Mendukung Kelestarian Budaya Lokal

  • Whatsapp

Penulis ingin mengambil salah satu contoh, yaitu Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki berbagai macam potensi cukup menarik baik alam maupun seni budayanya. Berbicara mengenai kebudayaan yang hampir tidak diketahui oleh generasi muda, contohnya kebudayaan atau kesenian yang terletak di Desa Mendo Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Kesenian yang dimaksud ialah Tari Kedidi.

Berdasarkan sifatnya Tari Kedidi merupakan tari hiburan atau sebagai pelipur lara, perpaduan gerak dan musiknya yang dinamis dan lucu terinspirasi oleh gerak gerik burung kedidi yang berbulu putih berparuh seperti bebek dan berekor lucu jika di gerakkan, burung yang hidup di muara sungai dan rawa-rawa, telah memberikan inspirasi kepada nelayan desa mendo, tak jarang untuk melepaskan kepenatan mereka menghibur diri menari menirukan gerakan burung kedidi dengan iringan alat musik seadanya, mulai dari kayu, batok kelapa, dan apa saja yang ada di sekitar mereka, lambat laun inspirasi para nelayan Desa Mendo terhadap gerak Tari Kedidi megalami perkembangan. Inspirasi itu tertuju pada gerak-gerik kepiting, sesekali ketika mereka melaut dan menemukan kepiting mereka kemudian memukul perahu sebagai penghias iramanya. Kemudian Tari kedidi semakin berkembang menjadi tari hiburan anak muda pada saat bulan purnama tanggal 13, 14, dan 15 dalam setiap bulannya dan ditarikan oleh 4 sampai 5 orang.

Read More

Terciptanya Tari Kedidi menurut salah satu pewaris yang masih tersisa saat ini yakni Kamarulzaman yang lahir pada tahun 1935, bahwa berdasarkan penjelasan pamannya, tari ini diciptakan oleh seorang jejaka yang berprofesi sebagai petani dan nelayan yang diperkirakan hidup dimassa zaman kesultanan Palembang berkuasa atas pulau Timah ini. Jejaka tersebut bernama Abu Latief. Abu Latief yang juga suka bermain-main di bibir pantai mendapat inspirasi dari melihat gerak indah dan lucu burung kedidi. Tidak hanya itu Abu Latief juga telah menciptakan iringan musiknya dari bahan alami yang ditemui di lingkungan sekitarnya saat itu.

Setelah menjadi bentuk kesenian daerah Bangka seperti saat ini, Tari Kedidi menjadi lebih menarik dengan iringan Gambus dan memasukkan unsur silat dan gerak pedang didalamnya. Akan tetapi, tidak seperti yang kita bayangkan, ternyata banyak sekali generasi muda yang tidak tertarik bahkan tidak tahu dengan Tari Kedidi, mereka lebih senang menghabiskan waktunya untuk mengakses internet daripada mempelajari tarian dari kebudayaan sendiri.

Related posts