Makanan Bergizi dalam Persfektif Islam

  • Whatsapp

Oleh: Santi Virgianti, M.Pd.I

Read More

Guru SMKN 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat

Tanggal 25 Januari adalah hari gizi nasional. Di era milenial saat ini, semua menginginkan proses yang serba instan. Termasuk makanan. Di media cetak dan eletronik, didominasi oleh iklan makanan instan atau cepat saji. Makanan cepat saji atau pengolahan secara instan, terkadang merusak kandungan gizi. Kemudian, selain pengolahan, jenis dan kadar apa yang kita makan juga bisa mempengaruhi kesehatan kita.

Gizi atau Nutrisi merupakan zat yang terdapat pada makanan yang dibutuhkan oleh organisme untuk pertumbuhan serta perkembangan yang dimanfaatkan langsung oleh tubuh meliputi vitamin, mineral, protein, lemak maupun  air. Menurut Harry Oxorn & William R. Forte, gizi meliputi pengertian yang cukup luas,  tidak hanya mengenai tentang jenis-jenis pangan dan fungsinya bagi badan, melainkan juga untuk mengenai cara memperoleh serta dapat mengolah dan mempertimbangkan agar tubuh kita semua tetap sehat.

Dalam Islam, mengkonsumsi makanan yang bergizi sangat dianjurkan. Makanan bergizi dalam Alqur’an disebutkan sebagai makanan “thayyib” (baik). Kata thayyib yang dinisbahkan kepada makanan seringkali disertai dengan kata halal, yakni “halaalan thayyiban”. Misalnya perintah Allah agar makan rizki yang halal lagi thayyib yang disebutkan dalam Al-Baqarah: 168, Al-Maidah: 88, Al-Anfal: 69, An-Nahl: 114. Ada juga kata thayyiban tidak sertai dengan kata halaalan, seperti dalam QS Al-Baqarah : 57. Terkadang label thayyib untuk menjelaskan kata halal. Misalnya dalam surah al-Maidah: 4 disebutkan, “Mereka bertanya kepadamu, makanan mana yang halal? Katakanlah, dihalalkan kepadamu makanan yang thayyibat”.

Thayyib mengandung arti baik, berkualitas dan bermanfaat. Label thayyib dalam Alqur’an tidak hanya dinisbatkan kepada jenis makanan, tetapi dinisbatkan juga pada beberapa hal. Ia dinisbatkan kepada keturunan (dzurriyyah) thayyibah, kalimah thayyibah, pohon (syajarah) thayyibah, tempat-tempat (masâkina) thayyibah, negeri (baldah) thayyibah, penghargaan (tahiyyatan) thayyibah, hembusan angin (rih) thayyibah. Semua kata yang diberi sifat thayyibah adalah berkualitas, baik, dan memberi manfaat.

Thayyib itu secara subjektif belum tentu baik dan bermanfaat. Misalnya, ada orang tertentu yang karena gangguan kesehatan dilarang minum kopi, makan daging kambing, yang secara objektif disebut sebagai makanan thayyib dan halal zatnya. Atas pertimbangan tersebut, makanan jenis ini tidak mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi orang tertentu, karenanya harus dihindari. Ada juga orang yang secara subjektif tidak pantang sama sekali, tetapi sekadar membatasi kuantitasnya. Banyak orang pada usia tertentu mengalami gangguan kesehatan seperti kolesterol, atau diabetes melitus. Oleh dokter mereka tidak dibenarkan mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi dan mengandung kadar gula seperti orang normal mengkonsumsinya. Di sini, meskipun menurut orang yang kesehatannya normal kolesterol dan gula itu jenis makanan yang thayyib, tetapi bagi “si penderita,” jenis makanan itu tidak thayyib.

Dalam Alqur’an disebutkan bahwa mengkonsumsi makanan yang thayyib bisa menumbuhkan sifat-sifat yang baik dalam diri manusia. Dalam QS Al-An’am ayat 141 disebutkan bahwa mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib bisa mendorong sifat kedermawanan. Kemudian, dalam surat Al-Maidah ayat 88 disebutkan bahwa makanan halal dan bergizi (Tahyyib) berfungsi untuk meningkatkan takwa. “Dan makanlah dari apa yang telah diberkan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. (QS. Al-Maidah : 88).

Dalam Alqur’an, banyak juga yang menjelaskan mengenai makanan yang baik. Diantaranya mengkonsumsi buah-buahan dan susu segar mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Al-An`am ayat 99 dan Al-Nahl ayat 66), mengkonsumsi ikan laut sebagai sumber protein paling melimpah (An-Nahl ayat 14), membaca basmalah pada setiap penyembelihan hewan halal mengandung pesan keimanan (Al-An`am ayat 118) dan mengkonsumsi makanan halal identik dengan bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT (An-Nahl ayat 114). Kemudian, di dalam Alqur’an juga diisyaratkan mengenai jenis-jenis makanan yang mengandung gizi yang baik, seperti yang terdapat dalam Q.S. ‘Abasa (80) ayat 24-32.

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, , Kami-lah yang telah Mencurahkan AIR melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami Tumbuhkan biji-bijian, anggur dan sayur-sayuran dan zaittun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”.

Perhatikanlah ayat-ayat di atas, sungguh luar biasa isyarat Allah di dalam ayat-ayatNya. Allah melalui ayat-ayatNya, pertama menyebutkan air yang telah dicurahkan, kemudian biji-bijian, lalu tumbuh anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma, kemudian kebun-kebun yang rindang, rendah, teduh, buah-buahan serta rerumputan, kemudian barulah hewan. Ayat ini menjelaskan sebagian besar nabati dan sebagian kecil hewani. Dan semua ini diciptakan untuk kesenangan manusia. Kemudian, dalam QS. Thaha : 81, Allah memerintahkan kita untuk menyeleksi makanan dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Apabila kita tidak mengindahkannya, maka akan muncul akibat berupa penyakit yang pada akhirnya mengantarkan kita pada kematian.

Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah dia.” (QS. Thaha/20 : 81). (***)

Related posts