Menantikan Keputusan Pelaksanaan UKK

  • Whatsapp
Deni darmanto, ST
Guru Produktif TBSM SMK Negeri 1 Parittiga, Bangka Barat, Babel

Proses penilaian akhir pada pendidikan jenjang SMK begitu istimewa, dimana selain Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, di SMK terdapat satu lagi proses penilaian yang merupakan roh dari SMK tersebut. Proses penilaian tersebut adalah Uji Kompetensi Keahlian yang disingkat dengan UKK atau biasa disebut dengan Ujikom.

Uji Kompetensi Keahlian merupakan penilaian yang diselenggarakan khusus bagi peserta didik SMK untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik yang setara dengan jenjang 2 (dua) atau 3 (tiga) pada KKNI. Pelaksanaan UKK ini tidak bisa diselenggarakam sendiri oleh sekolah, tetapi oleh lembaga sertifikasi profesi atau satuan pendidikan terakreditasi bersama dengang mitra dunia usaha/industri, dimana hasil dari UKK bagi peserta didik akan menjadi indikator ketercapaian standar kompetensi lulusan dan bagi pemangku kebijakan hasil UKK dijadikan sumber infomasi atas kompetensi yang dimiliki oleh calon tenaga kerja.

Materi UKK disusun berdasarkan skema sertifikasi sesuai dengan jenjang kualifikasi peserta didik yang berisikan kemampuan melaksanakan pekerjaan spesifik, operasional  dan/atau penjamin mutu. Sedangkan untuk soalnya sendiri UKK dapat berbentuk penugasan atau bentuk lain yang dinilai secara individual untuk membuat suatu produk sesuai dengan tuntutan standar kompetensi. Pada Pedoman Penyelenggaraan Uji Kompetensi Keahlian SMK Tahun Pelajaran 2019/2020 pelaksanaan UKK dilangsungkan secara serentak pada rentang waktu 1 April sampai dengan 3 Mei 2020. Berdasarkan jadwal yang telah ditentukan oleh pedoman tersebut maka setiap SMK sudah memulai melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi pelaksanaan UKK sesuai dengan instrumen verifikasi UKK yang juga terdapat Pedoman Penyelenggaraan Uji Kompetensi Keahlian mulai dari persiapan bahan, peralatan dan penguji yang akan menguji peserta didik pada saat UKK.

Seiring perjalanan dalam persiapan UKK, dunia digemparkan dengan munculnya virus penyakit yang sangat berbahaya  dan mudah menular yaitu Virus Corona atau setelah beberapa selang waktu kemudian WHO memberi nama Covid-19. Kejadian ini bermula di Kota Wuhan China, tanpa disangka virus Covid-19 ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, sehingga menjadi pademi Covid-19 termasuk ke negara kita, Indonesia. Seperti diketahui bahwa virus Covid-19 ini menular lewat interaksi antara orang yang terinfeksi dengan orang yang belum terinfeksi lewat percikan dari air ludah atau air liur yang keluar lewat batuk dan bersin yang kemudian menempel di anggota badan seperti tangan, dimana lewat tangan tadi virus Covid-19 menular ke orang lain, sehingga orang lain tersebut ikut terinfeksi.

Baca Lainnya

Agar penyebaran virus ini dapat terputus, maka pemerintah dengan segera mengambil kebijakan untuk melakukan social distancing atau jaga jarak sosial, yang mana kegiatan mengumpulkan banyak orang sementara dihentikan. Kebijakan ini berimbas juga ke Dunia Pendidikan, dimana pada saat pedemi virus Covid-19 ini menyebar bertepatan dengan kegiatan ujian untuk seluruh peserta didik di semua jenjang pendidikan yaitu, SD, SMP dan SMA/SMK. Karena kegiatan Ujian ini bersifat mengumpulkan banyak orang dan berisiko bisa menjadi sarana penyebaran virus Covid-19, Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengambil keputusan untuk meniadakan pelaksanaan Ujian Nasional. Melalui Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nadiem Makarim memutuskan untuk meniadakan Ujian Nasional dan UKK bagi peserta didik SMK. Dengan adanya Surat Edaran ini berimbas pada proses penilaian akhir di SMK dimana Ujian Sekolah (US), Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) dibatalkan pelaksanaannya.

Untuk pengganti penilaiannya, nilai Ujian Nasional diambil dari nilai rapor semester 1-5, sehingga hal tersebut tidak menjadi permasalahan karena nilai tersebut sudah ada. Yang menjadi permasalahan mengenai nilai pada UKK karena UKK belum dilaksanakan, sehingga tidak diperoleh nilainya  yang sebenarnya nilai tersebut merupakan indikator apakah tujuan dari UKK tercapai yaitu terukurnya pencapaian kompetensi peserta didik dan sumber informasi kompetensi yang dimiliki oleh calon tenaga kerja tidak terpenuhi.

Dengan ditiadakannya UKK tersebut, menjadi tanda tanya besar di SMK bagaimana penilaian terhadap kompetensi peserta didik dilaksanakan, karena sampai sekarang tidak bisa diprediksikan pademi virus Covid-19 ini sampai kapan akan berakhir.

Berita baik  mengenai pelaksanaan UKK sempat terdengar dimana Plt Dirjen Vokasi Patdono Suwignjo lewat rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI menjelaskan bahwa ada 4 (empat) cara yang bisa diambil sebagai alternatif pengganti UKK yaitu: Pertama, Menggunakan nilai kompetensi praktik semester 1-5; Kedua, Mengggunakan nilai praktik industri peserta didik; Ketiga, Menggunakan nilai dan uji sertifikasi keahlian peserta didik; Keempat, Melaksanakan uji kompetensi keahlian peserta didik setelah pademi Covid-19 selesai.

Dari keempat alternatif tersebut, alternatif kesatu dan kedua kemungkinan besar yang bisa dipergunakan. Hal tersebut dikarenakan nilai-nilai tersebut sudah ada dan prosesnya juga sudah dilaksanakan. Namun harus melalui persetujuan dari mitra dunia usaha/industri dikarenakan penerbitan sertifikat UKK juga ditandatangani oleh mitra dunia usaha/industri. Sedangkan alternatif ketiga dan keempat sepertinya sulit dilaksanakan apabila pademi belum selesai, dan tidak diketahui kapan akan selesai dikarenakan dalam pelaksanaannya tetap mengumpulkan orang banyak yang pasti melanggar aturan social distancing dan physical distancing.

Dari keempat alternatif ini, sampai sekarang Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum mengambil keputusan alternatif mana yang akan dipilih dan dipergunakan untuk pengganti UKK.

Sebagai pelaksana dilapangan guru-guru SMK khususnya guru produktif sangat menantikan keputusan yang akan diambil oleh pemerintah berkaitan dengan pelaksanaan UKK, dan siap untuk melaksanakan keputusan yang diambil oleh pemerintah tersebut apapun keputusannya. Hal ini dikarenakan demi peserta didik SMK yang selama 3 (tiga) tahun mereka telah belajar dan berlatih mengasah keterampilan untuk mendapatkan pengesahan dan pengakuan atas keterampilan yang telah mereka miliki melalui sertifikat kompetensi yang diperoleh melalui UKK.

Pada akhirnya marilah kita mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap melaksanakan semua protokol pencegahan virus Covid-19 ini agar pedemi virus Covid-19 segera berakhir, sehingga kita sebagai warga SMK bisa melaksanakan UKK yang merupakan roh dari SMK ini. SMK Bisa SMK hebat Siap Kerja, santun, Mandiri dan kreatif.(***).

Related posts