Menangkal Hoax bagi Generasi Milenial

  • Whatsapp

Oleh : Yuni Ayu Izma – Mahasiswa STISIPOL PAHLAWAN 12 Sungailiat, Bangka

Seiring perkembangan zaman yang serba canggih saat ini, setiap orang sangatlah mudah untuk mendapatkan berbagai informasi berita yang telah disajikan baik itu melalui media cetak maupun media elektronik. Namun berita yang tersebar belum tentu sesuai dengan kenyataannya atau biasanya disebut dengan berita hoax. Berita hoax atau bohong adalah suatu informasi atau pernyataan yang diberikan kepada semua orang yang tidak sesuai dengan kenyataannya, dan tidak berdasarkan sumber yang terpercaya. Berita hoax sangatlah berbahaya, jika tidak punya rasa kehati-hatian pada diri sendiri maka terjerumus percaya pada berita hoax tersebut.

Pada dasarnya sang generasi milenial termasuk dalam kategori generasi yang rentan percaya dengan berita hoax. Maraknya berbagai berita yang beredar di media sosial menjadikan rutinitas masyarakat dalam memantau keadaan dunia ini. Namun dalam menerima berita belum tentu sesuai dengan kenyataannya dan kini sering terjadi di kalangan masyarakat.  Banyaknya berita yang disebarkan secara langsung oleh seseorang dan menceritakannya dari orang satu dan ke orang lainnya justru sudah menjadikan warisan kita mendekatkan diri pada orang lain. Karena ego menjadikan alasan klasik dalam tidak menerima kenyataan yang sebenarnya. Mungkin di sisi lain, sang generasi milenial dengan mudah mengakses ribuan berita yang beredar di setiap waktu. Tapi kemungkinan mendapatkan kabar berita itu belum tentu sesuai dengan kenyataannya.

Baca Lainnya

Adapun berita hoax di media sosial yang melanda di kalangan masyarakat menjadikan permasalahan terbesar di realita kehidupan. Jikalau tidak berhati-hati pada berita hoax, maka bisa menjadikan black compaign pada kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang terlibat pada penyakit hati ini bisa menjadi provokator dalam mempengaruhi orang lain, demi mendapatkan pondasi yang kokoh pada pembelaan dirinya. Korban yang terlibat justru kasihan, karena tindakannya yang benar diabaikan dan justru bisa mengancam dirinya pada ujaran kebencian oleh orang lain.

Media sosial sempat mengebohkan masyarakat setempat dengan adanya broadcast penyemprotan racun corona di malam hari dari Malaysia dan Singapura. Dari data yang dilansir oleh detik.com pada 2020 menyatakan bahwa broadcast dari WA tentang adanya penyemprotan racun corona di malam hari. Jika terdapat jemuran di luar rumah, diimbau untuk diangkat dan dibawa masuk ke rumah itu hoax.

Berita tersebut tersebar pada hari Minggu dan telah meresahkan masyarakat setempat. Penulis hampir percaya dan kini telah menerima pesan berantai itu. Hampir sebagian percaya akan adanya keputusan tersebut. Namun itu hanyalah hoax!

Dari pernyataan juru bicara pemerintah dalam penanganan virus corona COVID-19, Ahmad Yurianto, memastikan bahwa kabar berita tersebut adalah hoax, dan ia mendukung apabila ada yang menyebarluaskan kabar bohong meresahkan tersebut ditangkap. Itu sudah jelas hoax, kata juru bicara pemerintah, Achmad Yurianto, saat diminta konfirmasi oleh detikcom, Minggu (22/3/2020).

Apabila netizen tidak berhati-hati dalam menyikapi berita yang diterima, maka dengan  mudah percaya dan tanpa disengaja netizen pun ikut menyebarluaskan informasi berita yang belum tentu benar itu. Tentunya dari perihal tersebut dapat merugikan pihak bersangkutan yang menjadi korban fitnah dalam berita hoax tersebut.

Maraknya berita hoax yang beredar hingga populer di kaum masyarakat setempat menjadi sangat berbahaya, tanpa disadari banyak hal yang terjadi ketika audience menganalisis berita itu terkadang kesalahpahaman menilai berita yang diterima menjadi teguran keras bagi masyarakat khususnya kaum milenial untuk bisa memilah mana yang termasuk berita benar atau mana yang bisa menyesatkan masyarakat.

Semakin bertambahnya penggunaan internet di Indonesia maka semakin banyak pula situs yang ditelusuri terindikasi menyebarkan hoax dan ujaran kebencian. Ini memberikan dampak negatif bagi semua pihak, serta hoax yang muncul dapat menjadikan provokasi dan menyulut kebencian serta hasutan, sehingga menimbulkan perpecahan.

Tentu saja ini menjadi sorotan bagi pemerintah untuk bisa turun tangan dalam menanggulangi permasalahan ini, dan dari penggunaan media sosial terhadap situs online yang tidak terpercaya menjadi perhatian khusus dalam mengidentifikasi berbagai situs berita dengan baik agar tidak ikut menyebarluaskan berita hoax lagi.

Kita sebagai generasi milenial yang berkompenten dapat berperan penting dalam menangani kasus ini. Lalu, bagaimakah cara anak muda dapat menangkal berita hoax tersebut? Kita sebagai generasi milenial harus bisa menangkal hoax berdasarkan sikap kita yang berhati-hati dalam mendapatkan sebuah informasi berita. Sebelum membagikan berita cermati terlebih dahulu judulnya itu mengandung unsur provokatif atau tidak. Apabila telah menemukan unsur provokatif maka carilah berita serupa sesuai fakta atau pada situs berita resminya serta cek keaslian foto dan video yang mengatasi kabar berita tersebut.

Periksalah setiap berita yang dibaca sesuai fakta atau tidak, dalam menyeleksi berita dari berbagai situs yang ditawarkan pada situs internet. Dengan begitu carilah referensi berita yang serupa dari situs online resmi dan bisa membandingkan isinya juga mengurangi peningkatan penyebaran hoax.

Kita sebagai generasi milenial harus cerdas dalam menyikapi berita yang diterima, sehingga bisa menarik kesimpulan berita yang benar, serta cermati alamat situs website yang mencantumkan alamat URL situs resmi tersebut, dan dapat memeriksa fakta dari sumber berita itu. Dengan begitu tidak terjebak lagi mempercayai hoax.

Mulailah menumbuhkan rasa tanggungjawab yang kokoh, itu menjadi prioritas dalam memberikan pemahaman informasi yang benar bagi masyarakat. Dari itu bisa menyadari akan kepedulian bersama tentang permasalahan hoax. Dengan demikian sedikit demi sedikit hoax tak akan berkembang lagi, sehingga  berita sesuai fakta dan dengan semestinya. (***)

Related posts