AZAZIL

  • Whatsapp


Oleh: Galuh Lara Yudhistira

Dia terlihat begitu gagah ketika nyalanya memerah atau bahkan ia sering dicap pembakar yang keras dan menghancurkan, tapi ia tak pernah merasa sedih begitupun aku, aku tak pernah merasa terancam saat berada didekatnya. Kurasa ia sudah mencuri hatiku dengan kehangatan dan cahayanya yang terang .

Read More

Diluar sana orang-orang memandangnya dari intensitas cahaya yang dimilikinya, mereka akan senang ketika ia termasuk dalam tingkatan kombusi sehingga dapat digunakan untuk keperluan suatu bahan bakar, dan ia akan dimusuhi ketika tingkatannya menjadi pembakar yang keras. Bagaimanapun penilaian orang-orang kepadanya aku tetap mengaguminya sebab ia adalah api yang tak lupa akan hakekatnya ia adalah kehangatan bagi siapapun yang mampu menyelami sisi terbaiknya.

Kami sering menghabiskan waktu bersama, bercerita mengenai berbagai hal. ia pun bercerita tentang perjalanan hidupnnya ketika ia terbentuk dari pertemuan udara dengan berbagai reaksi kimia, bahkan ia memiliki tiga saudara, masing-masing lahir dari intensitas yang berbeda-beda, yaitu biru, putih dan hitam. Saudara-saudaranya dapat ku jumpai diberbagai tempat dibumi ini kecuali Hitam, ia adalah yang paling panas diantara mereka, bertemu tidaknya aku dengan hitam bergantung pada diriku sendiri, tapi ia berharap aku tak usah bertemu sebab Hitam tidak begitu bersahabat, aku sendiri tak begitu peduli dengan yang lainnya sebab aku hanya tertuju pada dirinya saja. Ia sendiri adalah api merah yang menjilat-jilat dan gagah yang berasal dari lava gunung.

Apabila gunung sedang marah, ia akan merasa cemas sebab magma yang terkandung dibawah gunung yang marah itu akan memaksanya untuk keluar dan membuatnya mengalir menjadi lahar yang seolah-olah lenyap bersama material dipermukaan bumi yang konon dapat membuat letusan yang siap menghancurkan apa saja yang ada didekatnya. Walau begitu aku tidak membencinya karena aku tau ia tidak menghendaki akan berbuat seperti itu.

Aku selalu menemani petualangan hidupnya, menikmati merdu kobarannya yang memecahkan sunyi dirimba raya. Terkesima oleh gemuruh suaranya ketika melompati ratusan meter gunung bermega. Cercah cahayanya menari menghilangkan segala gelap dan nelangsa dihati. Diajaknya aku melihat tempat yang pernah ia lalui sebelum bertemu denganku. Ku ikuti langkahnya dari belakang dengan tenang, dari kejauhan terlihat samar air terjun melompat dengan beraninya. Burung-burung silih berganti terbang ditengah birunya cakrawala kepak-kepaknya menyanyikan romansa, ini adalah suguhan alam yang begitu sempurna bagiku. Waktu berlalu , cakrawala yang semula biru kini berubah menjadi jingga, surya sedang mempersiapkan diri untuk tenggelam rupanya.

Related posts