Marwah Toleransi Sebagai Identitas Kebudayaan Kehidupan Masyarakat Babel

  • Whatsapp
Oleh: Alfia Nuriyani
Mahasiswi Fakultas Hukum UBB

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau biasa disebut dengan Babel ditetapkan sebagai Provinsi ke-31 oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sebelumnya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan dengan Ibu Kota Pangkalpinang. Dampak berpisahnya Bangka Belitung dari Sumatera Selatan semakin menumbuhkembangkan rasa persatuan dan saling memiliki antar masyarakat Babel. Perpaduan ini diterapkan melalui saling melengkapi dan besatu pada seluruh lapisan masyarakat yang ada sebagai satu kesatuan masyarakat Babel tanpa mengenal suku, agama, ras dan antar golongan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Semakin majemuknya masyarakat di Babel ini, menimbulkan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat di Provinsi Babel ini, salah satunya melalui asimilasi. Asimilasi adalah proses peleburan atau pencapuran antara kebudayaan satu dengan yang lainnya dalam jangka waktu yang lama, sehingga menghasilkan kebudayaan baru yang menjadi ciri khas atau identitas masyarakat tersebut. Hal ini terjadi karena dalam sejarah pembentukan Provinsi ini asal muasalnya berasal dari berbagai daerah atau golongan seperti Jawa, Cina, Melayu, dan lain-lain yang menetap dan berbaur dalam proses asimilasi, sehingga berkembang menjadi masyarakat Melayu Bangka Belitung. Jadi, dapat dikatakan bahwa masyarakat Bangka Belitung sebagai masyarakat multikultural.

Read More

Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki berbagai kebudayaan, misalnya sistem kekerabatan, bahasa dan religi (M Taupan, Sosiologi : 2014). Masyarakat multikultural menekankan bahwa keragaman haruslah kesetaraan atau kederajatan yang berarti tidak ada suatu kelompok atau golongan yang lebih tinggi dari yang lainnya. Sebagai implementasi dari Pancasila yang merupakan dasar falsafah negara kita dimana disebutkan dalam sila ke-1 yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan bahwa Babel yang merupakan salah satu Provinsi di Indonesia sudah menerapkan hal yang demikian, dengan begitu dalam kehidupan bermasyarakatnya pun memiliki agama yang beragam. Hubungan sosial di Babel ini bersifat toleransi yang kemudian menghasilkan masyarakat yang terintegrasi. Dan Integrasi sendiri adalah proses penyatuan dari berbagai unsur yang terdapat di masyarakat multikultural.

Toleransi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sikap atau sifat toleran terhadap sesuatu atau sebuah kondisi yang harus dihargai dan dimaklumi, dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai satu sama lain dengan perbedaan yang ada.  Bisa diakui bahwa di Babel sikap tolerannya sangat baik. Sebagaimana umat beragama sepatutnya kita saling menghormati satu sama lain. Karena setiap agama pasti mengajarkan kebaikan untuk saling menghargai. Di Bangka sendiri terkhususnya belum pernah terjadi permasalahan keagamaan yang bersifat intoleran yang sebelumnya pernah terjadi di daerah-daerah lain. Belum pernah ditemukannya pelanggaran HAM yang berbau agama, hal ini menjadi keunggulan bagi Babel bahwa masyarakat di sini sudah menerapkan dan menjalankan nilai-nilai dari Pancasila Sila ke-1 juga Undang-Undang Dasar 1945 terkhususnya Pasal 28E ayat (1) dan (2) dimana dijelaskan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat sesuai agama yang diyakini oleh hati nurani. Frasa dari kata setiap orang dalam hal ini berarti siapa pun tanpa memandang jenis kelamin, umur, jabatan, kekuasaan dan lain-lain bebas untuk menentukan agamanya.

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat (2) menyatakan bahwa negara memberikan kebebasan bagi warga negaranya untuk memilih dan meyakini agama atau kepercayaan masing-masing. Pola pemikiran berkaitan dengan memilih dan menyakini agama atau kepercayaan masing-masing ini berdampak pada pola pemikiran masyarakat di Babel. Dampak pemikiran ini menurut hemat penulis,  masyarakat Babel bersifat terbuka terhadap budaya ataupun keanekaragaman adat istiadat yang baru justru membuat keunikan atau ciri khas dari Babel, ini bukan hanya sebatas teori, namun menjadi sebuah entitas dan identitas dari daerah Babel secara umum. Salah satu bentuk toleransi berbudaya adalah perayaan hari-hari besar keagamaan juga disambut dengan antusias oleh masyarakat Babel. Sebagai contoh masyarakat Tionghoa baru saja merayakan hari besar keagamaannya, yaitu perayaan Imlek.

Imlek yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa secara umum memiliki cara dan perayaan yang sama dengan perayaan Imlek yang lain, namun terdapat keunikan dari perayaan Imlek di Babel. Salah satu keunikan di Babel adalah dimana yang menjadi tamu bukan hanya keluarga, sanak saudara tapi juga kerabat kerja, teman ataupun tetangga yang bukan merayakan dalam arti masyarakat melayu yang tidak merayakannya pun bisa ikut merayakan nya. Bahkan dalam kegiatan perayaan itu disediakan tempat khusus untuk makan dan minum bersama. Begitu pun sebaliknya kalaupun masyarakat melayu sedang merayakan hari besar keagamaan seperti Lebaran Idul Fitri atau pun Idul Adha, masyarakat Tionghoa juga dapat ikut bertamu. Inilah keunikan hidup bertoleransi di Babel, dimana semua agama bisa hidup berdampingan tanpa adanya diskriminasi, perdebatan ataupun permusuhan.

Dinamisnya kehidupan masyarakat Babel bukanlah menjadi kelemahan, melainkan menjadi keunggulan bahkan daya tarik yang berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Contoh lainnya yang dapat membuktikan bahwa toleransi memang benar-benar dilaksanakan, yaitu berdampingannya tempat ibadah masyarakat Muslim dan Tionghoa di Kampung Tanjung, Muntok. Masjid Jami’ dan Kelenteng Kong Fuk Miau menjadi simbol bahwa kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Babel. Keserasian dan kemampuan untuk saling menghargai sesama tanpa membedakan suku, agama, ras dan antara golongan sudah menjadi bukti yang cukup untuk menjadikan Provinsi Babel sebagai tempat atau wilayah manifestasi kerukunan masyarakat nusantara yang menjunjung tinggi toleransi, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dan hidup rukun bersama.

Toleransi sebagai tonggak kemajemukan masyarakat Babel menjadikannya sebagai wilayah yang memiliki akulturasi budaya tinggi dan telah diterapkan serta dihayati oleh masyarakat Babel dapat terus terjaga bukan hanya untuk sekarang, namun untuk masa yang akan datang, bahkan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa kebhinekaan di Babel memang benar-benar diimplementasikan. Kita dapat merasakan bagaimana indahnya toleransi beragama dan berbudaya di Provinsi yang kerap disebut dengan Negeri Serumpun Sebalai ini. Marwah toleransi tersebut menjadi identitas berbudaya dalam kehidupan masyarakat Babel.(***).

Related posts