Membangun Masyarakat Tanpa Riba

  • Whatsapp

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Mahbub Zarkasyi

Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk disampaikan kepada seluruh manusia yang artinya, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (TQS. Al-Baqarah [2]: 275).
Syariat Islam mengartikan riba dengan setiap bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli. Banyak kaum muslim yang mengembangkan hartanya dengan sistem ribawi. Setiap pinjam-meminjam yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kekasih Allah baginda Shalallaahu alaihi wasalam kemudian dipertegas dengan ijma’ shahabat dan kaum muslimin atas keharaman Ribawi.

Read More

Ribawi Propaganda Yahudi
Perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka dengan ribawi menjadi salah satu alasan mereka di laknat Allah. Kemudian mereka dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui lembaga-lembaga ribawi yang diresmikan negara yang tersebar ke seluruh pelosok negeri kaum muslim.
Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta’ala menegaskan: “Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (TQS. An-Nisa’: 161). Allah Subhannahu wa Ta’ala mengutuk mereka sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).
Sistem ekonomi yang dianut di Indonesia adalah sistem ekonomi Kapitalisme-Liberalisme membuat rakyat Indonesia banyak bermuamalah terlibat ribawi. Lembaga-lembaga resmi banyak dibangun baik oleh pemerintah dan swasta seperti perbankan dan lembaga finance lainnya tersangkut ribawi. Para pegawai, karyawan maupun rakyat pada umumnya akhirnya untuk mudah mendapatkan rumah, kendaraan dan perlengkapan rumah lainnnya banyak yang terjebak ribawi. Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana firman-Nya di atas mengancam orang yang memakan riba dengan ancaman masuk neraka dan kekal di dalamnya. Namun, dengan sistem ekonomi ribawi yang diemban negara membuat rakyat tiada takutnya dengan ancaman tersebut.
Praktek riba yang semakin marak semakin hari dengan berbagai bentuknya tidak lepas dari propaganda orang-orang kafir sebagai kaki tangan Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin. Musuh-musuh Allah tersebut berusaha memperindah setiap pelanggaran syariat Allah. Umat Islam terus digoda sehingga lebih senang bertransaksi ribawi dengan menggandakan uangnya melalui akad-aqad ribawi melalui bank-bank dan transaksi ribawi lainnya. Para Pengusaha muslim pun terlibat dalam sistem simpan pinjam dengan bunga dan menganggap satu keharusan dalam mendapatkan harta dan mengumpulkan harta mereka. Kaum muslim tidak lagi peduli mana harta yang halal dan mana yang haram. Mereka menghilangkan istilah Riba dengan bunga dan denda atau keuntungan. Mereka menganggap transaksi ribawi sama dengan jual beli.

Related posts