Membiasakan Literasi Sehari-hari

  • Whatsapp

Oleh : Kevin A.A.N.P. – Siswa Kelas Beasiswa PT. TIMAH Tbk SMA N 1 PEMALI, Kabupaten Bangka, Babel

Kita tahu bahwa lari merupakan salah satu olahraga yang digemari semua kalangan, baik muda hingga tua. Selain memiliki manfaat menyehatkan badan, olahraga ini juga sangat mudah dilakukan. Jadi, tak heran lagi jika olahraga satu ini menjadi favorit banyak kalangan. Namun, pada kesempatan kali ini, kita tidak akan membahas tentang lari yang sesungguhnya. Kata ‘lari’ pada pembahasan kali ini memiliki kepanjangan yaitu “Literasi Sehari – hari”.

Read More

Mengapa hal ini begitu penting sehingga menjadi pembahasan kali ini? Sebelum itu, marilah kita cari tahu apa itu literasi. Secara bahasa, literasi diambil dari kata literatus yang merupakan bahasa Latin yang berarti orang yang belajar. UNESCO mengatakan bahwa literasi merupakan seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Selain itu, di dalam kamus online Merriam – Webster, dikatakan bahwa literasi ialah kemampuan atau kualitas ‘melek aksara’ dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan mengenali serta memahami ide-ide secara visual. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa literasi merupakan suatu kemampuan individu dalam membaca dan menulis yang diperoleh dari manapun dan siapapun yang mana kemampuan ini diperlukan dalam kehidupan sehari – hari.

Pada abad ke-21 ini, kemampuan membaca dan menulis menjadi salah satu dari banyak aspek penting untuk menghadapi masalah yang mesti diselesaikan dengan cara berpikir kritis. Di era yang semakin modern yang penuh persaingan ketat ini, kompetensi atau kemampuan individu sangat dibutuhkan, benar – benar diperlukan. Dua diantaranya ialah membaca dan menulis. Bayangkan, jika kita membeli obat tetapi kita tidak memahami petunjuk pemakaian obat tersebut, pastinya akan berakibat fatal bagi kita. Bayangkan juga jika kita menulis petunjuk pemakaian obat namun tidak memahami apa yang kita tulis.

Dengan demikian, kita mengerti bahwa membaca dan menulis bukanlah hanya hal biasa, melainkan dibutuhkan pemahaman akan apa yang kita baca dan tulis yang mana tidak bisa kita anggap sepele sama sekali. Akan tetapi, masih banyak yang menyepelekan kemampuan membaca dan menulis (literasi) ini dan mungkin saja kita termasuk salah satunya. Pada bulan Maret, 2016, CCSU (Central Connecticut State University) merilis peringkat literasi negara – negara dunia. Menurut data ini, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Hal ini berarti bahwa Indonesia menempati peringkat ke-2 dari peringkat paling akhir yang mana negara kita masih kalah jauh dengan negara tetangga kita yaitu Singapura dengan peringkat ke-36 dan negara – negara lainnya seperti Amerika yang menempati peringkat ke-7 , serta Finlandia yang menempati posisi pertama atau puncak pada peringkat literasi dunia.

Terdapat sebuah ungkapan yang mengatakan “Tidak ada masalah yang tak bisa dipecahkan”. Ungkapan ini sangatlah mengenai topik pembahasan kali ini. Mengapa? Nah, pasti terlintas di pikiran kita tentang bagaimana cara meningkatkan daya literasi ini dan tentunya kita berpikir bagaimana bisa negara lain memiliki daya literasi yang begitu tinggi, sehingga dapat memuncaki peringkat literasi terbaik seperti Finlandia.

Sebenarnya, pemerintah Finlandia sudah memulai menumbuhkan daya literasi ini kepada masyarakatnya sejak kecil, misalnya memberikan beberapa parsel kepada orang tua yang baru memiliki bayi yang mana di dalam parsel tersebut diselipkan di dalamnya buku – buku bacaan. Selain itu, pemerintah Finlandia juga membangun sekitar 738 buah perpustakaan, belum lagi ditambah dengan sekitar 140 buah perpustakaan keliling yang melayani masyarakat di kota – kota yang kecil.

Perpustakaan di Finlandia juga memiliki banyak sekali koleksi yang pastinya membuat masyarakat Finlandia tidak akan bosan membaca buku. Anak – anak yang bersekolah di Finlandia juga diwajibkan membaca minimal satu buku setiap minggu. Tak hanya itu, ternyata orang tua di Finlandia juga mengambil peran penting dalam meningkatkan daya literasi anak – anak mereka dengan melakukan dongeng sebelum tidur yang mana sudah menjadi tradisi turun – temurun di Finlandia. Dongeng yang berupa cerita rakyat atau mitologi Finlandia yang diceritakan juga tidak hanya meningkatkan daya literasi anak mereka, akan tetapi juga mengajarkan anak mereka akan nilai – nilai dalam kehidupan sehari – hari.

Mungkin hal-hal ini dapat membuat masyarakat Indonesia terinspirasi dalam menumbuhkan serta meningkatan daya literasi asalkan ada kesadaran dan kemauan serta didukung dengan partisipasi pemerintah. Sebenarnya hal yang paling simple dapat kita lakukan untuk meningkatkan daya literasi kita ialah dengan membaca bacaan yang kita sukai, baik itu koran, majalah, bahkan cerita anak – anak. Setelah itu, kita dapat menulis kembali bacaan yang sudah kita baca menggunakan kata – kata sendiri.

Di dekade serta tahun yang baru ini, hendaklah kita melakukan perubahan dari yang buruk ke yang baik, serta peningkatan dari yang baik menjadi semakin baik, salah satunya dengan membiasakan lari (literasi sehari – hari) ini. Dan tentunya kita tahu bahwa dalam sebuah perubahan maupun peningkatan pasti diperlukan usaha. Seperti dalam upaya meningkatkan daya literasi, tentunya harus ada usaha yang kita lakukan, setidak – tidaknya kita mampu meluangkan waktu untuk membiasakan diri kita membaca dan menulis. Tak hanya membaca dan menulis saja, melainkan kita juga harus dapat membayangkan jika kita berada di dalam tulisan yang kita baca maupun tulis. Hal yang paling penting adalah memulai dari diri sendiri. Kalau bukan diri sendiri, lantas siapa lagi? (***)

JustForex

Related posts