Bahaya Stigma Sosial Corona di Masyarakat

  • Whatsapp
SURIANTO, S.Sos
Anggota Iprahumas Indonesia

Virus corona jenis baru (COVID-19) telah menghebohkan dunia, karena sebarannya terus meluas dengan cepat ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Karena sebaran yang luas dan cepat, Covid-19 dianggap sebagai sebuah wabah dan bencana yang dialami dunia.

Informasi terkini COVID-19 di dunia hingga Selasa (13/5/2020) tercatat 4.058.252 kasus di 215 negara dengan jumlah kematian 281.736 orang. Sementara di Indonseia tercatat pada Selasa (13/5/2020), sebanyak14.749 orang dinyatakan positif COVID-19 dengan jumlah pasien yang sudah sembuh 3.063 orang. Mereka tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia. Sedangkan di Bangka Belitungl sendiri tercatat terdapat sebanyak 29 pasien terkonfirmasi positif, 1 orang meninggal dan sembuh sebanyak 7 orang.

Mereka yang terserang virus Covid-19 ini tidak memandang status sosial. Semua kalangan bisa terinfeksi virus Covid-19. Beberapa pejabat, tokoh publik dan artis pun telah terinfeksi Covid-19.

Penyebaran yang begitu cepat dan meluas ini, membuat wabah ini ditakuti. Tidak hanya virusnya saja yang membuat masyarakat takut, tetapi juga stigma sosial corona yang membuat masyarakat semakin takut. Stigma sosial corona bisa menjadi berbahaya dan mengancam semangat kebersamaan dan pencegahan penyebaran Covid-19 di masyarakat.
Stigma sosial adalah kondisi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang karena menjadi pasien atau menyandang penyakit tertentu. Stigma sosial corona bisa berbentuk label negatif terhadap seseorang, dijauhkan atau dikucilkan, bahkan bisa mengalami diskriminasi di lingkungan masyarakat.

Baca Lainnya

Munculnya stigma sosial corona terhadap seseorang, bisa memperparah penyebaran Covid-19 di masyarakat. Karena, seseorang yang bergejala, alih-alih melaporkan gejala yang dialaminya, seseorang justeru takut dan mencoba menyembunyikan kondisinya.

Hadirnya stigma sosial corona, membuat orang yang bergejala enggan melaporkan kodisinya. Hal ini karena ada rasa takut yang belebihan dicap negatif atau dikucilkan di masyarakat. Padahal, melaporkan diri terhadap kondisi yang bergejala dapat menghambat penyebaran Covid-19 di masyarakat.

ODP dan orang yang bergejala dapat melaporkan keadaan yang dialaminya ke tim kesehatan di daerahnya. Ini dilakukan demi keselamatan bersama dan memutuskan mata rantai penyeberan Covid-19. Orang yang bergejala, jika melaporkan diri ke tim kesehatan, maka semakin cepat semakin baik agar bisa ditangani oleh tenaga medis agar bisa sembuh.

Namun, karena ketakutan akan stigma sosial yang negatif ini membuat seseorang menyembunyikan kondisinya. Seseorang yang bergejala atau terkonfirmasi positif, bukan seseorang yang menyandang sesuatu aib yang harus ditakuti atau dikucilkan di masyarakat. Seseorang yang terkonfirmasi positif merupakan seseorang yang terkena bencana penyakit. Seseorang yang terkonfirmasi positif, justeru seharusnya mendapat motivasi dari masyarakat sekitarnya agar dapat segera sembuh, bukan mengalami stigma negatif di masyarakat.

Mengapa Stigma sosial corona ini bisa terjadi? Hal ini bisa muncul karena kurangnya informasi yang diterima masyarakat tentang Covid-19 dan adanya ketakutan yang dialami oleh masyarakat jika berhubungan dengan ODP, PDP dan orang yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19, dan menyebabkan masyarakat langsung terkena Covid-19. Sebab lainya adalah rasa panik yang berlebih-lebihan.

Pada bulan April lalu, sebagai mana kita ketahui, ada masyarakat di suatu desa menolak pemakaman jenazah pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Masyarakat takut jenazah bisa menyebarkan virus Covid-19 kepada masyarakat sekitar. Hal ini sangat disayangkan karena sikap panik dan ketakutan masyarakat yang berlebihan. Selain itu juga disebabkan masyarakat kurang mendapat informasi memadai tentang Virus Covid-19 dan bagaimana penanganan pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Padahal, virus Covid-19 tidak bisa menyebar dari pasien yang telah meninggal. Dan jenazah pasien Covid-19 dimakamkan sesuai SOP WHO yang sangat aman, sehingga tidak akan menyebarkan virusnya kepada masyarakat sekitar desa tempat pemakaman.

Munculnya stigma sosial negatif seperti di atas dirasakan akan berbahaya bagi pasien dan kehidupan bermasyarakat. Stigma sosial corona ini akan membuat orang semakin takut melaporkan kondisi kesehatan, membuat orang patah semangat untuk sembuh, bisa membuat orang takut diperiksa bahkan kabur saat dikarantina.

Stigma sosial corona juga bisa berakibat memperbesar risiko penyebaran yang membuat pemerintah mengalami kesulitan untuk mengendalikan penyebaran virus, menyebabkan pasien mengalami tekanan psikis serta rasa ketakuatan yang berlebihan.

Stigma sosial corona ini akan sangat berbahaya, karena seseorang takut untuk memeriksakan diri. Padahal dengan memeriksakan diri jika bergejala maka kita dapat menekan penyebaran Covid-19 di masyarakat, dan pemerintah juga bisa lebih mudah melakukan tracking agar virus tidak menyebar ke banyak orang di masyarakat.

Stigma sosial corona atau Covid-19 harus dihentikan. Masyarakat harus diberikan informasi yang cukup tentang Covid-19 agar masyarakat tidak mudah panik, tidak melakukan diskriminasi kepada pasien dan keluarga pasien yang positif Covid-19. Dengan informasi yang memadai, maka masyarakat akan berani melaporkan diri jika bergejala dan penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan/ditekan, sehingga pandemi Covid-19 segera berakhir.

Masyarakat juga diharapkan dapat disiplin diri dan kesadaran kolektif untuk mentaati protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Covid-19 seperti menerapkan pola hidup sehat, membersihkan lingkungan, rajin melakukan cuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan orang. Masyarakat juga diminta untuk selalu menggunakan masker kain jika harus beraktivitas diluar rumah serta tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Yuk mulai sekarang kita stop stigma sosial corona. Mari bersama kita beri semangat dan saling gotong royong agar pasien yang terkena bisa segera bisa sembuh. Mari berikan juga dukungan kepada tim medis dan tenaga kesehetan (tim garda terdepan) agar selalu diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas. Bersama Kita Bisa Lawan Covid-19. Dan jadilah pahlawan kemanusiaan dengan melindungi sesama.(***).

Related posts