Etika Bermedsos di Era Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Yuni Ayu Izma
Mahasiswi STISIPOL Pahlawan 12 Sungailiat, Bangka, Babel

Seiring perkembangan teknologi yang serba canggih, etika sangatlah penting dalam penggunaan bermedia sosial. Etika menurut Yunani kuno yaitu “ethikos”, berarti “timbul dari kebiasaan”, adalah sesuatu dimana dan bagaimana mempelajari nilai atau kualitas diri dalam kebiasaan berinteraksi dengan orang lain mengenai standar pembelajaran perilaku/sikap sopan santun serta penilaian moral. Saat ini, penggunaan media sosial dengan mudah mengakses sejumlah situs apapun yang ditawarkan untuk mendapatkan berbagai informasi baik dalam bidang pembelajaran secara online (daring) maupun bidang hiburan yang dapat mengisi waktu kosong dikala pandemi covid-19. Hampir semua orang tidak mengetahui etika apa saja yang harus diingat dan diperhatikan pada saat mengakses jejaringan media sosial.

Namun tidak sedikit pula permasalahan di media sosial yang terjadi diakibatkan kurangnya kesadaran masyarakat beretika dalam bermedia sosial. Seperti data yang dilansir dari salah satu media online nasional, video prank sembako isi sampah Youtuber Ferdian Paleka ini menjadi viral di media sosial. Penulis sempat melihat sekilas di akun Instagram yang diumbar oleh sejumlah netizen yang tidak terima dengan perlakuan oleh Ferdian Paleka. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Youtube-nya, Ferdian Paleka dan dua temannya melakukan prank kepada waria di Bandung, Jawa Barat. Dia membuat prank bermodus membagikan sembako kepada waria. Bukannya berisi sembako yang dibagikan oleh setiap orang dalam membantu situasi pandemi covid-19, justeru memasukkan sampah berupa tauge busuk hinga bratu ke dalam kardus mie instan.

Ironisnya, Ferdian tidak merasa bersalah ataupun meminta maaf. Atas aksinya yang tak terpujinya itu berakhir pada jeruji besi oleh beberapa laporan dari  korban yang merasa terhina dan sakit hati. Korban mendatangi Polrestabes Bandung dan  melaporkan aksi prank Ferdian. Kini Ferdian telah ditangkap oleh Polrestabes Bandung. Nah, ini membuktikan bahwa kita perlu menjunjung tinggi etika bermedia sosial. Jangan menganggap mereh penggunaan media sosial, demi mendapatkan follower tinggi dan kita terkenal di media sosial, sehingga tindakan penyimpangan sosial pun dilakukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua orang mengabaikannya.  Hal itu sepele dilakukan terutama etika sopan santun dan layak dalam memberikan pesan. Sebenarnya memberikan bahasa yang baik bukanlah suatu hal yang rugi, ini malahan bahasa kasar dan menyinggung perasaan orang lain masih diberikan dalam berkomunikasi di media sosial. Adanya penyakit hati membumbuhi percakapan pesan yang tidak bermoral. Biasakanlah untuk menggunakan bahasa yang tepat dengan siapapun pada saat berinteraksi, dengan begitu dapat menghindari hukuman atau aturan yang berlaku yakni Menurut UU No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE). Ada lima pasal yang mengatur etika bermedia sosial kepada masyarakat yakni Pasal 27 sampai dengan pasal 30.

Baca Lainnya

Beberapa hal penting terkait etika dalam menggunakan bermedia sosial: 1) Gunakan etika sopan santun dalam berkomunikasi; 2) Jangan menyebarkan SARA, Pornografi dan aksi kekerasan; 3) Melakukan pengecekan kebenaran berita; 4) Menghargai setiap hasil karya orang lain; 5) Jangan terlalu mengumbar informasi secara pribadi.

Dengan menggunakan jejaringan media sosial di era pandemi covid-19, kita dapat dengan mudah memantau berbagai informasi yang ditayangkan di situs internet, terutama tentang jumlah kasus Covid-19 dan cara mencegahnya oleh pihak pemerintah Indonesia. Namun Kita sebagai pengguna internet harus bijak dalam menyikapi setiap permasalahan yang terjadi. dengan menjauhkan diri mengumbar hal-hal pribadi di jejaringan sosial seperti bersifat sensitif dan sangat pribadi jangan pernah dibagikan oleh siapapun, kecuali keluarga inti, karena dapat mengundang mereka yang ingin bertindak kejahatan kepada anda. Jadi, pergunakanlah etika bermedia sosial dengan sebaik, dan sebijak mungkin dalam menerima informasi serta biasakanlah untuk berpikir sebelum bertindak dengan begitu dapat menghindari berbagai aktivitas kejahatan di media sosial.(***).

 

 

Related posts