Dosa Apakah sehingga Mereka Dikucilkan?

  • Whatsapp
Kurniawansyah
Founder Lintas Kebhinekaan Bangsa

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu dan mau menghargai jasa para pahlawannya. Ini merupakan suatu kutipan pernyataan yang kerap kali dilontarkan para pemimpin di negeri ini. Tak lepas pula Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau yang kerap disapa Jokowi melontarkan kutipan pernyataan tersebut, dalam memperingati Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu, 10 November 2019 lalu. Suatu pernyataan yang singkat, namun sarat makna.

Dalam tatanan bernegara, revolusi dan reformasi yang bergulir dalam menuju untuk mewujudkan negara yang adil dan makmur merupakan sebuah proses pemikiran yang sangat melelahkan, karena mau tidak mau akan mengorbankan jiwa maupun raga dalam menuju proses tersebut.

Read More

Perlu menjadi catatan penting, Negara Kesatuan Republik Indonesia tegak dan berdiri sampai dengan saat ini, merupakan keikhlasan hati dari para raja dan sultan yang ada di nusantara untuk memberikan segala marwah kewenangan yang mereka miliki agar negeri dan bangsa ini, menjadi besar. Mereka kesampingkan ego masing-masing agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang beradab dan berdaulat tanpa berpikir panjang kedepannya mereka akan tersingkir dari peradaban di negeri ini. Tidak banyak yang mereka tuntut, yakni para raja dan sultan yang ada di nusantara agar untuk dihargai dan dihormati layaknya manusia yang beradab bagi generasi selanjutnya.

Dari Sabang sampai Merauke telah tegak dan berdiri kerajaan – kerajaan yang ada di Indonesia. Kerajaan tersebut telah berdiri sebelum negara ini, terbentuk. Tidak ada tuntutan dari mereka untuk diperlakukan secara istimewa dan sama dengan beberapa daerah lainnya, mereka hanya ingin bangsa ini, bisa dan mampu menghargai jasa mereka dikarenakan tegak dan berdirinya negara ini, tak luput atas jasa perjuangan mereka.

Beberapa hari kebelakang ini, menjadi pemberitaan yang viral, dimana ada lontaran pernyataan dari mantan petinggi di negeri ini, membiaskan sejarah perancang lambang negara Indonesia yakni Burung Garuda. Tak elok ketika pernyataan tersebut dilontarkan oleh mantan petinggi di negeri ini, secara frontal dengan membiaskan makna pejuang menjadi penghianat. Tidak menjadi persoalan siapa yang pertama kali yang telah merumuskan dan mendesain lambang negara tersebut menjadi sebuah lambang yang sakral di negeri ini. Namun, perlu diingat dan direnung kembali, perjuangan yang mereka curahkan untuk merumuskan dan menggagaskan lambang yang dianggap sakral tersebut, merupakan suatu tetesan perjuangan yang belum tentu dapat kita capai.

Related posts