Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Menciptakan Kelas Daring yang Interaktif

Penulis: Purnawiwansyah, S.Pd
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Kab. Bangka Barat, Babel

Saat ini, pendidikan di Indonesia tengah dihadapkan pada situasi yang jauh dari aktivitas biasanya. Pandemi Covid-19 memberi efek kejut untuk semua pihak, baik individu, instansi, bahkan untuk level dunia galau menghadapi serangan mendadak ini. Tingkat penularan yang relatif sangat mudah dan banyaknya korban berjatuhan dalam waktu singkat membuat siapapun perlahan mundur teratur, sedangkan sampai saat ini belum juga reda-reda.  

Tenaga medis sebagai ujung tombak mengatasi masalah pelik ini juga sudah banyak terinfeksi, sedangkan pemerintah masih terus mencoba langkah yang tepat untuk melindungi semua pihak. Dunia pendidikan tak luput dari imbas pandemi ini. Untuk memutus rantai penularan dari dunia pendidikan, pemerintah melakukan upaya mengalihkan proses kegiatan belajar mengajar dari kelas ke rumah. Ada berbagai metode transfer materi pembelajaran yang dilakukan setiap sekolah. 

Mengingat kondisi siswa yang berbeda-beda dari segi ekonomi maupun kesiapan siswa, ada yang sudah menerapkan learning based internet, ada pula yang menggunakan aplikasi pesan untuk smartphone semisal whatsapp atau telegram sebagai media penyampai materi dan pengumpulan tugas. 

Teman-teman guru di Pulau Bangka yang tinggal dikawasan zona hijau dari Covid-19 mengisahkan sistem belajar mereka dengan cara meminta para orang tua mengambil materi ke sekolah setiap satu minggu sekali sekaligus mengumpulkan tugas yang dikerjakan sebelumnya. Namun, untuk yang tinggal di zona hijau yang mana jaringan internet tidak menjangkau daerahnya,  metode yang dilakukan guru adalah home visit oleh guru.

Semua pihak berkorban. Tugas guru menjadi berlipat ganda dibandingkan tugas sebelumnya. Guru menyiapkan materi dengan metode baru dan menunggu pengumpulan tugas sepanjang hari, bahkan ada guru yang standby 24jam menjawab kesulitan belajar yang dialami siswa. Karena pembelajaran bertransformasi dari komulatif menjadi individu. Artinya, ketika keadaan normal seorang guru bisa mengajar sekitar 30-an siswa dalam sekian jam pelajaran saja, sekarang guru harus memberikan pemahaman satu per satu kepada siswa. 

Pembelajaran kelas daring merupakan suatu kegiatan didunia pendidikan dalam melakukan pembelajaran dengan bermodalkan smartphone atau laptop, jaringan internet, dan hal-hal yang pendukung lainnya. Sistem pembelajaran ini, dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tetapi dalam penerapannya, kebanyakan sekolah melaksanakan kelas daring dengan mengikuti jadwal jam pelajaran yang berlaku disekolahnya.

Ketika penulis memindahkan kelas untuk diajar sepenuhnya secara daring, penulis mendapatkan banyak pelajaran terkait bagaimana mempertahankan keterlibatan dan interaksi siswa agar tetap aktif layaknya pada kelas tatap muka. Penulis sendiri sebagai Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Negeri 1 Kelapa, dalam melaksanakan sistem tersebut, penulis terlebih dahulu membuat grup sesuai dengan mata pelajaran yang penulis ampu. Biasanya, melalui grup WhatsApp atau melalui grup Telegram. Kemudian pemberitahuan pembelajaran via aplikasi kelas daring memanfaatkan salah satu apliksi besutan Google diberitahukan kepada siswa melalui grup WhatsApp atau melalui grup Telegram  tersebut.

Sebelum memulai pembelajaran di kelas daring, penulis membuka kegiatan pembelajaran dengan mengucapkan salam dan doa, kemudian memeriksa kehadiran siswa. Untuk memeriksa kehadiran siswa, penulis menggunakan absensi online yang memiliki fitur tanda tangan dan memastikan seluruh siswa hadir di kelas daring yang sedang berlangsung. 

Pembelajaran dilanjutkan dengan mengulang kembali atau mereview materi yang telah dipelajari sebelumnya. Saat pembelajaran berlangsung, tak jarang penulis juga menjelaskan materi melalui pesan suara yang disediakan whatsapp. Pengulangan materi tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi serta melihat apakah tujuan pembelajaran telah tercapai atau belum. Hal tersebut juga sebagai penghubung untuk materi yang akan dipelajari selanjutnya.

Selama pembelajaran berlangsung, penulis melibatkan keaktifan siswa agar mau berpendapat, berargumen, atau bahkan menyampaikan pertanyaan terkait materi pelajaran. Penulis juga memanfaatkan interaksi antar siswa. Kegiatan pembelajaran yang selanjutnya ialah penyampaian materi oleh guru. Penyampaian materi yang selama ini penulis lakukan adalah dengan cara memberikan materi berbentuk slide presentasi, file pdf, namun jika materi tersebut sulit untuk dideskripsikan, penulis membuat video dan mengirimnya ke kelas daring.

Cara tersebut di atas mungkin juga telah diterapkan oleh guru-guru yang lain. Untuk membuat kelas daring menjadi tak membosankan, penulis meramu berbagai media belajar untuk siswa. Pesan suara, slide presentasi, file pdf, dan video pembelajaran menjadi pilihan penulis selain penulis juga menambbahkan ice break didalam pembelajaran. Penulis juga pernah menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan bertemu secara virtual  memanfaatkan aplikasi meeting yakni Google MeetsZoom, dan Webex.

Penggunaan aplikasi tersebut, dapat lebih efektif dalam pelaksanaan pembelajaran, yakni dengan melihat kesiapan siswa dalam melaksanakan pembelajaran, melihat siapa saja siswa yang berani berargumen, dan siapa saja siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran. Namun, dari cara-cara yang telah disebutkan untuk melangsungkan pembelajaran, masing-masing terdapat kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Akan tetapi, cara-cara tersebut setidaknya dapat bermanfaat untuk melangsungkan pembelajaran yang efektif saat ini. (***).

Diatas Footer
Light Dark