Kuliah Daring tapi UKT “Mencekik”

  • Whatsapp
Jarir Idris
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Surakarta

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) bersama Kementerian Agama (Kemenag) nampaknya sedang diincar oleh mahasiswa seluruh Indonesia. Bagaimana tidak? Di berbagai lini ekonomi, sosial dan kesehatan pemerintah telah menerapkan kebijakan yang didasari oleh dampaknya COVID-19. Namun hal itu, tidak atau belum dilakukan oleh Kemendibud dan Kemenag. Dimana Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang menaungi seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia digugat oleh mahasiswa.

Perang hashtag di twitter #MendikbudDicariMahasiswa sampai pada #KemenagJagoPhp juga terkait dengan hashtag Nadim dan juga Fachrul kembali bergaung di media sosial saat ini. Ini menunjukkan, bahwa semangat mahasiswa belum mati. Tidak hanya nostalgia belaka ketika 98, namun mahasiswa kini pun bisa beraksi dari rumah hanya dengan berbaring.

Selayaknya, kedua Kementerian ini, mempertimbangkan secara matang terkait keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Kuliah daring (online) yang diterapkan oleh kampus memakan cukup banyak biaya kuota yang harus dikeluarkan. Belum lagi penjelasan materi yang membingungkan dengan beban tugas yang menambah berat badan.

Beban ekonomi yang ditanggung oleh keluarga cukup “mencekik”, hanya dengan iming-iming potongan listrik. Ditambah dengan uang kuliah tunggal (UKT) yang tidak mengenal keadaaan alias “mencekik”. Kondisi ekonomi yang mengadat menyebabkan seluruh mahasiswa di Indonesia kebingungan untuk membayar uang semester selanjutnya. Fasilitas kampus yang tidak digunakan selama pandemi, nampaknya juga harus dibebankan tanggungjawabnya kepada mahasiswa. Belum lagi beban tugas yang menumpuk, dosen yang sulit diajak untuk berkonsultasi sampai pada kualitas koneksi yang tidak merata diseluruh pelosok negeri. Ini tentunya memberatkan mahasiswa dan juga tidak mustahil jika nantinnya akan ada aksi yang berlangsung ketika pandemi, jika hal ini tidak segera dituntaskan. Bukan menuntaskan mahasiswanya, namun menuntaskan masalah uang kuliah tunggal yang masih menjadi polemik diperguruan tinggi.

Baca Lainnya

Jika beban tugas kuliah dirasa berat, mahasiswa masih sanggup untuk bertahan. Sebisanya para aktivis akademisi ini, memenuhi tugas yang diberikan. Ibaratkan setumpuk gunungpun masih bisa diusahakan, meskipun dengan sedikit keluhan. Namun, tidak ada toleransi jika itu berakaitan dengan ekonomi dan hak yang harus dipenuhi oleh para pemimpin negeri.

Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu Kemenag juga sudah menerbitkan surat edaran tentang pemotongan UKT kisaran 10% ketika wabah pandemi. Namun, tiada angin tiada petir apalagi badai, Kemenag mencabut kembali surat edaran yang disebarkan. Dari Kemendikbud pun, tampaknya belum mengeluarkan suara terkait dengan kebijakan UKT. Hal ini tentunya akan menambah sumpek suasana.

Kuliah, disamping untuk membanggakan kedua orang tua, tentunya juga sebagai bentuk perjuangan mahasiswa dalam mewujudkan cita-cita pendidikan nasional yang tercantum pada pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “….mencerdaskan kehidupan bangsa …”. Bangsa yang cerdas mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntu ilmu dan juga dukungan pemerintah yang memadai agar tidak menjadi keruh. Pemerintah hanya diminta untuk mendukung semangat generasi bangsa yang ingin kuliah. Itupun, dari uang rakyat yang kembali kepada rakyat bukan dari merogoh kocek sendiri.

Kebijakan yang mencekik mahasiswa, nantinya akan mematikan semangat pendidikan yang ada di Indonesia. Ini tentunya tanggungjawab bersama sebagai warga negara. Kita harus senantiasa mendukung keberlangsungan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Teruntuk para pemegang kebijakan uang kuliah tunggal, juga jangan sampai salah tindakan apalagi salah sasaran seperti tetangga sebelah. Mahasiswa membutuhkan support secara materil dari negara untuk hadir dalam mengentaskan masalah biaya kuliah. Biarlah support moril kami cari sendiri. Urus saja morilmu dan luruskan kebijakanmu. Kami menunggu keputusanmu. Hidup mahasiswa !!!(***).

Related posts