Memajukan Pertanian dan Perkebunan dengan SRG

  • Whatsapp
M.Rafli Mustofa
Mahasiswa Hukum Universitas Bangka Belitung

Perdagangan komoditi pertanian merupakan salah satu pilar strategis  bagi sektor perekonomian di Indonesia. Sampai saat ini, sektor pertanian tetap dijadikan sebagai sektor andalan, karena sektor ini telah terbukti tetap bertahan dari badai krisis moneter, sementara itu sektor-sektor lainnya justru banyak yang mengalami kebangkrutan. Peran sektor pertanian dalam perekonomian nasional dapat ditinjau dari berbagai aspek, antara lain sebagai penyedia lapangan pekerjaan (sumber mata pencaharian penduduk), sumber devisa negara, sumber bahan baku industri, dan sumber pendapatan nasional.

Selain itu, sektor pertanian juga merupakan sumber bahan pangan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Pertambahan jumlah masyarakat Indonesia yang sekarang mencapai angka lebih kurang 240 juta jiwa, memaksa untuk diciptakannya ketahanan pangan secara signifikan demi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Read More

Dalam rangka menaikan taraf hidup masyarakat pedesaan, pemerintah membuat suatu wadah yaitu sistem resi gudang atau yang dikenal dengan singkatan SRG. Namun tidak sedikit masyarakat pedesaan yang belum mengenal bahkan belum mengetahui sama sekali tentang adanya resi gudang. Hal ini merupakan permasalahan utama, bahkan sejak diterapkanya sistem resi gudang pada tahun 2006 lalu. Bangka Belitung sendiri sudah menerapkan Resi Gudang pertamanya sejak tahun 2017 di Desa Puding Besar Kabupaten Bangka. Sejauh ini permasalahan pokok yang sedang dihadapi masyarakat pedesaan khususnya di Bangka Belitung adalah rendahnya harga jual hasil perkebunan masyarakat desa, misalnya saja Lada. Karena proses produksi lada memerlukan waktu yang cukup lama, maka siklus pendapatan yang akan diterima oleh petani lada relatif lama dan dengan ketidakpastian yang tinggi. Mulai dari proses pembelian bibit, pembelian pupuk, penanaman, perawatan, sampai pada masa panen, para petani lada banyak mengeluarkan biaya untuk mendanai proses tersebut. Hasil dari proses tersebut baru dapat dinikmati pada masa panen dan saat lada tersebut sudah terjual ke pengepul. Hal ini menyebabkan kebutuhan modal yang cukup besar bagi para petani lada. Dan tidak bisa dipungkiri, pastilah para petani lada memerlukan biaya untuk kehidupan sehari-hari, misalnya saja seperti biaya makan, sekolah anak-anak,dan keperluan-keperluan pribadi lainnya.

Related posts