IJTI Babel Minta Kasus Intimidasi Terhadap Jurnalis TVRI di Bangka Barat Diusut Tuntas

  • Whatsapp
Ketua IJTI Babel, Joko Setyawanto

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG– Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Bangka Belitung (Babel) mendesak kasus intimidasi terhadap  Hamdani seorang kontributor TVRI saat melakukan peliputan evakuasi 12 anak buah kapal (ABK) di Wisma Karantina COVID-19 Bangka Barat diusut tuntas.

“Agar para oknum ini diproses sesuai ketentuan hukum mengedepankan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. IJTI Babel juga sudah berkoordinasi dengan pengurus pusat dan Dewan Pers untuk mendorong penyelesaian insiden memalukan ini secara tuntas,” tegas Ketua IJTI Babel, Joko Setyawanto dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (4/6/2020).

Peristiwa itu dialami oleh Hamdani saat melakukan peliputan evakuasi 12 anak buah kapal (ABK) tagboat berikut nahkodanya di Wisma Karantina COVID-19 Bangka Barat, Rabu (3/6/2020). Ke-12 ABK tersebut diduga kontak langsung dengan Kapal Keruk Singkep PT Timah yang beberapa karyawannya dinyatakan positif Corona hasil swab.

“IJTI sangat menyesalkan tindakan barbar dan tidak rasional yang dilakukan para oknum ABK dan nahkoda yang sudah menciderai kekebasan pers dan hak sipil masyarakat untuk mendapatkan informasi,” jelas Joko.

Baca Lainnya

Sementara itu, Hamdani yang diduga mengalami intimidasi oleh oknum ABK dan nahkoda mengatakan kejadian itu tempatnya di luar ruangan bukan di dalam gedung.

“ABK dan nahkoda ini sedang dilakukan interview oleh petugas dan posisi saya ambil gambar berjarak 20 meter. Tiba-tiba ada teriakan (jangan diliput) dari salah satu petugas dengan nada tidak sopan,” kata Hamdani.

Teriakan tersebut, lanjut Dani, sontak membuat reaksi para ABK dan nahkoda yang sedang diinterview. Setelah dilarang, dia pun mematikan kameranya.

“Mereka (ABK dan Nahkoda) menghampiri saya minta dihapus rekaman video saya. Ada 4 orang ini seperti mau nyerang saya. Tapi saya tidak tau pasti relawan atau dari petugas yang teriak karena mereka tidak ada yang nagaku, setelah itu dipisah oleh petugas TNI AL,” cerita Dani.

“Ada juga yang ngomong (nahkoda), ‘apa saya perlu bawa bensin (didepan petugas). Kenapa saya dilarang. Pemerintah aja terbuka terkait wabah ini,” tegasnya.

“Kejadiannya spontan. Setelah ada teriakan petugas medis yang melarang untuk meliput kegiatan tersebut. Jadi nahkoda dan kawan-kawannya datang seolah mau ngeroyok setelah mendengar teriakan larangan meliput,” tambahnya. (rls)

Related posts