Membudayakan Produk Lokal Kopiah Resam Desa Dendang

  • Whatsapp

Oleh: Nurjanah

Muat Lebih

Mahasiswa IAIN SAS Babel

Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari kebudayaan dan adat istiadat. Budaya juga sebagai fungsi identitas atau ciri khas suatu bangsa. Maka dari itu keberadaannya sangatlah penting. Terutama di Indonesia yang memiliki berbagai macam budaya, tidak heran jika sekelompok atau golongan tertentu memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok manusia dan dijadikan sebagai pedoman hidup untuk menginterpretasikan lingkungannnya dalam bentuk tindakan-tindakan sehari-hari.

Kebudayaan juga tidak terlepas dari berbagai bentuk dari kearifan lokal itu sendiri, yang merupakan ciri khas dari budaya yang dianut oleh masyarakat setempat. Kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Kearifaan lokal juga sebagai kebenaran yang mentradisi atau ajeg merupakan perpaduan nilai-nilai suci dan nilai turun temurun yang dikembangkan komunitas tertentu (Daniah; 2008). Kearifan lokal berupa pengetahuan lokal, keterampilan lokal, kecerdasan lokal, sumber daya lokal, dan adat istiadat lokal.

Kearifan lokal terdiri dari dua bentuk yaitu kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) seperti nilai, tata cara ketentuan khusus yang dituangkan ke dalam bentuk catatan tertulis seperti budaya menulis di atas daun lontar. Benda cagar budaya yaitu karya seni, misalnya keris, batik dan lain sebagainya. Dan kearifan lokal yang tidak berwujud (intangible) seperti petuah yang disampaikan secara turun temurun yang biasa bersifat nyanyian dan kidung yang mengandung nilai ajaran tradisional.

Di Bangka Belitung, tepatnya di Desa Dendang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat mempunyai kearifan lokal dari segi bentuk kearifan lokal berwujud nyata  yaitu kerajianan Kopiah Resam. Kerajinan Kopih Resam sudah ada sejak tahun 1970 hingga sekarang. Ibu Masni yang merupakan salah seorang warga masyarakat pengrajin Kopih Resam sudah menekuni hal tersebut sekitar 10 tahun terakhir.

Dari penuturannya, selain hobi, juga dapat menambah penghasilan dari kopiah resam tersebut. Kopiah Resam dijual secara langsung atau bisa juga ditukar dengan barang, sesuai dengan kualitas kopiah. Kopiah Resam berkisar mulai dari harga Rp50.000 hingga mencapai jutaan rupiah sesuai dengan kualitas dan kesulitan pembuatan pada kopiah resam itu sendiri. Proses pembuatan kopiah tidak serta merta langsung dilakukan. Akan tetapi dilewati dengan berbagai proses mulai dari mencari resam, merendam, mengupas hingga proses penjemuran. Kemudian setelah melewati berbagai rangkaian proses tersebut resam di serut menggunakan seruratan dari tutup kaleng. Kemudian resam dilicinkan dengan menggunakan lilin madu untuk memudahkan pembentukan proses pembuatan kopiah resam. Setelah jadi, kopiah tersebut dimasukkan ke dalam pakan yang terbuat dari kayu berbentuk ukuran kepala manusia. Kemudian di samak menggunakan cairan yang diambil dari kayu samak, setelah itu dijemur hingga kering, kopiah resam pun sudah bisa dipakai.

Berbagai macam jenis resam yang digunakan adalah resam sulur, resam lilit, resam bulin dan lain-lain. Sekarang resam sudah sulit untuk dicari, karena hutan yang sudah mulai sedikit resam pun semakin langka. Akan tetapi tidak menjadi penghalang bagi pengrajin kopiah resam. Mayoritas di Desa Dendang, selain petani juga banyak pengrajin kopiah resam, karena bisa dibuat sambil duduk santai. Selain kopiah, ada juga yang membuat kreasi lain, seperti tas dari resam, gelang resam dan lain-lain. Dengan berbagai kreasi tersebut, bisa membuat daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Para pengrajin yang kreatif dapat menjadi center  bagi pengembangan pengetahuan lokal agar lebih maju. Kemajuan suatu bangsa tergantung bgaimana cara kita menyikapi dan mengahargai sesuatu yang telah dimiliki seperti salah satunya adalah kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat itu sendiri.

Kopiah resam hingga kini menjadi ciri khas dari Bangka Belitung. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman pernah mengimbau kepada masyarakat Bangka Belitung khususnya untuk menggunakan kopiah resam. Sementara itu, kopiah resam juga menjadi produk lokal yang dicintai oleh masyarakat.

Sebagai masyarakat yang cerdas, sudah sepatutnya kita untuk melestarikan dan mencintai produk lokal kita sendiri dan memperkenalkannya kepada masyarakat luar bahwa kita juga mampu bersaing dan menciptakan produk-produk yang berkualitas sesuai dengan ciri khas budaya kita sendiri. (***)

Pos terkait