Era “New Normal” Momentum Memulai Hidup Disiplin

  • Whatsapp
Adzanah Firyal Nabilah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi FE UBB

Indonesia masih belum menandakan kepulihannya. Jumlah angka pada kasus Covid-19 semakin tinggi, bahkan semakin mewarnai penjuru bumi pertiwi ini. Untuk mengatasi kondisi ini, kebijakan baru mulai diperkenalkan untuk keberlangsungan hidup bangsa. Seluruh kalangan antusias membicarakan apa saja perihal yang menyangkut tentang “New Normal” yang sebentar lagi berangsur-angsur akan diterapkan di Indonesia. “New Normal” adalah suatu cara atau gaya hidup baru tentang bagaimana masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari di masa pandemi Covid-19. Hal ini, sebenarnya menjadi kekhawatiran, karena kurva perkembangan Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan kelandaian, dan menandakan bahwa jumlah kasus belum reda.

Muncul suatu dilema dari berbagai pihak bahwa penerapan cara hidup baru tersebut, akan membuat kasus-kasus bertambah banyak dan memperburuk keadaan. Meski sudah lama diimbau untuk selalu menjaga jarak atau social distancing, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang enggan menjalankan imbauan tersebut serta sulit untuk mematuhinya. Ini tentu menjadi masalah tambahan dalam penerapan “New Normal”. Kita sudah tahu bahwa Virus Corona sangat mudah menyerang orang-orang dengan imunitas yang lemah seperti lansia. Dalam penerapan “New Normal” orang-orang dengan imunitas yang lemah, agak sulit untuk beradaptasi dengan cara hidup baru ini, dimana kondisi tubuh mereka yang sangat rentan terhadap penularan penyakit. Dengan begitu, penerapan “New Normal” di Indonesia harus dipersiapkan dan diantisipasi dengan matang dan jelas, serta harus diimbangi dengan ketaatan dalam pelaksanaannya.

“New Normal” tidak terlepas mengenai pendidikan yang akan dijalankan secara normal dalam masa pandemi ini. “New Normal” mengajak anak-anak Indonesia kembali belajar ke sekolah dan kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan seperti sedia kala sesuai dengan protokol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. “New Normal” dalam bidang pendidikan akan dilaksanakan secara bertahap dengan pertimbangan di setiap penerapannya. Hingga tibalah saatnya anak-anak sekolah dasar akan kembali duduk di bangku kelas mereka. Untuk menghadapi situasi saat ini, kita harus memperhatikan serta mempersiapkan anak-anak yang akan kembali ke sekolah baik secara mental dan pandangan mereka.

Sampai saat ini, pengetahuan mengenai Virus Corona masih sangat minim diketahui oleh anak-anak Indonesia, khususnya anak-anak usia sekolah dasar. Informasi seputar Corona yang terdengar di telinga anak-anak masih mencangkup pembahasan yang umum saja dan belum terlalu mendalam atau spesifik. Ketidaktauan mereka terhadap bahaya Corona akan membuat mereka bersikap acuh tak acuh, dan ini tentunya membahayakan. Dengan begitu, kita bisa menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana Virus Corona tersebut bisa menyebar dengan sangat cepat, apa dan bagaimana dampak atau bahaya jika kita terinfeksi, serta apa saja hal-hal yang harus kita biasakan untuk mencegah tertularnya virus.

Baca Lainnya

Jika informasi tersebut disampaikan dengan cara yang tepat dan benar akan menghadirkan sikap kewaspadaan pada anak untuk melindungi diri mereka dari ancaman virus. Dan justru sebaliknya, penyampaian yang kurang tepat atau salah akan membuat anak-anak panik, ketakutan atau bisa saja tidak peduli. Jangan sampai anak-anak Indonesia tertular atau menjadi penular, karena ketidakbijakan para orang dewasa. Pengetahuan seputar Corona sangat penting untuk mengedukasi anak-anak tentang betapa pentingnya menjaga diri agar terhidar dari virus, terlebih sebentar lagi mereka akan mulai menjalankan cara hidup baru. Dengan pengetahuan yang dimiliki oleh anak-anak, maka kegiatan “New Normal” dalam bidang pendidikan akan mengarah pada perubahan yang lebih baik lagi.

Bimbingan pada anak harus benar-benar dilaksanakan oleh orang tua atau keluarga sebelum anak-anak kembali ke sekolah. Jangan biarkan anak-anak tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi saat ini. Para orang tua harus menjelaskan kepada anak-anak tentang apa itu “New Normal”, bagaimana sikap yang benar saat penerapan “New Normal”, serta memberikan pengertian kepada anak-anak untuk pentingnya mematuhi protokol atau imbauan dari pemerintah selama bersekolah. Selain menjelaskan seputar Corona dan “New Normal”, para orang tua juga harus mengajarkan sikap optimis dan berpikir positif.

Meski “New Normal”, pastikan anak-anak hanya keluar rumah untuk aktivitas yang penting-penting saja. Sikap tersebut dipilih untuk mengurangi risiko anak-anak tertular di era “New Normal”. Meskipun kehidupan sudah dapat dikatakan kembali normal, bukan bearti semua orang boleh beraktivitas sebebas-bebasnya. Apapun kebijakannya saat ini, pasti bertujuan untuk mengakhiri pandemi. Semakin banyak yang taat pada aturan, maka semakin cepat pula bumi ini pulih. Dan semua masyarakat terlibat dalam proses pemulihan ini, termasuk anak-anak.

Pemerintah diharapkan dapat berperan aktif dalam penyelenggaraan pendidikan di era “New Normal” ini, dengan terus berupaya mengutamakan keselamatan para anak bangsa. Penyediaan sarana dan prasarana penunjang kesehatan seperti tempat cuci tangan, sabun antiseptic, handsanitizer, masker, pelindung wajah dan sebagainya sangat diperlukan anak-anak agar terhindar dari virus. Kemudian, di masa “New Normal” ini cara pengajaran yang kreatif sangat-sangat diperlukan, agar efektivitas belajar di tengah pandemi dapat tercapai. Para guru diharapkan dapat memberikan warna yang berbeda atau inovasi dalam memberikan ilmu saat di sekolah nanti. Cara ini digunakan untuk membangkitkan semangat belajar anak-anak yang selama ini hanya belajar lewat online.

Untuk menjaga imunitas anak agar tetap baik, dianjurkan orang tua untuk memberikan asupan gizi yang baik, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, susu sebagai sumber zat besi, vitamin untuk daya tahan tubuh serta asupan penting lainnya. Selama di sekolah, pemerintah juga bisa membantu pemenuhan asupan gizi anak seperti pemberian susu atau vitamin. Selanjutnya, sesuai dengan Sila Pertama Pancasila, yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”, satu hal yang tak boleh terlupakan dalam era normal baru ini, yaitu mengajak anak-anak untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta serta memperbanyak ibadah dan doa.

Keselamatan dan keamanan anak-anak bangsa tidak hanya menjadi tanggungjawab para orang tua dan pemerintah saja, namun menjadi tanggungjawab bersama. Bagaimana bisa demikian? Semua dimulai dari diri kita sendiri, kita yang menaati aturan, kita yang cinta persatuan, dan kita yang memberikan teladan. Semua demi mereka. Mereka? Bukan hanya mereka saja, tapi untuk satu Indonesia. Mari jadikan “New Normal” sebagai momentum untuk memulai hidup yang lebih disiplin, mulai dari hidup sehat, hingga lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Semangat! Kita bisa!(***).

Related posts