Cerita Warga Tentang Siung Timah, Nostalgia Pertanda Buka Puasa

  • Whatsapp
Menara di Kantor pusat PT Timah Tbk yang mengeluarkan suara siung. (foto:istimewa)

RAKYATPOS.COM, PANGKALPINANG– “Sssstttt, jangan bising, kelak (nanti-red) siung timah dak kedenger,” kata Ridwan menirukan ucapan orangtuanya dulu. Dia menceritakan sejak dirinya belum lahir suara sirine yang disebut siung timah ini telah akrab di telinga masyarakat Pangkalpinang dan sekitarnya terutama di bulan Ramadan.

Siung seperti ini sebagai penanda berbuka puasa dan imsak. Pria berusia 58 tahun menceritakan suara siung yang menggema menjadi tanda berbuka puasa, setelah itu baru diiringi dengan beduk dan azan.

“Kalau dulu radio kan masih jarang, TV juga jarang ya menunggu siung itulah tanda buka puasa dan menjadi pengingat Imsak. Suaranya juga besar jelas mungkin karena dulu belum seramai sekarang. Kalau sekarang sayup-sayup kedengarannya,” kata warga Gabek ini.

Masyarakat sudah sangat familiar dengan bunyi siung yang berasal dari menara kantor Pusat PT Timah. Apalagi saat bulan seperti ini raungan siung menjadi hal yang dinantikan. Siung menjadi penanda yang khas bagi masyarakat Pangkalpinang dan sekitarnya.

Baca Lainnya

Tak jelas memang sejak kapan siung ini mulai menjadi penanda berbuka puasa dan menjelang imsak. Namun, puluhan tahun siung ini telah menjadi penanda waktu berbuka masyarakat Pangkalpinang. Dalam kesehariannya siung ini berfungsi sebagai pengingat waktu masuk, istirahat dan pulang kerja bagi karyawan PT Timah.

“Ya, kita menunggu siung karena memang sudah kebiasaan, cuma sekrang ini suaranya agak sayup-sayup ini tergantung arah angin lah. Bisa dibilang aneh juga kalau enggak denger siung pas buka puasa karena sudah terbiasa dari kecil, siung ini kan duluan dibanding adzan, kadang ada juga walau sudah adzan tetap juga nunggu siung, kalau sekarang sih enak sudah ada tv,” ujarnya.

Kebiasaan menunggu siung sebagai penanda berbuka puasa juga dilakukan Rohana. Warga Kampung Opas ini merasakan siung sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan saat Ramadan seperti ini. Meski dirinya tiap hari mendengar siung timah, namun dikala Ramadan menjadi hal yang sangat spesial. Selain sebagai penanda, juga mengulang nostalgia masa lalu.

“Kalau disini jelas suaranya mungkin karena deket ya. Dari dulu buka puasa ya patokannya siung, nanti sebelum imsak bunyi lagi siungnya. Ini yang kadang mengingatkan kita untuk sahur. Biasanya anak-anak sudah nunggu di teras sebelum siung nanti kalau bunyi siung lari semua ke dalam. Sekarang anak-anak sudah besar,” katanya.

Rohana dan keluarganya bahkan belum berbuka jika belum mendengarkan siung, pernah sesekali dia terlambat berbuka karena siung yang tak berbunyi.

“Kalau belum bunyi siung timah kami belum buka, pernah dulu entah rusak atau lupa siungnya enggak berbunyi orang jadi bingung udah berbuka apa belum? Jadi kita ikutin adzan, meskipun kadang kan orang adzan setelah mereka berbuka,” ujarnya.

Baca juga: Budayawan: Siung Sebagai Fungsi Sosial

Maria salah satu warga Pasir Garam turut merasakan hal yang sama, Ia bahkan meminta anak-anaknya untuk mematikan televisi agar bisa mendengar dengan jelas suara siung.

