Menekan Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Grace Miranda Siregar
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Dunia saat ini, masih “berperang” melawan pandemi Covid -19, termasuk di Indonesia. Sebab, setiap bidang kehidupan menjadi terhambat akibat adanya pandemi ini. Persoalan pandemi Covid-19 memang masalah yang sangat serius dihadapi oleh Bangsa ini. Akan tetapi, ada ancaman lain yang nyata tak kalah penting dan berbahaya dari Pandemi corona yaitu perang melawan Narkoba. Meskipun di tengah Pandemi, Pemerintah tidak boleh lengah dalam menyusur berbagai potensi penyalahgunaan narkoba ini, di tengah-tengah masyarakat. Karena narkoba dapat mengancam setiap komponen masyarakat, terutama bagi generasi penerus Bangsa. Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia tersebar di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Badan Narotika Nasional (BNN) mencatat predikat kasus peredaran narkoba tertinggi se-Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Barat. Jumlahnya 5% dari jumlah penduduk, titik kawasan rentan dan rawannya terbanyak di Kabupaten kuningan.

Jika tak segera ditangani, kasus narkoba di tanah air akan menjadi sangat masif, prevalansinya akan terus meningkat. Pengedar maupun pengguna narkoba tidak terdeteksi secara kasatmata bisa saja, mereka yang bekerja di berbagai bidang profesi. Bahkan tidak sedikit Selebriti Indonesia yang terjerat kasus narkoba.

Pada dasarnya, Narkotika merupakan salah satu obat medis yang kerap digunakan untuk pembiusan pasien yang hendak melakukan operasi guna mengurangi rasa sakit. Tetapi, berbagai jenis narkotika ini, kerap disalahgunakan dan menimbulkan efek buruk bagi kesehatan. Sasaran narkoba adalah generasi muda, tak terlepas kaum pelajar dan mahasiswa. BNN mencatat kasus Narkoba mencapai 24% menjerat generasi muda dari empat juta kasus penyalahgunaan narkoba.

Awalnya coba-coba, tergiur oleh rayuan teman sebaya atau teman satu geng pengguna narkoba, kemudian terjerumus ke dalam jerat narkoba dan menjadi candu. Reaksi zat adiktif dalam tubuh pengguna menimbulkan rasa ketagihan, sehingga dosisnya akan terus bertambah.

Baca Lainnya

Tiga hal dapat menggerogoti suatu Bangsa, yaitu Narkoba, Korupsi dan Terorisme. Paling berbahaya adalah orang yang terjangkit Narkoba. Pecandu narkoba katakan saja seorang pejabat negara, dikarenakan sudah kompulsif konsumsi narkoba, ia akan melakukan tindak pidana korupsi. Tidak menutup kemungkinan dapat menjadi aktor terorisme demi pemenuhan narkoba yang dosisnya terus meningkat. Akibat telah kecanduan, semahal apapun barang haram tersebut harus tetap di konsumsi. Sehingga tidak sedikit kasus kejahatan di masyarakat, seperti korupsi, pencurian, pembunuhan, penjambretan, pembobolan Bank atau rumah, pelakunya positif pengguna narkoba.

Narkoba dan psikotoprika merupakan zat adiktif berbahaya yang terbagi dalam berbagai  jenis yaitu: sabu-sabu, ganja, heroin, ekstasi, kokain, opium, LCD, morfin dll . Saat ini, telah terdapat jenis baru narkoba yang baru seperti tembakau gorila, tembakau ganesha, atau tembakau sunggokong yang telah di oleh sedemikian rupa. Maupun dengan menghirup Lem jenis tertentu maupun meminum cairan pembalut Wanita. Jika narkoba telah masuk kedalam tubuh pengguna, maka perlahan akan merusak Saraf Otak dan organ tubuh lainnya. Jika Otak pengguna diibaratkan sebuah apel maka permukaannya telah “bolong-bolong”. Sehingga penggunanya tidak dapat lagi berpikir jernih.

Beberapa dampak buruk narkoba dan psikotropika, pengguna akan merasa ngefly, yaitu halusinasi tingkat tinggi, merasakan kegembiraan yang berlebihan, menurunkan kesadaran, cenderung melakukan tindakan kriminal, dan jika sudah kronis dapat menimbulkan kematian. Data BNN mencatat setiap harinya terdapat tiga puluh hingga empat puluh kasus meninggal akibat kasus narkoba.

Penanggulangan Kasus Narkoba tidak hanya tugas Badan Nasional Narkotika, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua. Seluruh komponen masyarakat  harus turut serta memerangi narkoba. Segera lapor pengguna narkoba yang terbukti secara autentik kepada pihak BNN untuk direhabilitasi. Tak perlu takut mendapat ganjaran, karena pelapor di bawah naungan hukum. Oknum yang telah bebas dari jeratan Narkoba jangan dijauhi, stop labeling negatif, sebaliknya mari dampingi dan ayomi. Kerja sama yang baik semua kalangan masyarakat sangatlah dibutuhkan dalam menekan angka kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia, persisnya di tengah pandemi Covid-19.

Peran keluarga sangatlah penting. Mari pagari keluarga kita dari bahaya narkoba. Orang tua harus lebih proaktif dan  protektif terhadap anak, mengetahui lingkup pertemanan anak, dan jadilah sahabat karibnya. Sehingga setiap langkah anak tetap dalam pengawasan orang tua. Generasi muda, mulailah menyibukkan diri dengan kegiatan yang berbau positif, bermanfaat bagi pengembangan diri. Dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, komunitas, les privat, ikut kegiatan organisasi kampus dan di luar kampus yang sesuai dengan minat dan bakat. Batasi pergaulan bebas dengan teman atau geng yang berpotensi menjerumuskan ke hal negatif, guna mewujudkan generasi penerus bangsa yang berintegritas, berahklak dan cerdas tanpa narkoba. (***).

Related posts