Kekalahan Donald Trump dan Arah Politik Luar Negeri Amerika Serikat

  • Whatsapp
Penulis: Bahjatul Murtasidin
Dosen Jurusan Ilmu Politik FISIP UBB

Hajatan kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat telah dilaksanakan pada tanggal 3 November 2020. Donald Trump merupakan petahana yang di usung dari Partai Republik. Sedangkan penantangnya adalah Joe Biden, politisi kawakan sekaligus mantan Wakil Presiden di era Barrack Obama dari Partai Demokrat. Hajatan kontestasi kali ini, berbeda dengan kontestasi sebelumnya, dan bahkan menarik perhatian bagi jutaan orang. Paling tidak, ada tiga alasan yang bisa dikemukakan. Pertama,  Pilpres Amerika Serikat dilaksanakan di tengah pandemi covid yang belum berakhir, bahkan Amerika merupakan episentrum dunia untuk kasus ini. Kedua, Pilpres dilakukan  di tengah menurunnya pengaruh Amerika di panggung internasional. Ketiga, Pilpres dilakukan di tengah gejolak politik dan keterpurukan ekonomi yang terjadi. Oleh karena itu, siapapun yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ini akan memiliki tugas yang berat dan sangat menantang.

Jika berkaca pada periode Pilpres sebelumnya, Donald Trump merupakan kuda hitam, karena mampu mengalahkan Hilliary Clinton sebagai calon Presiden dambaan yang memperoleh suara terbanyak tapi kalah dalam electoral vote-nya. Tapi, dalam Pilpres kali ini, Donald Trump kalah baik dari jumlah suara maupun jumlah electoral vote-nya. Sang penggagas “Make America Great Again” tak berkutik ketika dikalahkan oleh Joe Biden. Tentu saja, ini menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diuraikan.

Read More

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Arief Pranoto (2020), di tangan Donald Trump, pola kebijakan (geopolitik) Amerika yang notabene-nya Partai Republik agak berbeda dibanding rezim sebelumnya meski dari partai yang sama. Tradisi yang dibangun oleh Partai Republik adalah lebih mengedepankan hard power (kekuatan militer) melalui berbagai isu, seperti misalnya isu ISIS, terorisme, Islam radikal dan lain-lain daripada isu lain atau pendekatan-pendekatan lain. Kenapa begitu, karena partai Republik didukung mayoritas industri strategis pertahanan, SDA, judi dan seterusnya. Tetapi di era Donald Trump, pakem hard power yang menjadi ciri Partai Republik ini tidak dijalankan.

Joe Biden sebagai pemenang Pilpres diusung dari Partai Demokrat. Tradisi yang dibangun oleh partai ini adalah dengan menggunakan soft atau smart power melalui isu – isu Demokrasi, HAM dan Lingkungan, karena ia di back up oleh industri IT, inovasi, finance, asuransi, industri kesehatan dan seterusnya yang sifatnya soft power (Arief Pranoto, 2020).

Related posts