Ditetapkan Tersangka, PH Sebut Ada Kriminalisasi Kasus Amel

  • Whatsapp
Syarifah Amelia

RAKYATPOS.COM,BELITUNG TIMUR– Penasehat Hukum (PH) Pasangan Calon Bupati Belitung Timur (Beltim), Burhanuddin dan Khairil Anwar (Berakar), Marihot Tua Silitonga menduga ada upaya kriminalisasi terkait penetapan tersangka Syarifah Amelia (Amel) dalam kasus dugaan tindak pidana pilkada. Kasus Amel yang menjabat Ketua Tim Pemenangan Berakar ini ditangani Sentra Gakkumdu Beltim.

“Ada kekuatan besar yang memiliki pengaruh kuat, sehingga Amel ditetapkan menjadi tersangka.

Read More

Selaku kuasa hukum Berakar menduga kasus Amel ini bagian dari rintik hujan kriminalisasi yang ditujukan kepada Amel, untuk melemahkan gerakannya dalam suksesi pemenangan pasangan Burhanudin-Khairil Anwar,” kata Marihot, Senin (23/11/2020).

Menurut dia, ucapan Amel saat berorasi menyampaikan visi misi dan mengajak pemilih yang hadir untuk memilih pasangan nomor 1 dengan harapan serta komitmen agar pilkada di Beltim berlangsung langsung umum bebas rahasia (Luber) dan jujur dan Adil (Luber) sebagaimana amanat UUD 1945 di Kecamatan Simpang Renggiang tidak mengandung unsur pidana.

Namun, kata Marihot, oleh Bawaslu Beltim, orasi Amel dianggap memenuhi unsur pasal 69 Huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pilkada dan menurutnya dengan tergesa-gesa Amel ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Beltim.

Dia sangat menyayangkan sikap Bawaslu dalam proses penanganan pelanggaran tindak pidana pilkada tersebut. Ia berpendapat, Bawaslu Beltim tidak mengedepankan prinsip pencegahan (persuasif) dibanding upaya penindakan (supresif).

“Padahal kalau mau melihat dan secara sadar mengakui bahwa pada saat kejadian pengawas pemilu pada saat itu hadir dan mengawasi langsung pelaksanaan kampanye tersebut namun berdasarkan hasil pengawasannya kan tidak ditemukan dugaan pelanggaran pada saat hari dan tempat kejadian tersebut,” ungkapnya.

Marihot menjelaskan, pertama, bahwa kalimat yang dikampanyekan Amel tersebut merupakan kalimat yang positif tidak ada sedikitpun tendensi untuk menghasut, memfitnah dan mengadu domba, kemudian dalam hal ini Amel menginginkan Pilkada Beltim berjalan sebagaimana amanat UUD 45 dan peraturan perundang-undangan tentang Pilkada yaitu Luber dan Adil. Artinya, ujar dia, niat jahatnya tidak ada.

“Kedua, sangkaan terhadap Amel kami nilai sangat prematur, karena jika pasal yang digunakan dan dikorelasi dengan ucapan Amel, saat ini pilkada Beltim masih belum selesai tahapannya, artinya masih sangat besar potensi Pilkada Beltim tidak bersih, dan itu dilihat dari beberapa indikator, salah satunya Bawaslu Beltim dalam temuan pelanggaran yang sudah ditindaklanjuti dan dikeluarkan rekomendasi diantara terkait netralitas pegawai Pemkab Beltim dan penyelenggara Pemilu AdHoc.” Terangnya.

Related posts