Harga Lada Mulai Merangkak Naik, Eksportir Harus Kompak

  • Whatsapp

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG – Harga lada Bangka Belitung (Babel) mulai merangkak. Terpantau 3 Agustus 2020, harga lada di pasaran internasional mulai menunjukkan harga yang naik, yakni Rp 60.064 per kilogram atau 4086 USD/MT, dari harga sebelumnya kisaran Rp55.000 per kilogram.

Kenaikan ini, direspon positif oleh Gubernur Babel, Erzaldi Rosman, ia menilai pergerakan kenaikan ini membawa motivasi bagi pemerintah untuk terus berupaya mengembalikan kejayaan lada, dan juga meningkatkan semangat petani untuk lebih giat menanam lada.

“Pemprov sudah melakukan banyak hal untuk meningkatkan kekayaan lada, karena komoditi ini adalah komoditi unggulan, melihat kondisi sekarang, harga menurun terus di petani lada hampir nggak bagus tumbuhnya, karena disamping niat menanam lada berkurang, penyakit lada nggak pernah selesai,” ujarnya, Selasa (4/8/2020).

Baca Lainnya

Pemprov, tegasnya, mengambil beberapa kebijakan untuk menunjang peningkatan kejayaan lada ini, dan diakuinya dalam perjalannya ada naik turun.

Namun, ingatnya, perihal harga, pemerintah tidak bisa mengintervensi karena tidak bisa menentukan harga, melainkan bergantung pada pasar dunia, tetapi bukan berarti Pemerintah tidak bisa mempengaruhi dengan kebijakan untuk memperbaiki tata kelola pasar.

“Sejak 2017-2020 kita sudah berupaya, hasil tidak langsung naik drastis, tapi pelan-pelan kita mulai ikut dalam beberapa konferensi, mulai dari ikut konferensi IPC sampai dua kali, kita tau strategi orang, kita buka pasar baru ke Eropa, Rusia, dan hampir semua lada dikuasai Vietnam lucunya, mutu lada lebih rendah dari lada Babel,” jelasnya.

Tapi, lanjutnya, kenapa lada Babel harganya bisa lebih rendah dari Vietnam. Oleh karena itu, Pemprov melakukan pembenahan salah satunya, merubah BP3L, agar lebih diperdaya. Membentuk koperasi lada dan Kantor Pemasaran Bersa (KPB) untuk memperkuat ekspor lada yang hanya dari Babel.

“Ini memungkinkan karena kita punya IG (indikasi geografis-red), dulu nggak pernah dilibatkan dalam proses penjualan. Sekarang, lada Babel sudah mengalahkan lada Vietnam, meninggalkan lada Ho chi min dalam penjualan lada,” tukasnya.

Eksportir tandasnya, juga harus kompak, bulan depan juga akan dilakukan perdagangan lada melalui pasar bursa, yang akan dimulai pada 8 September mendatang.

“Bulan depan lada akan mulai diperdagangkan pakai bursa, kita sudah membentuk komite penetapan harga lada, sebagai acuan,” ulasnya.

Tak hanya itu, Pemprov, kata dia, juga sudah melakukan pembenahan terhadap bibit lada, dimulai dari bibit yang sudah dibagikan, agar mutu lada juga lebih bagus, sertifikasi bibit lebih bagus.

“Usaha pemerintah ini, untuk memperdaya petani dan mengembalikan kejayaan lada bisa terwujud, bukan masalah naik turun harga, tapi nilai tambah petani,” tambahnya.

Pemprov Babel, kata dia, juga mendorong hilirisasi produk lada, dan sekarang BUMD sudah hilirisasi, dan nantinya kelaur aturan kalau produk keluar untuk dalam negeri harus sudah dihilirisasi.

Kepada petani, Erzaldi juga berharap tetap semangat dan harus pandai menempatkan atau memutuskan kapan menjual lada, jika belum mau jual, petani bisa menitip di resi gudang, tetapi jika belum butuh uang, sebaiknya menunggu harga yang tepat.

Staf khusus Gubernur, Saparuddin mengatakan, untuk lada kemasan yang sudah dihilirisasi harganya jauh lebih menggiurkan dan tinggi dibandingkan harga butiran. Oleh karenanya, Pemprov mendorong industri hilirisasi lada di Babel.

Udin menyebutkan, Pemerintah saat ini, melakukan diversifikasi pasar dan produk, untuk mengembalikan kejayaan lada.

“Diversifikasi pasar artinya kita merambah pasar internasional, yang tadinya hanya 10 negara, sekarang kita pasarkan ke banyak negara, masuk ke Eropa, Amerika dan Arab Saudi,” katanya.

Lada petani, diungkapkannya, juga akan disortir, karena dari lada yang dihasilkan ini memiliki banyak kualitas, yang sayangnya, selama ini hanya dihargai satu kualitas saja.

Lada tandasnya, memiliki berbagai jenis dan kualitas, dan dihargai lebih tinggi dibandingkan harga kualitas yang rendah.

“Gubernur sudah membentuk tim untuk penentuan harga dasar lada, tujuannya adalah untuk penawaran awal harga lada di bursa di pasar lelang yang akan dilaksanakan oleh kantor pemasaran bersama, penetapan harga dasar kita begini kita jual untuk lada kualitas masing-masing, misalnya Muntok White Paper (MWP) 1, MWP 2, dan lainnya,” terangnya.

Ia melihat, pergerakan harga lada juga mulai meningkat, tapi diakuinya belum cukup puas dengan harga ini, ia berharap masih bisa naik.

“Di IPC itu, lada Babel hanya ditulis Muntok, padahal kalau dipilah itu ada kualitas super, bisa lebih tinggi harganya. Makanya kita berharap IPC bisa lebih jelas lagi dalam menyebutkan skala dan standar kualitas lada kita,” imbuhnya.(nov)

Related posts