“Kalau di Kampung kan beduk tanda berbuka puasa, kalau disini siung. Makanya kadang kita lebih nunggu siung dibanding adzan, kalau adzan kan orang sudah bebuka baru adzan. Biar kedenger jelas siungnya kalau mau berbuka anak-anak sering diingetin jangan ribut dan matikan tv,” ujarnya.

Bagi Maria suara siung ini menjadi ciri khas sendiri di Kota Pangkalpinang sebagai penanda berbuka puasa, tidak hanya di kawasan rumahnya suara siung ini juga terdengar hingga ke Selindung.

“Kalau dulu disini jelas banget, sekarang mungkin karena ramai ya. Tapi siung ini jhga kedengaran sampai ke Jalan Mentok, Jalan Koba cuma samar-samar,” katanya.

Khasnya bunyi siung timah sebagai penanda berbuka puasa, menjadi keunikan tersendiri dan menciptakan kenangan bagi sebagian orang.

Vita misalnya, warga Pangkalpinang yang kini merantau di Jakarta itu tak mendapati bunyi siung di perantauannya sebagai penanda berbuka puasa.

“Sedih ni tahun ini enggak bisa pulang, banyak yang dikangenin puasa di Bangka. Kumpul keluarga pasti, makanan khas juga, sama siung tanda kita buka puasa. Kalau disini kan patokannya adzan, kalau di rumah patokannya siung timah. Kalau lah denger siung kayak sumringah gitu setelah seharian puasa,” kata salah satu karyawan swasta ini.

Ia berharap, semoga tahun-tahun berikutnya masih bisa mendengarkan suara siung ini.

“Wah kalau kecil dulu pas siung bunyi langsung lari ke dapur, berebut itu lari-larian ke meja makan. Seru deh, bikin makin rindu,” katanya.

Musisi Jazz Indonesia, Idang Rasjidi menyebutkan siung telah menjadi bagian kenangan dan peristiwa psikologis bagi masyarakat Pangkalpinang terutama orang-orang terdahulu. Baginya, siung timah yang menggema puluhan tahun silam ini menjadi keunikan sendiri terutama di Bulan Ramadan.

“Siung bukan lagi sebagai tanda, tapi sudah menjadi bagian psikologis masyarakat. Ketika orang Pangkal berbuka itu menunggu siung, termasuk saya. Dan ini menjadi sesuatu yang unik dan mungkin bisa dibilang ciri khas ya, karena setau saya hanya di Pangkalpinang siung itu menjadi pertanda buka puasa dan Imsak, kalau orang kan biasanya beduk, adzan,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya siung juga memiliki makna menyatukan, selain sebagai kepentingan perusahaan dalam kesehariannya, siung timah ini menjadi penanda berbuka puasa saat Ramadan dan yang mendengarkan ini bukan hanya orang muslim tapi juga agama lain.

“Disinilah siung ini menunjukkan menyatukan, ketika di Bulan Ramadan siung ini untuk mengingatkan berbuka puasa dan Imsak, maka orang Budha, Kristen dan agama lainnya juga tau ini tanda itu dan mereka menerima bunyi ini dan saling menghormati, nilai-nilai toleransi ini yang harus tetap kita jaga,” katanya.

Maestro Jazz ini bahkan seakan bernostalgia saat ditanyai kenangannya soal siung, kata dia siung menjadi hal yang paling dinantikan di saat puasa.

“Waktu kecik bunyi siung memang ditunggu-tunggu dan kita sudah akrab karena menjadi bagian psikologis masyarakat ketika berbuka dengar siung, ini menjadi ciri khas dan itu sangat amat melekat dan membekas bagi orang-orang tua, kalau kita pulang kampung bukan hanya sekedar bernostalgia tapi kita juga kangen dengan suasananya juga. Ya jelas saya merindukan juga, bahwa ini bagian yang tidak terpisahkan dari psikologis kami apalagi saat berbuka puasa,” tutupnya. (***)

Related posts