Covid-19 dan Ekonomi Masyarakat Bawah

  • Whatsapp
Ari Wibowo
Pengajar Program Studi Ilmu Ekonomi UBB

Corona atau Covid-19 tidak pandang bulu, sekaliber artis sekalipun merasakan dampak ekonomi yang timbul akibat corona. Bahkan seorang pengusaha kondang yang masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia dikabarkan kehilangan harta puluhan triliun dalam sehari gara-gara corona. Dampak ekonomi akibat corona mulai memberikan tekanan bagi masyarakat dan juga pemerintah.

Beberapa hari yang lalu, headline media massa memberitakan bahwa seorang artis harus bertahan di tengah corona dengan uang yang ada di dalam rekening, sementara transferan bulanan yang biasanya datang dari stasiun televisi tidak lagi datang. “Tidak ada panggilan job syuting, usaha juga sepi pelanggan sementara kebutuhan tetap harus dipenuhi”, kira-kira begitulah kata si artis.

Read More

Berbeda cerita dengan beberapa orang pekerja sektor informal yang pernah penulis temui, meskipun sama-sama mengalami kesulitan ekonomi, namun setidaknya si artis masih lebih beruntung karena masih memiliki tabungan di rekening. Sementara pekerja sektor informal atau buruh harian hanya mengandalkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kalau tidak kerja, mereka tidak bisa makan karena tidak ada pemasukan serta tabungan. “Kalau kondisi seperti ini terus, bisa-bisa kami ini mati bukan karena corona mas, tapi karena kelaparan, karena tidak ada Kopi Rokok dan Nasi (Korona).” Kira-kira begitulah keluhan yang mereka sampaikan.

Para pekerja sektor informal ini tersebar di berbagai sektor ekonomi. Profesi mereka umumnya adalah buruh harian lepas, nelayan, petani, penjual keliling, tukang ojek, sopir, tukang cukur, tukang galon, dan lain-lain. Pekerjaan mereka yang mengandalkan pendapatan harian membuat mereka sangat terjepit di situasi seperti sekarang. Kita bisa membayangkan betapa tidak beruntungnya mereka dengan cara yang sangat sederhana. Bandingkan kondisinya dengan masyarakat yang berprofesi sebagai ASN misalnya, meskipun dalam kondisi wabah seperti sekarang, kondisi finansial mereka hampir sama sekali tidak terpengaruh. Mereka tetap mendapatkan gaji dan tunjangan yang lengkap. Atau misalnya kita bandingkan dengan pegawai swasta yang juga memiliki pendapatan tetap setiap bulannya. Kondisinya akan begitu berbeda. Meskipun pegawai swasta kadang-kadang bisa juga dirumahkan atau terkena PHK secara mendadak terutama di tengah ekonomi yang melambat seperti sekarang yang bisa menciptakan gelombang PHK yang semakin besar.

Namun yang paling rentan tentunya adalah pekerja sektor informal tadi. Kita sudah bisa merasakan sekarang, corona memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perekonomian. Beberapa sektor industri seperti perikanan dan perkebunan sudah mulai menutup usahanya. Kepiting rajungan misalnya, sekarang mulai tidak laku, sehingga masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan saat ini kesulitan untuk menjual hasil tangkapannya. Padahal banyak sekali masyarakat nelayan yang menggantungkan hidupnya dari menangkap kepiting. Di sektor perkebunan juga demikian, karet misalnya. Sekarang beberapa perusahaan sudah mulai menutup pabrik dan menghentikan produksinya sementara waktu sampai batas waktu yang tidak diketahui sehingga berdampak pada turunnya harga karet. Beberapa petani karet yang penulis temui juga sudah mulai resah dan was-was dengan kondisi ini. Tak hanya karet, sawit, timah dan komoditas-komoditas lain juga mulai terpukul.

Curhatan beberapa petani dan nelayan yang penulis temui tadi menggambarkan betapa seriusnya persoalan ekonomi yang mereka hadapi di tengah wabah corona saat ini. Yang lebih ironis lagi, di saat untuk makan saja sulit, sebagian masih harus membayar cicilan leasing ataupun bank yang sudah jatuh tempo. Padahal pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan penangguhan pembayaran cicilan bagi yang terdampak wabah Covid-19. Namun dilapangan kadang tidak sesuai dengan kebijakan yang ada, dan itu sudah biasa. Masih ada saja leasing-leasing yang tidak berempati kepada nasabahnya meskipun kita tahu dalam kondisi wabah corona semua aktivitas ekonomi tidak lagi berjalan lancar dan normal sehingga menggerus pendapatan.

Ironi tapi terjadi, inilah yang dihadapi oleh masyarakat pekerja sektor informal yang masuk dalam kategori rentan. Masyarakat rentan secara ekonomi jumlahnya sangat banyak. Kita bisa lihat data jumlah masyarakat yang bekerja di sektor informal di Indonesia pada 2019 berjumlah kurang lebih 73 juta orang masih lebih tinggi dari pekerja di sektor formal 56 juta jiwa. Masyarakat rentan tidak bisa bekerja dari rumah memandangi laptop dan computer, namun tetap menerima transferan gaji dan tunjangan dinamis yang tetap setiap bulannya. Mereka harus keluar mencari makan, otherwise mereka akan kelaparan. Atau tinggal di rumah mengikuti anjuran pemerintah untuk menghindari Covid-19, tapi kebutuhan pangannya dijamin oleh pemerintah. Begitulah kerangka logisnya. Tidak banyak pilihan yang mereka punya.

Di artikel sebelumnya sudah penulis sampaikan bahwa tentu ada kendala dan keterbatasan bagi pemerintah jika harus memenuhi semua kebutuhan warganya. Salah satunya adalah kapasitas APBN yang terbatas. Kenyataannya, jangankan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, Alat Pelindung Diri (APD) yang begitu vital bagi petugas medis di beberapa puskesmas dan rumah sakit juga masih belum tersedia. Padahal peralatan tersebut adalah senjata utama tim medis dalam menghadapi virus corona.

Ini menimbulkan pertanyaan, kemana uang negara yang 1800 triliun per tahun jika membeli APD saja kita tidak bisa. Kita tidak mau berspekulasi, tapi seharusnya ada banyak ide dan cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut, salah satunya melalui realokasi belanja. Bukan perkara sulit melakukan itu, hitung-hitungannya juga tidak terlalu rumit. Anggaran-anggaran belanja yang kurang produktif seperti belanja pengadaan barang dan jasa, dana desa, bahkan belanja pegawai juga bisa di realokasikan ke belanja yang sifatnya prioritas saat ini, yakni kesehatan dan ketersediaan pangan terutama bagi masyarakat rentan yang bekerja di sektor informal.

Dengan begitu, baru bisa kita katakan bahwa negara hadir di tengah-tengah rakyatnya. Dengan begitu, baru bisa kita katakan bahwa negara memberikan keadilan yang sama untuk setiap warga negaranya. Dan dengan begitu, baru bisa kita katakan bahwa kita sudah merdeka. Mari lawan corona, kita bisa.(***).

JustForex

Related posts