Menata Hati dengan Al-Qur’an

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Allah Subhnanahu Wata’ala berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS. Ali Imran [3]: 103).

Read More

 

Mahbub Zarkasyi

Dalam tafsirnya Shafwatut Tafaasiir Juz I/198 Ustadz Muhammad Ali As Shabuni menguraikan sebab turunnya ayat di atas ketika adanya seorang Yahudi di Madinah bernama Syas bin Qais yang menunjukkan kedengkiannya saat melihat orang-orang suku Aus dan Khazraj yang selama ratusan tahun bermusuhan dan berperang kemudian bersatu setelah bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan menerima dakwah Islam. Kaum Yahudi yang seharusnya lebih dulu beriman kepada risalah kenabian Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah membenarkan kitab Taurat yang diturunkan kepada mereka, namun mereka malah bersikap kafir. Allah Subhanahu Wata’ala sebelumnya telah mengajak mereka beriman kepada apa yang Rasulullah bawa dan menegur mereka yang telah banyak mencela dan menukar ayat-ayat Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya,
“Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 41)
Selama ini, kaum Yahudi itu mengambil keuntungan atas perselisihan antara kedua suku besar Arab di Yastrib tersebut. Apalagi persatuan dua suku di Yatsrib tersebut lantaran menerima dakwah Islam. Suku yang telah melakukan Thalabun Nushrah kepada Rasulullah Muhammad shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan seluruh kaum muslim. Mereka pun disematkan oleh Rasulullah dengan sebutan kaum Anshar, yaitu kaum yang telah memberikan pertolongan dan menyerahkan kekuasaan kepada Baginda Nabi besar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Kaum ‘Aus dan Khazraj yang telah masuk Islam dan siap membela tanpa syarat kepada Rasulullah, Islam dan seluruh kaum muslim sehingga membuat kaum Yahudi di Madinah yang selama ini mengambil keuntungan atas perselisihan mereka malah terdesak.
Syas bin Qais terus membangun propaganda untuk memecah belah kaum muslim yang menyuruh seorang pemuda dengan menyusup di tengah-tengah kaum muslim. Pemuda yang diutus tersebut membuat propaganda dengan mengisahkan kepada kaum ‘Aus dan Khazraj tentang perang Bu’ats dan terus memprovikasi dengan melantunkan syair-syair yang biasa dikumandangkan pada suasana perang ketika mereka masih sering berselisih dan berperang. Makarnya pemuda Yahudi tersebut ternyata mampu membangkitkan suasana jahiliyah dari Aus dan Khazraj yang dulunya berperang. Di antara kaum ‘Aus dan Khazraj pun kemudian muncul perasaan saling mengungguli satu sama lain dan marah di antara mereka sampai mereka berteriak-teriak meminta senjata untuk berperang. Melihat situasi memanas di antara ahlul quwwah yang telah memberikan Nushrah kepada Rasulullah, maka Rasulullah kemudian mengumpulkan mereka bersama para Shahabat kaum kaum Muhajirin. Rasulullah kemudian menyadarkan mereka yang telah terprovokasi godaan Syaithan dan tipudaya kaum Yahudi,
“Apakah kalian hendak mengikuti seruan (propaganda) jahiliyah ini, padahal saya masih ada di tengah-tengah kalian, padahal Allah telah memuliakan kalian dengan Islam yang dengannya Allah memutus urusan jahiliyah kalian, dan Allah menyatukan hati kalian?”
Mendengar seruan Rasulullah tersebut mereka akhirnya sadar dan menangis dengan meletakkan senjata mereka dan saling berpelukan satu sama lainnya. Begitulah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kaum muslim dalam menata hati. Tipu daya orang-orang kafir sebagai kaki tangan Syaithan tiada hentinya untuk menghancurkan dan mencerai-beraikan kaum muslim.

Related posts