selatannya Pulau Sumatera, Indonesia, menjadi lebih dikenal oleh negara-negara lain di dunia melalui film tersebut, yang tidak saja meraih sukses di tanah air dan juga membuat kita bangga karena Film Laskar Pelangi ditayangkan di dunia internasional.

Jadi betapa pentingnya industri perfilman ini bagi eksistensi suatu bangsa, tidak saja di dalam negeri sendiri tapi juga di mata dunia internasional. Dimana film, dalam era globalisasi dapat menjadi alat penetrasi kebudayaan sehingga perlu dijaga dari pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan jati diri bangsa Indonesia.

Semoga anggota parlemen Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bersama Pemerintah Pusat, dan Kementerian terkait yang menangani industri kreatif ini bisa segera merespon positif keinginan para pekerja kreatif di Indonesia untuk menetapkan protokol kesehatan bagi industri perfilman demi menghidupkan kembali industri perfilman tanah air, agar pandemi infeksi virus corona tidak terus-menerus membelenggu kreativitas dan produktivitas mereka dalam berkarya untuk bangsa Indonesia yang besar ini.(***).

Related posts