DKPUS Babel akan Berburu Arsip Bangunan Bersejarah Hingga ke Belanda

  • Whatsapp
Asyraf Suryadin Kepala DKPUS Babel memberikan Buku Sejarah Bangka Belitung Menjadi Provinsi kepada Tim Evaluasi Kinerja Kearsipan BPKP Perwakilan Babel.(foto: ist).

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG – Untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi berkenaan bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), mulai tahun 2021 mendatang, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKPUS) Babel akan berburu arsip bangunan-bangunan sejarah tersebut.

Kepala DKPUS Babel, Asyraf Suryadin mengatakan, perburuan dokumen-dokumen bangunan bersejarah di Babel sangat perlu dilakukan.

Read More

“Kita berusaha mencari dokumen-dokumen bangunan sejarah yang kita miliki, apakah sebelum kedatangan belanda atau setelah kedatangan belanda, jepang, akan kita cek ulang, kita lakukan akuisisi,” ujar Kepala DKPUS Babel Asyraf Suryadin, Senin (30/11/2020).

Dalam upaya pengumpulan arsip atau dokumen sejarah itu, kata Asyraf, kalau mereka tidak tidak menyerahkan, biar dari DKPUS saja yang datang ke tempat mereka, sehingga dokumen-dokumen itu bisa dimiliki.

“Dengan mengumpulkan arsip atau dokumen maupun berkas sejarah, DKPUS siap memberikan pelayanan informasi bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus kesempatan kita untuk meluruskan sejarah-sejarah arsip bangunan yang ada di Babel,” ungkapnya.

Biasanya, menurut Asyraf, orang akan merasa senang apabila sesuatu yang dicarinya ada di kearsipan DKPUS Babel, apalagi itu dokumen masa lalu.

“Oleh karena itu, pada tahun 2021, nanti kita akan berburu berkas-bekas dan dokumen-dokumen, khususnya peninggalan-peninggalan zaman Belanda,” tegas Asyraf.

Termasuk, kata Asyraf, dokumen yang dianggap vital dibangun pada masa setelah kemerdekaan, misalnya Gedung Eks Kantor Gubernur Babel pertama yang saat ini, ditempati DKPUS Babel.

“Kita kan belum tahu dokumennya ada dimana gedung DKPUS kita ini. Gedung inikan dijadikan sebagai cagar budaya. Nanti, dokumen itu akan kita pajang, supaya orang kalau datang tahu sejarahnya,” kata Asyraf.

Sama halnya dengan Jembatan Emas, ditambahkan Asyraf, itu merupakan aset penting bagi Babel. Oleh karena itu, dokumennya baik oleh PU maupun yang mengerjakan Jembatan Emas harus menyerahkan ke DKPUS Babel.

“Kalau nanti ada data-data yang tidak lengkap, mau tidak mu kita harus berburu arsip bila perlu hingga ke Negeri Belanda,” imbuhnya.(rel).

Related posts